SEPUTAR CHINA


Cina didesak bebaskan aktivis

Posted in Uncategorized oleh Seputar China pada Desember 24, 2008

Aktivis Liu Xiabo ditahan awal bulan Desember

Lebih dari 150 penulis dan aktivis hak asasi manusia dari seluruh dunia menulis sepucuk surat terbuka kepada Presiden China, Hu Jintao, untuk meminta pembebasan seorang pegiat demokrasi Cina.

Liu Xiabo, mantan gurubesar yang pernah meringkuk dalam di penjara setelah aksi unjukrasa di Lapangan Tienanmen tahun 1989, ditangkap awal bulan ini.

Belum lama ini dia ikut menanda-tangani piagam yang meminta perluasan demokrasi dan hak asasi di Cina.

Wartawan BBC Richard Hamilton melaporkan, surat itu ditanda-tangani oleh para ahli Cina yang terkemuka, pegiat hak asasi, dan penulis dari seluruh dunia, termasuk Salman Rushdie, Nadine Gordimer, Wole Soyinka, dan Seamus Heaney.

Surat itu mendesak Perdana Menteri Cina untuk menghormati komitmen dalam menjamin hak-hak warga negara yang mengungkapkan pendapat mereka secara damai.

Nama, Liu Xioabo tidak pernah terdengar lagi sejak dia diambil dari rumahnya pada tanggal 8 Desember.

Dia merupakan pengkritik pemerintah dan berkampanye untuk reformasi melalui artikel-artikelnya di internet.

Awal bulan ini dia ikut bersama 300 penasehat hukum, seniman, dan akademisi yang menanda-tangani piagam yang menyerukan demokrasi serta hak asasi yang lebih besar.

Uni Eropa dan Amerika Serikat juga meminta agar dia dibebaskan.

Seorang jurubicara Kementrian Luar Negeri Beijing mengatakan, masalah itu akan diselesaikan dalam kerangka hukum dan menolak campur tangan asing atas masalah dalam negerinya.

Kondisi Liu Xiabo tidak diketahui setelah mantan dosen itu ditahan oleh polisi pada 8 Desember.

http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2008/12/081223_chinarelease.shtml

Sepuluh Alasan Menolak Olimpiade

Posted in Uncategorized oleh Seputar China pada April 16, 2008

10 ALASAN MENOLAK OLIMPIADE BEIJING
Menindas Tibet
Sejak 1959, penguasa komunis China telah menindas rakyat Tibet. Sebanyak 150.000 rakyat dan biksu Tibet tewas dan ribuan kuil-kuil Buddha hancur akibat penindasan yang terjadi selama puluhan tahun. Pertumbuhan ekonomi Tibet yang mencapai 12 persen per tahun tidak bisa dinikmati rakyatnya, sebaliknya etnis lain (Han) lebih merasakan kue pembangunan itu. Menjelang Olimpiade Beijing, tekanan terhadap Tibet semakin intensif. Kekerasan yang tejadi belum lama ini di Lhasa yang menewaskan 140 orang adalah buktinya.

Menekan Kristen
Sejak akhir 1980-an, setidaknya 2,7 juta diantara 60 juta pengikut Kristen Family Church telah ditahan, dan 440 ribu dihukum kerja paksa dan pendidikan kembali. Bahkan lebih dari 10 ribu disiksa hingga mati, lebih dari 20 ribu menjadi cacat. Selain disiksa, para pemimpin gereja diseret ke pengadilan. Banyak juga gereja yang dihancurkan. Selama tahun 2000 telah dirusak sebanyak 450 tempat ibadah yang dianggap ilegal. Menjelang Olimpiade, tekanan terhadap mereka semakin kuat, sejumlah pimpinan Kristen ditangkap dan tahan.

Menumpas Muslim
Pada 2002, kaum muslim Uyghurs di Xinjiang barat dicap sebagai kelompok teroris. Sejak itu, penindasan semakin intensif dilakukan dengan cara memanggil imam dan menutup mesjid sampai menghukum mati ribuan orang setiap tahun. Kaum Muslim tidak diperbolehkan menghadiri sekolah agama atau datang ke mesjid sampai umur 18 tahun. Kegiatan dan ekspresi agama dilarang ketat di sekolah-sekolah. Mereka dilarang berdoa, memakai pakaian atau symbol agama, serta berpuasa. Menjelang Olimpiade terjadi beberapa kali penyerangan terhadap kaum muslim di Xinjiang yang menewaskan puluhan orang.

Menyiksa Falun Gong
Sejak ditindas pada 20 Juli 1999, sedikitnya 3.086 pengikut Falun Gong dipastikan tewas. Jumlah itu bisa lebih besar mengingat tertutupnya informasi di sana. Lebih mengerikan, mereka yang ditahan di kamp-kamp konsentrasi telah diambil organ tubuhnya untuk memenuhi industri transplantasi. Laporan David Matas & David Kilgour dari Kanada memperkuat dugaan itu. Kebiadaban itu masih berlangsung hingga kini meski secara resmi telah dilarang. Penangkapan besar-besaran terhadap pengikut Falun Gong juga terjadi menjelang Olimpiade, sejak awal 2008 ini sudah 1000 orang lebih ditahan dan puluhan tewas.

Menekan Aktivis
Aktivis HAM semakin menghadapi tekanan yang meningkat menjelang Olimpiade. Baru-baru ini aktivis HAM Hu Jia yang memperjuangkan kebebasan beragama dan kesehatan HIV dihukum penjara 3,5 tahun atas dakwaan subversi. Sejumlah pengacara juga menjadi sasaran represi. Pengacara terkenal, Gao Zhisheng yang membela Falun Gong sudah setahun lebih menjalani tahanan rumah. Tahun lalu, polisi menangkap pengacara HAM Guo Feixiong dan menjatuhkan hukuman 5 tahun penjara. Meskipun penguasa China telah membebaskan sejumlah tahanan Tiananmen, tapi jumlah aktivis HAM yang ditahan masih banyak.
Memasung Pers
Semua media harus tunduk di bawah kendali partai. Selain media cetak dan elektronik milik partai, pengendalian secara ketat dilakukan terhadap media swasta termasuk internet. Laporan tahunan indeks kebebasan pers 2007 versi Reporters Without Borders menunjukan kebebasan pers di China tetap menduduki 10 peringkat terburuk. Ia berada diurutan ke-163 dari 169 negara dunia. Menjelang Olimpiade, kontrol terhadap pers dan internet justru semakin ketat. Dalam setahun ini ratusan koran, radio dan website telah ditutup secara paksa.

Memperkeruh Darfur
Amnesty Internasional melaporkan pada 2005, Beijing mengapalkan 200 truk militer menuju Sudan. Bantuan militer ini memperkuat pasukan milisi bentukan pemerintah Sudan, serta memperparah perang saudara di Darfur sejak 2003, lebih dari 200.000 rakyat tewas akibat genosida ini, dan 2,5 juta orang harus meninggalkan tempat tinggalnya. Pemimpin Gerakan Keadilan dan Kesetaraan, Khalil Ibrahim menuduh Beijing memiliki andil besar dalam krisis di Darfur karena memberikan senjata dan mendukung pemerintah Sudan.

Mengakangi Burma
Pemerintah Beijing mendukung junta militer Myanmar yang represif terhadap rakyatnya sejak berkuasa pada 1988, dengan membantu lebih dari 2 juta dolar AS untuk militernya, beberapa juta dolar AS dukungan ekonomi, termasuk basis infrastruktur dan berbagai pelatihan. Pada Januari 2007 lalu, China bersama dengan Rusia dan Afrika Selatan telah memveto sangsi PBB kepada Myanmar, sehingga membuat junta militer semakin kuat membabi buta dalam menghadapi gerakan demokrasi. Dukungan Beijing terhadap rejim Myanmar sepenuhnya demi kepentingan investasinya atas sumber daya alam di negeri itu.

Merusak Lingkungan
Berbagai studi dan foto-foto satelit membuktikan bahwa tingkat nitrogen dioksida di Beijing sangat tinggi, yang sangat berbahaya bagi kesehatan para atlet. Saat ini, China bahkan mengambil alih posisi Amerika Serikat sebagai penghasil karbon dioksida terbesar sehingga mendorong pemanasan global. Tidak puas menghancurkan lingkungan di dalam negeri, kini China melahap hutan alam Indonesia. Sedikitnya 300.000 meter kubik kayu merbau asal Papua diseludupkan ke China setiap bulannya. Permintaan kayu ilegal ini semakin meningkat seiiring dengan tingginya aktivitas pembangunan sarana dan prasana Olimpiade.

Menggusur Rakyat
Survei Centre on Housing Rights and Evictions di Jenewa menyebutkan lebih dari satu juta penduduk Beijing telah digusur secara paksa dengan alasan untuk pembangunan sarana dan prasarana Olimpiade, dan jumlah ini akan bertambah sampai 1,5 juta pada 2008 ini. Di luar itu, para pejabat partai telah menyita lahan warga untuk membangun pabrik-pabrik tetapi tidak memberi ganti-rugi yang semestinya kepada para petani. Warga yang menolak, atau menuntut ganti rugi yang layak harus berhadapan dengan represi aparat.

Boikot Olimpiade Bergema dalam Aksi Tibet

Posted in Uncategorized oleh Seputar China pada April 1, 2008

Oleh: Ananta Dharma/ Era Baru

Masyarakat Indonesia kembali mendesak pemerintah China untuk segera menghentikan kekerasan terhadap Warga Tibet; serta meminta kepada Dewan Keamanan PBB untuk segera mengel;uarkan resolusi menyikapi masalah Tibet. Mereka juga mendesak Komite Olimpiade Internasional untuk mencabut mandat kepada pemerintah China sebagai tuan rumah penyelenggara olimpiade tahun 2008, serta meminta kepada pemerintah Indonesia untuk segera mengajukan nota protes atas kekerasan yanng terjadi di Tibet dan mempertimbangkan kembali pengiriman para atlit ke Olimpiade di Beijing Agustus mendatang.

Demikian pernyataan sikap yang dikeluarkan oleh Masyarakat Indonesia Untuk Kebebasan Tibet dalam aksinya di depan Kedubes China Jakarta pada Senin (31/3). Aksi yang diikuti sekitar 150 orang ini melibatkan sejumlah elemen masyarakat, seperti dari LBH Jakarta, Kontras, Yayasan Atap Dunia, Global Human Right Efforts (Ghure), Solidamor, Hikmah Budhi, Urban Poor Consorcium (UPC), Anand Ashram, penganut/ biksu Tantra Tibet dari Bandung, organisasi mahasiswa dan lain-lain. Mereka menilai kekerasan yang terjadi di Lhasa Tibet akibat provokasi dari militer China, yang menewaskan 140 orang itu adalah kejahatan terhadap kemanusiaan yang harus ditentang dan segera diakhiri menjelang Olimpiade.

“Free Tibet, No Human Right, No Olympics” demikian moto mereka, yang juga tertera dalam kaos hitam yang dikenakan para peserta aksi. Selain itu mereka menggelar sejumlah spanduk dan poster yang berisi kecaman terhadap rejim komunis China. “Free Tibet, Free Falun Gong, Free Uygur Moslem, Free Christian”, adalah salah satu banner yang terpasang dalam kegiatan itu. Dalam orasinya sejumlah tokoh, seperti Koordinator Kontras Usman Hamid, dan Anand Krishna mendukung perjuangan rakyat Tibet serta mengutuk pelanggaran HAM dan penindasan yang masih terjadi di China menjelang Olimpiade. Aksi ini juga dimeriahkan dengan kehadiran seorang artis, Opie Anderesta yang melakukan gerakan tarian halus dengan musik khas ala Tibet. Ada juga teatrikal yang menggambarkan kekejaman tentara China di Tibet.

Dalam pernyataan sikapnya, mereka juga mengacu pada Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia yang telah menyatakan dengan tegas bahwa semua orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak-hak yang sama. Kesemuanya dikaruniai akal dan hati nurani dan menginginkan pergaulan satu sama lain dalam persaudaraan. “Oleh karena itu, tidak diperkenankan adanya perlakuaan kejam dan penyiksaan terhadap dan penghinaan terhadap setiap orang. (Pasal 1 dan Pasal 5) Namun demikian kekerasan yang dilakukan Pemerintah Republik Rakyat China (RRC) di Tibet saat sekarang jelas menyimpangi prinsip-prinsip kemanusiaan yang diatur dalam DUHAM.”

Sebagai tuan rumah pemerintah RRC juga diminta memenuhi standar penyelenggaraan pesta olah raga dunia sesuai dengan piagam olimpiade Internasional. Pada piagam ini tuan rumah diharuskan menjunjung tinggi, bukan saja sportifitas di pertandingan, tetapi menghargai perbedaan dan hak-hak dasar manusia. Hal pertama adalah negara penyelenggara berusaha menciptakan kehidupan yang bahagia, pendidikan yang baik dan peduli terhadap etika dasar. Kedua, negara penyelenggara mempertimbangkan promosi perdamaian di masyarakat dengan pemelihataan harga diri manusia. Ketiga menegaskan bahwa olahraga adalah sebuah HAM dan praktik untuk saling memahami persahabatan, solidaritas dan keadilan. Keempat mengharuskan penghapusan diskriminasi yang tidak cocok dengan mekanisme olympiade.

Menurut mereka, prinsip-prinsip diatas adalah ukuran kelayakan menjadi tuan rumah (penyelenggara) olimpiade. Dengan demikian pemerintah RRC dapat dikategorikan telah menyimpangi standar tersebut. “Bentuk kekerasan berupa pembatasan ekspresi dan berkumpul masyarakat Tibet dibatasi, begitupun dengan kasus-kasus lainnya seperti penyiksaan terhadap praktisi Falun Gong, kelompok Kristiani, Muslim Uyshgur dan kasus Pembantaian manusia di lapangan Tiananmen tahun 1989. Belum lagi keterlibatan pemerintah RRC dalam kerusuhan di Darfur Sudan yang telah mengundang simpati dunia,” tegasnya.

Berdasarkan kenyataan tersebut diatas, mereka menganggap sudah selayaknya negara yang tidak melindungi, memenuhi dan menghormati hak asasi manusia (HAM) seperti pemerintah China tidak layak menjadi tuan rumah sebuah kegiatan Internasional seperti Olympiade. “Sudah seharusnya seluruh masyarakat dunia, terutama para atlit untuk menentang pelanggaran HAM dan memboikot penyelenggaraan Olimpiade di RRC demi tegaknya nilai-nilai kemanusiaan di Negeri Bambu,” demikian mereka mengakhiri pernyataan sikapnya.

Forum di Taipei Mendesak Dunia Memboikot Olimpiade Beijing

Posted in OLIMPIADE,Uncategorized oleh Seputar China pada Februari 27, 2008

Pembicara utama adalah David Kilgour, mantan Sekretaris Negara Kanada Urusan Asia Pasifik, dan senator Australia Andrew Bartlett membuka “Forum Internasional: HAM di China dan Olimpiade 2008” di Hotel Grand Hyatt, Taipei pada tanggal 21 Februari 2008. Lebih dari 100 tokoh politisi dan aktivis HAM dari 12 negara berkumpul untuk berunding, bagaimana memotivasi kekuatan global untuk memboikot Olimpiade Beijing.
Acara pembukaan dimulai dengan surat ucapan selamat dari Presiden Taiwan, Chen Shuibian. Presentasi diberikan oleh para narasumber yang meliputi: Shieh Jhy-wey, Menteri Kantor Informasi Pemerintahan dan Tung Chen-yuan, wakil ketua Dewan Urusan Daratan Tiongkok. Disamping itu, terdapat Edward McMillan-Scott, wakil presiden Parlemen Eropa, dan Dana Rohrabacher, anggota Kongres AS, mengirim video pidato mereka yang menyerukan kepada dunia agar menaruh perhatian terhadap catatan HAM di China.
William Lai, ketua CIPFG (Koalisi Penyelidikan Penganiayaan terhadap Falun Gong di China) cabang Asia, menyatakan bahwa banyak tokoh penting di dunia sedang menentang Olimpiade Beijing, termasuk Pangeran Charles dan sutradara Stephen Spielberg. Menurut Lai, rejim komunis Bejing terus-menerus melanggar HAM rakyat China dan bersikap mengancam keamanan dunia. Shieh Jhy-wey menyebutkan dalam pidatonya bahwa setiap orang harus turut menegakkan HAM. Tung Chen-yuan mengatakan ia memuji keputusan Stephen Spielberg untuk mundur dari penasihat artistik Olimpiade Beijing.
Rekaman pidato McMillan-Scott menekankan bahwa rejim komunis China merupakan pelanggar HAM paling buruk di dunia saat ini, dan Olimpiade seharusnya tidak dijadikan alat propaganda untuk menutupi kesalahannya. Menurutnya, orang-orang seharusnya tidak berdiam diri sementara rejim ini terus melakukan kebiadaban, khususnya penindasan terhadap Falun Gong.
McMillan-Scot menghubungkan Olimpiade Beijing dengan Olimpiade Berlin 1936. Ia mengatakan bawa rejim Beijing berusaha menutupi kejahatan mereka dengan memanfaatkan Olimpiade seperti Hitler menyembunyikan pembunuhan massal Nazi terhadap kaum Yahudi. Ia menegaskan bahwa orang-orang seharusnya tidak lagi acuh tak acuh dan membiarkan sejarah terulang kembali, atau mentolerir manipulasi Beijing atas opini publik dunia
David Kilgour membicarakan tentang kejahatan terhadap kemanusiaan oleh rejim komunis China yang merampas organ ribuan praktisi Falun Gong yang masih hidup. Kilgour juga menyinggung dukungan rejim ini atas pembantaian 400.000 orang Sudan di Darfur. Ia mengatakan penindasan Beijing terhadap Falun Gong dan kelompok religius lainnya berlawanan dengan Piagam Olimpiade seperti yang telah dilakukan oleh rejim Nazi. “Kita harus menekan rejim komunis China untuk menaati Piagam Olimpiade,” demikian katanya.
Senator Australia, Andrew Bartlett mengatakan bahwa dunia seharusnya tidak memisahkan pelanggaran HAM China dengan kekuatan ekonomi negara. Ia menekankan, bahwa sebagai warga dunia, orang-orang perlu menyuarakan bagi para korban pelanggaran HAM sebelum tibanya Olimpiade Beijing.

(The Epoch Times, 25 Februari 2008)

Ajakan Boikot Beijing 2008 Meluas

Posted in Uncategorized oleh Seputar China pada Februari 25, 2008

Arya Perdhana – detikSport

Amsterdam – Seruan pemboikotan Olimpiade Beijing 2008 terus meluas. Terakhir, seorang anggota Parlemen Belanda juga menganjurkan pemboikotan acara pembukaan dengan dalih catatan Hak Asasi Manusia Cina.

Joel Voordewind, seorang anggota Parlemen Belanda asal Partai Uni Kristen, mendesak pemerintah negara-negara di dunia mendukung boikot itu serta meminta perusahaan-perusahaan swasta menggunakan kekuatan finansial serupa untuk menekan Cina.

Persoalan HAM masih menjadi isu utama yang “dijual” para penganjur boikot. Persoalan Tibet serta keengganan Cina menekan Sudan (sekutu dekat Cina) dalam kasus HAM di Darfur adalah contoh-contoh isu utama mereka.

“Adalah sangat mungkin untuk mengikuti Olimpiade tanpa mengikuti pesta pembukaan,” ujar Voordewind seperti dilansir YahooSports. “Upacara semacam itu hanya bertujuan membuat Cina menang.”

Namun ajakan Voordewind dianggap angin lalu oleh Pemerintah negaranya sendiri. Menlu Belanda Maxime Verhagen menegaskan tidak akan mendukung boikot. Pemerintah Belanda mengaku terus berdialog dengan Cina tentang isu-isu HAM.

Sebelumnya, pewaris tahta Kerajaan Inggris, Pangeran Charles, sudah mengutarakan niatnya untuk tidak mengikuti Olimpiade. Charles mengatakan hal itu adalah bentuk dukungan kepada pemimpin Tibet, Dalai Lama, yang kini mengasingkan diri akibat tekanan Cina.

Steven Spielberg kemudian juga menyampaikan sikap serupa. Sutradara kondang AS itu mengundurkan diri dari posisi penasihat artistik untuk acara pembukaan. Spielberg memberi alasan bahwa Cina membiarkan pelanggaran HAM di Darfur.

Karena itu, Voordewind juga melontarkan ide membuat sebuah tempat untuk mendiskusikan persoalan-persoalan HAM. Meski tahu akan ditentang, Voordewind berkata, “Bila (Pemerintah) Cina menentangnya, berarti mereka menentang HAM.”
(arp/ian)

http://www.detiksport.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/02/tgl/20/time/060541/idnews/896752/idkanal/82

Obor HAM Estafet Global: Suluh Itu Tak Berkobar di China

Posted in Uncategorized oleh Seputar China pada Januari 24, 2008

4 Januari 2008 – 17:50 WIB
Kurniawan Tri Yunanto

VHRmedia.com, Jakarta – Menjelang diselenggarakannya Olimpiade Beijing 2008 dan mengingat masih buruknya penegakan hak asasi manusia di China, masyarakat internasional menggalang dukungan melalui ‘Obor HAM Estafet Global’ mendesak rezim pemerintahan China mengakhiri segala ketidakadilan dan kesewenang-wenangan.

Api Obor HAM tersebut diambil dari sumber api di Athena 9 Agustus 2007, kemudian di bawa berkeliling Eropa, Australia, Indonesia dan beberapa negara Asia yang kemudian berakhir di Hongkong pada 20 Agustus 2008.

Juru bicara Solidaritas Indonesia untuk Rakyat China di Gelora Bung Karno Jakarta, Jumat (4/1) mengatakan, obor HAM menjadi lambang gerakan moral menentang penindasan di Cina menjelang pelaksanaan Olimpiade. Dari Jakarta, obor HAM tersebut akan di bawa menuju Yogyakarta, Surabaya, Bali dan berakhir di Batam. Sebelum sampai Indonesia, obor HAM tersebut telah mengelilingi 100 kota di 5 benua di dunia.

“Obor HAM Estafet Global merupakan kampanye internasional yang menyerukan diakhirnya pelanggaran HAM yang terjadi pada rakyat China,” ujar Fajar Pratikno. “Selama masih ada pelanggaran HAM, China tidak layak menyelenggarakan Olimpiade.”

Koordinator Kontras Usman Hamid yang ikut berpartisipasi dalam acara penyambutan Obor HAM mengakui pentingnya perlindungan HAM di dunia khususnya di Cina. “Acara ini sangat penting, untuk mengingatkan kepada masyarakat bahwa kondisi penegakan HAM di China semakin buruk dan memerlukan dukungan,” katanya.

Selama ini perhatian dunia tertuju pada pertumbuhan ekonomi China yang pesat. Namun, kemajuan ekonomi tersebut tidak diimbangi dengan semangat demokrasi dan pluralisme. Praktek keji operasi pengambilan organ tubuh tahanan dalam keadaan hidup di kamp-kamp konsentrasi untuk memenuhi kebutuhan industri transplantasi organ masih terjadi hingga hari ini. Diskriminasi dan intimidasi disertai tindak kekerasan terhadap penganut kepercayaan Falun Gong merupakan salah satu kejahatan besar yang dilakukan pemerintah China terhadap warga negaranya. (E1)

http://www.vhrmedia.com/vhr-news/berita-detail.php?.g=news&.s=berita&.e=1165

Apakah kebijakan satu anak Cina berhasil?

Posted in Uncategorized oleh Seputar China pada September 27, 2007

Kebijakan satu anak di Cina, yang berhasil mengendalikan kelahiran sekitar 400 juta anak, sepertinya masih akan tetap dipertahankan.

Wartawan BBC, Michael Bristow, melaporkan sejak kebijakan itu diterapkan pada tahun 1979, Cina berhasil mengendalikan laju pertumbuhan penduduknya. Kebijakan satu anak Cina diberlakukan dengan pendekatan persuasi, namun banyak kasus-kasus pemaksaan aborsi yang dilaporkan dalam menerapkan kebijakan itu.

Dan setelah hampir 30 tahun, pemerintah Cina tampaknya masih belum akan melonggarkan kebijakan itu secara resmi, walau belakangan muncul laporan-laporan di sejumlah kawasan pedesaan, kebijakan itu tidak lagi diterapkan dengan ketat.

Banyak warga Cina yang mulai berpendapat kebijakan itu merupakan kekeliruan dan akan menyebabkan masalah kependudukan yang serius di masa depan. Namun tak kalah banyaknya juga orang tua yang merasa senang karena hanya memiliki satu anak saja.

Dipertanyakan
Pemerintah Cina, dalam sebuah konperensi pers awal tahun 2007, menganggap kebijaksanaan itu sebagai sebuah keberhasilan.

“Karena Cina telah bekerja keras selama 30 tahun, kami kini memilik jumlah penduduk lebih sedikit 400 juta jiwa,” kata Zhang Weiqing, Menteri Kependudukan Nasional dan Ketua Komisi Keluarga Berencana.

“Dibandingkan dengan negara berkembang lain, yang memiliki jumlah penduduk besar, kami menyadari kebijakan ini mentransformasikan kami setengah abad ke depan,” tambahnya.

Sebuah tim ilmuwan Cina yang independen bersama ilmuwan internasional, yang menyelesaikan studinya tahun ini, sepakat bahwa kebijakan itu membuat Cina berhasil mengendalikan pertumbuhan penduduknya.

Namun ketua tim, Prof. Wang Feng dari Universitas California, mengatakan terkendalinya laju pertumbuhan penduduk lebih disebabkan menurunnya tingkat kelahiran tahun 1970-an dan bukan karena kebijakan satu anak.

Pada masa tahun 1970-an, Cina mulai mendorong orang untuk menunda usia perkawinan, memperbesar jarak antar kelahiran, dan juga memiliki anak lebih sedikit.

“Tingkat kelahiran total, yaitu jumlah anak yang dilahirkan seorang ibu sepanjang hidupnya, berkurang dari 5 menjadi 2,” kata Prof. Wang.

Dan pengurangan itu terjadi sebelum diterapkannya kebijakan keluarga berencana dengan satu anak pada tahun 1979.

Satu Anak di Perkotaan
Turunnya tingkat kelahiran itu juga antara lain disebabkan oleh meningkatnya kondisi sosial dan ekonomi.

Di negara Asia lain, seperti Thailand dan Korea Selatan, modernisasi telah menyebabkan kaum ibu memiliki lebih sedikit anak, walau tidak melaksanakan kebijakan keluarga berencana yang ketat.

Bagaimanapun Profesor Wang mengakui kebijakan satu anak sejak tahun 1979 itu membantu penurunan tingkat kelahiran lebih lanjut, dan juga berperan dalam perubahan sikap. “Banyak orang yang tidak suka lagi punya banyak anak. Orang menerima kebijakan itu,” katanya.

Hal itu umumnya terlihat di kawasan perkotaan. Banyak ibu yang diwawancarai BBC mengatakan senang dengan hanya memiliki 1 anak saja. Zhao Hui, ibu dari seorang anak perempuan Zhang Jin’ao yang berusia 4 tahun, mengatakan dia tidak pernah pingin punya anak lagi.

“Satu anak sudah cukup. Saya amat sibuk bekerja,” kata ibu yang berusia 38 tahun dan sehari-harinya bekerja di sektor perumahan. “Bukan karena masalah keuangan dan juga bukan karena peraturan pemerintah, tapi saya tetap ingin punya 1 anak,” tambahnya. Dia mengatakan banyak temannya yang juga berpikiran sama.

Aborsi paksa
Namun banyak juga kasus yang dilaporkan tentang kebijakan yang dipaksakan kepada perempuan, yang tidak sepenuhnya ingin punya satu anak.

Seorang pegiat HAM, Chen Guangcheng, dipenjara tahun lalu karena mengungkapkan tentang hal yang disebutnya sebagai pekerja kesehatan yang terlalu bersemangat di Linyi, Propinsi Shandong.

Dia mengatakan para perempuan di sana dipaksa untuk menempuh aborsi pada masa kehamilan yang sudah lama dan kemudian disterilkan.

Cina juga menghadapi masalah kependudukan yang meluas karena kebijakan keluarga berencana. Pejabat Cina mengatakan tingkat kelahiran saat ini antara 1,7 hingga 1,8 untuk setiap perempuan, di bawah tingkat 2,1 yang diperlukan untuk mempertahankan jumlah penduduk yang stabil.

Namun para pengamat kependudukan di luar negeri mengatakan tingkat kelahiran yang sebenarnya lebih rendah lagi, yaitu 1,5. Hal ini akan mendorong meningkatnya jumlah penduduk yang lebih tua sementara angkatan kerja makin sedikit untuk menopang penduduk tua, dan juga tidak seimbangnya proporsi anak laki-laki dan perempuan.

Prof. Wang Feng mengusulkan agar Cina mulai melonggarkan kebijakan itu untuk mengatasi masalah tersebut.

Dalam sidang Kongres Rakyat Cina pada Bulan Maret, sebanyak 29 anggotanya dewan penasehat menyarankan orang tua di Cina boleh memiliki lebih banyak anak. Namun saran itu tidak mendapat perhatian, dan paling tidak sampai tahun rencana pembangunan lima tahun pada 2010 nanti, tidak akan ada perubahan kebijakan.

http://www.bbc.co.uk/indonesian/indepth/story/2007/09/070920_satuanak.shtml

Bukti Terbaru Mendukung Dugaan Pengambilan Organ di China

Posted in Uncategorized oleh Seputar China pada September 24, 2007

(Falundafa.or. id) Pada pagi hari tanggal 11 September 2007, Koalisi Penyelidikan Penganiayaan terhadap Falun Gong (CIPFG) mengadakan konferensi pers di Wellington, ibukota New Zealand. Para pembicara di konferensi pers tersebut mengungkapkan bukti terbaru yang mendukung dugaan pengambilan organ praktisi Falun Gong yang masih hidup di China untuk perdagangan transplantasi.

David Kilgour mengumumkan daftar bukti yang terdapat pada “Pengambilan Organ Berlumuran Darah (Bloody Harvest)” versi terbaru dari Laporan Dugaan Pengambilan Organ Praktisi Falun Gong di China

Konferensi pers

Para pembicara yang menghadiri konferensi pers terdiri dari mantan Sekretaris Negara Kanada (Urusan Asia Pasifik), David Kilgour, pengacara HAM internasional terkenal David Matas, juru bicara CIPFG New Zealand dan pengacara Carole Curtis, anggota CIPFG dan pengacara HAM New Zealand Richard MacLeod, akademikus ilmu pengetahuan sosial dan anggota dewan Auckland Dr. Catherine Casey, dan seorang korban penganiayaan terhadap Falun Gong di China, Guohua Huang.

David Matas menjelaskan kepada media tentang pertemuan ia dan Kilgour dengan Menteri Luar Negeri dan Perdagangan, berharap untuk menyerukan kepada pemerintah New Zealand untuk mengambil tindakan agar mengakhiri penindasan Partai Komunis China (PKC) terhadap Falun Gong, termasuk perampasan organ dan perdagangan organ praktisi Falun Gong yang masih hidup. Ia mengatakan bahwa tekanan luar terhadap PKC akan menjadi lebih efektif untuk mengubah situasi.

Matas juga berbicara tentang pembunuhan massal terhadap orang Yahudi oleh Nazi, dan nyatanya pada waktu itu, secara umum ada yang tidak mempercayai dugaan tersebut. Ini berarti bahwa hanya karena sesuatu sulit dipercaya, bukan berarti bukan kebenaran.

David Kilgour memperkenalkan laporan terbaru “Pengambilan Organ Berlumuran Darah,” dimana sudah diterjemahkan ke dalam 17 bahasa. Ia mendiskusikan salah satu dari 33 bentuk bukti yang mendukung dugaan tersebut, dan kesaksian dari istri seorang mantan ahli bedah yang turut serta didalam pengambilan organ praktisi Falun Gong. Lebih dari itu, ia menjelaskan rekaman percakapan melalui telepon yang ditujukan ke berbagai rumah sakit China yang mengatakan bahwa praktisi Falun Gong merupakan sumber persediaan organ. Ini mewakili sebuah bentuk bukti yang kuat.

Kilgour juga menjelaskan bahwa pejabat website dari Kedutaan Besar China di New Zealand menyatukan keterangan yang salah ditujukan untuk memfitnah Falun Gong. Disamping itu, ia menyingkap keluar kepada media, laporan polisi Kanada dengan jelas menggambarkan usaha diplomat China untuk menghasut komunitas untuk membenci terhadap praktisi Falun Gong. Selain itu, ia menjelaskan kepada para peserta konferensi pers bahwa sebanyak 17 negara di seluruh dunia yang mana mereka berhubungan dengan praktisi Falun Gong, mereka menemukan bahwa para praktisi mempunyai pendidikan yang sangat baik yang percaya pada prinsip “Sejati-Baik- Sabar,” dan tidak menunjukkan pelanggaran dalam bersikap. Tetapi di China, ratusan ribu praktisi Falun Gong dipaksa dimasukkan ke dalam “kamp pendidikan ulang buruh,” tanpa melalui prosedur hukum yang sah.

Dewan anggota Auckland Dr. Catherine Casey mengatakan bahwa ia sangat terkejut dan tidak percaya pada tahun lalu ketika ia mendengar pidato Kilgour tentang pengambilan organ oleh PKC. Auckland dan kota Guangzhou adalah kota kembar sejak tahun 1989, dan Dr. Casey mengetahui dari laporan bahwa kota Guangzhou termasuk diantara kota-kota yang terlibat didalamnya. Ia mengemukakan bahwa setelah pemilihan, ia akan meminta Walikota Auckland untuk mengangkat masalah ini dengan rekan pemerintahan di Guangzhou.

Murid-murid internasional dari Guangzhou menyumbang pendapatan $50 juta per tahun untuk kota Auckland. Namun demikian, Dr. Casey tidak mengkhawatirkan dengan mengangkat masalah HAM akan mendapatkan ancaman ekonomi dari PKC. Lebih lanjut, ia percaya warga Guangzhou juga akan diingatkan atas masalah pengambilan organ secara hidup-hidup. Pembicaraan Dr. Casey sangat bagus sehingga mendapat tepuk tangan meriah dari para peserta.

Banyak media datang meliputi konferensi pers ini, termasuk TV1, The Dominion Post, NZ Radio, Live Radio, NZ Herald, dan lain-lain.

Chinese: http://minghui. ca/mh/articles/ 2007/9/13/ 162581.html
English: http://www.clearwis dom.net/emh/ articles/ 2007/9/14/ 89529.html

China Hukum Wartawan Akibat Berita Bakpao Palsu

Posted in Uncategorized oleh Seputar China pada Agustus 14, 2007

Akibat mengungkap kasus bakpao aspal, seorang reporter Beijing TV diganjar hukuman satu tahun penjara. Inilah bukti media massa di China dikendalikan secara ketat oleh Partai komunis.

Pengadilan China pada Minggu, 12 Agutus kemarin, telah memvonis seorang wartawan televisi dengan hukuman penjara selama satu tahun. Terdakwa dituduh telah merekayasa berita yang menyebut para pembuat suatu jenis kue (bakpao) di Beijing menggunakan kardus untuk isinya. Terpidana juga didenda seribu yuan (Sekitar Rp1,2 juta). Kantor berita Xinhua melaporkan, Zi Beijia dihukum karena “merusak reputasi komoditi”.

Zi, wartawan paruh waktu untuk televisi Beijing, ditangkap setelah dia mengungkap berita tentang produk China yang bermutu sangat rendah. Menurut berita Zi, para pembuat kue bola kukus (bakpao) menggunakan kardus yang dihaluskan dengan cara direndam dalam cairan soda api lalu diberi aroma daging babi. Laporan itu menimbulkan kehebohan, apalagi China sedang disorot dunia internasional karena mengekspor makanan dan produk lainnya yang terbukti berbahaya atau mutunya sangat rendah. Atas tekanan rejim komunis China, Beijing TV telah mengemukakan berita tersebut adalah bohong dan mereka minta maaf.

Sebelumnya, tak lama setelah heboh berita tersebut, puluhan koran pemerintah China telah berikrar memberantas berita yang dianggap bohong. Sedikit-dikitnya 60 pemimpin koran yang dikendalikan oleh Partai komunis China (PKC) telah menandatangani deklarasi “memberantas habis berita bohong di semua koran dan membangun kembali kredibilitas media,” tulis kantor berita Xinhua mengutip kantor Administrasi Pers dan Penerbitan. Deklarasi itu menyebutkan semua wartawan harus teguh dalam mencari kebenaran fakta, waspada terhadap berita bohong, serta memastikan bahwa sumber beritanya otentik.

Namun, masyarakat umum percaya bahwa berita produk bakpao asli tapi palsu itu dan mengatakan penarikan berita adalah rekayasa pemerintah untuk membungkam berita yang berdampak buruk. Sebab selama ini, media massa di China dikendalikan secara ketat oleh Partai Komunis.
(Diolah dari berita Antara)

Beijing Mengawasi LSM Asing Sebelum Olimpiade 2008

Posted in Uncategorized oleh Seputar China pada Juli 31, 2007

Terkait dengan Pesta Olahraga Olimpiade Beijing 2008, agen intelijen China telah meningkatkan upaya untuk mengumpulkan informasi mengenai orang asing yang mungkin melakukan demonstrasi, guna mencegah hal yang dapat mencuri perhatian atas pesta olah raga dunia itu.

Ahli keamanan dan konsultan yang menguasai operasi ini telah menyatakan bahwa agen China yang bertanggung jawab atas pelaksanaan intelijen dan kelompok-kelompok peneliti kebijakan sedang dalam proses pengumpulan informasi mengenai organisasi-organisasi asing yang dianggap berpotensi mengancam ‘reputasi Beijing’, dan lingkupnya tidak dibatasi pada organisasi HAM yang telah lama mengkritik pemerintahan Beijing.

Organisasi yang menjadi target meliputi kelompok Kristen Katolik yang telah lama berharap untuk mengakhiri penindasan China terhadap kegiatan-kegiatan agama, para aktivis lingkungan yang geram terhadap pemanasan global yang makin memburuk, juga para aktivis yang menuntut agar Beijing menggunakan kekuasaannya dalam pembelian minyak dari Sudan untuk membantu mengakhiri krisis HAM di Darfur.

Ini benar-benar operasi pengumpulan informasi yang terluas terhadap “organsisasi-organisasi non pemerintah” yang menentang Beijing. Tujuan tentu saja untuk meniadakan kemungkinan demonstrasi dan kegiatan politik lainnya selama pertandingan Olimpiade Beijing. Dengan menjadi tuan rumah Olimpiade, digunakan oleh Beijing bukan saja untuk mendorong popularitas domestik kepemimpinan Partai Komunis China (PKC), tetapi juga ingin memperbaiki citranya di dunia internasional.

Seseorang yang bekerja sebagai panitia penyelenggara Olimpiade Beijing yang tidak ingin disebut namanya mengatakan, “Panitia penyelenggara prihatin terhadap segala potensi kegiatan demonstrasi, termasuk kegiatan anti-Amerika.” Ia menambahkan, “PKC ingin tahu LSM kategori mana saja yang akan datang ke Beijing dan apa kemungkinan rencana mereka.”

Lingkup operasi pengawasan yang dilakukan oleh Beijing kali ini jauh lebih luas dibanding sebelumnya, dan kebanyakan kegiatan yang dilakukan oleh organisasi-organisasi asing ini adalah legal di sebagian besar negara di seluruh dunia.

Dalam pada itu, operasi pengawasan itu mungkin juga menimbulkan beberapa resiko terhadap Beijing. Sumber informasi telah mengindikasikan bahwa rejim Komunis China sedang berencana untuk menindas kegiatan demonstrasi dengan menolak permohonan visa dan meningkatkan kekuatan kepolisian. Bagaimanapun juga, ini bisa mendorong liputan berita negatif yang membuat Komite Olimpiade Internasional dan perusahaan-perusahaan sponsor gelisah.

Scott Kronick, Presiden Hubungan Publik Global Ogilvy (Ogilvy Public Relations Worldwide), China, menyatakan bahwa ketika dikonsultasikan oleh seorang pejabat Panitia Penyelenggara Olimpiade Beijing mengenai kemungkinan untuk menghadapi protes terhadap obor estafet, apa yang sebenarnya ada di benaknya adalah bagaimana pemerintah akan menghadapi demonstrasi itu.

Kronick menunjukkan, “Menurut saya setiap orang harus mengerti bahwa bahkan kelompok pemrotes akan melakukan hal ini. Apa yang harus anda khawatirkan adalah bagaimana anda dapat bereaksi terhadap hal itu dan bagaimana anda akan berekasi terhadap hal itu.” Di antara klien-klien Kronick salah satunya adalah Adidas.

Baik Kementrian Keamanan Publik, yang mengawasi Departemen Kepolisian China, maupun panitia penyelenggara Olimpiade Beijing menolak untuk memberikan komentar atas masalah ini, dan nomor telepon Kementrian Keamanan Publik, yang mana merupakan agen intelijen terkemuka di China, dan Kantor Informasi Dewan Negara juga dirahasiakan.

http://en.epochtimes.com/news/7-7-26/58071.htm

Laman Berikutnya »