SEPUTAR CHINA


Bao Zunxin, Tokoh Demokrasi China, Meninggal Dunia

Posted in Politik oleh Seputar China pada Oktober 31, 2007

Tokoh pejuang demokrasi China, Bao Zunxin dikabarkan telah meninggal dunia pada 28 Oktober 2007 lalu. Dia pernah dipenjara setelah berperan dalam mengorganisir aksi protes di lapangan Tiananmen, Beijing pada 4 Juli 1989 silam. Menurut rekannya, Chen Ziming, dan sahabat lainnya, Bao, 70 tahun, meninggal di Beijing akibat sakit yang dideritanya.

Pada akhir tahun 1980-an, sebagai seorang periset di Akademi Ilmu Pengetahuan Sosial China, Bao memainkan peranan penting dalam satu gerakan intelektual yang menyerukan perlunya demokrasi diperbesar di China. Gerakan tersebut berpuncak pada aksi-aksi protes demokrasi pada1989 yang ditumpas oleh militer China, yang menyebabkan ratusan bahkan ribuan orang tewas. Tindakan penumpasan itu kemudian disusul dengan aksi-aksi demonstrasi secara damai yang dilakukan para mahasiswa di jantung ibukota China.

Bao ditahan setelah peristiwa Tiananmen dan dijatuhi hukuman penjara lima tahun pada 1991 dengan tuduhan `menghasut propaganda kontra-revolusi`, namun kemudian dibebaskan dengan tebusan setelah menjalani selama 11 bulan. “Setelah dia dibebaskan dari penjara dia terus bekerja untuk kemajuan demokrasi di China dan membantu mengorganisasikan sejumlah kampanye surat terbuka kepada pemerintah,” kata Chen.

Bao juga menerbitkan buku di luar China, termasuk `Demokrasi dan Pencerahan` dan `Sisi dalam gerakan Demokrasi 1989.` Pada Agustus lalu, Bao menjadi salah satu dari 37 intelektual terkemuka yang menandatangani satu surat terbuka yang menyerukan kepada pemerintah agar menghentikan `Penolakan sistematik terhadap Hak Asasi Manusia (HAM)` pada saat Beijing menjadi tuan rumah Olimpiade 2008. Bao juga menyerukan
Kepada Beijing untuk melaksanakan hak asasi dan demokrasi sebelum diadakannya Pesta Olahraga Dunia itu.
(Sumber: AsiaNews)

Arah Reformasi Politik China

Posted in Politik oleh Seputar China pada Oktober 30, 2007

Oleh: Fadjar Pratikto*

Opini Koran Tempo, 30 Oktober 2007

Sebuah reformasi politik dalam skala terbatas telah dilakukan oleh Presiden China Hu Jintao. Sejumlah pimpinan China generasi tua, lengser dari keanggotaan lembaga tertinggi partai, Komite Pelaksana Politbiro Partai Komunis China (PKC). Keputusan tersebut dihasilkan diakhir Kongres PKC Ke-17. Beberapa nama yang merupakan generasi baru mulai mengisi kursi Politbiro. Sebuah langkah perombakan elite partai yang sudah diperkirakan sebelumnya.

Perombakan tersebut tentu cukup signifikan dalam konstelasi politik nasional China. Bukan saja semakin memperkuat posisi Hu Jintao dalam mengamankan kekuasaannya sampai lima tahun ke depan, tetapi juga ada secercah harapan akan terjadinya reformasi politik yang lebih luas. Sebagai Ketua PKC sekaligus ketua Komisi Militer, Hu memiliki kesempatan besar untuk menentukan arah reformasi politik tanpa reserve dari lawan politiknya di partai.

Generasi Baru
Sebelum Kongres PKC ke-17, ada anggapan bahwa kekuasaan Hu Jintao dibayang-bayangi oleh pendahulunya (mantan Presiden Jiang Zemin) yang masih berpengaruh kuat di partai dan pemerintah. Wakil Presiden Zeng Qinhong (68), Kepala Komite Disiplin PKC Wu Guanzheng (69), Kepala Keamanan PKC Luo Gan (72), dan Wakil Perdana Menteri Wu Yi, yang dijuluki Wanita Besi, yang pensiun dari Politbiro dikenal sebagai orang dekat Jiang. Zeng Qinhong bahkan dianggap sebagai pesaing berat Hu dalam pengaruh politik.

Selama ini, mereka mengendalikan kekuasaan yang sangat besar. Pengaruh Zeng terlalu kuat, dialah yang mengontrol asset dan kader partai. Wu Guanzheng, pejabat yang bertanggung jawab atas kedisiplinan partai, dan Luo Gan selaku ketua komite politik dan undang-undang yang bertanggung jawab atas keamanan nasional dan merupakan operator penindasan warisan Jiang terhadap kelompok-kelompok politik dan spiritual termasuk salah satu korbannya adalah pengikut Falun Gong, serta yang mengendalikan pers dan internet.

Dikikisnya sisa-sisa klik Jiang tersebut, telah melengkapi pembersihan yang dilakukan oleh Hu Jintao sebelumnya. Menjelang Kongres, Menteri Keuangan Jin Renqing yang juga dekat dengan Jiang diberhentikan meski berita resmi menyebutkan dia mundur karena alasan wanita simpanan. Sesungguhnya dia sedang menghadapi investigasi atas perannya dalam memobilisir uang negara untuk menindas Falun Gong. Sebanyak triliunan Yuan uang negara disalahgunakan demi politik Jiang itu. Jauh sebelumnya Sekretaris PKC Shanghai, Chen Liangyu yang dekat dengan Jiang, juga diadili karena kasus korupsi.

Kini, generasi baru pemimpin China masa depan telah dipilih untuk mengantarkan proses transisi kekuasaan pada 2012. Dua kader Hu, Li Kegiang (52), Ketua PKC Provinsi Liaoning; dan Xi Jinping (54), Ketua PKC Shanghai masuk di jajaran Politbiro. Kepala organisasi partai, He Guoqiang dan Menteri Keamanan Publik, Zhou Yongkang, adalah dua anggota baru lainnya. Presiden Hu Jintao sendiri, menjanjikan persatuan politik dan modernisasi.

Demokrasi Semu
Pada awal September lalu, Perdana Menteri China Wen Jiabao mengatakan pada Forum Ekonomi Dunia di Dalian, China bahwa negara itu harus mendorong reformasi politik dan demokrasi. Jika tidak, reformasi ekonomi akan menjadi sia-sia. Namun reformasi politik yang dimaksudkan itu tetap dalam perspektif ideologis “harus mengikuti arah politik dan kepemimpinan partai”, serta dengan tegas menolak demokrasi Barat. Hu Jintao pernah menegaskan “demokrasi ala China” sebagai satu-satunya jalan menuju masyarakat ideal.

Liberalisme ekonomi yang dicanangkan ternyata tidak mampu merubah bagunan politik monolitik.Argumen pemikiran determinisme ekonomi tak terbukti dalam konteks China masa kini. Faktor politik di bawah PKC menjadi penentu, dan kondisi ekonomi merupakan hal yang dipengaruhi. Pertumbuhan ekonomi di bawah panglima partai, membuat China menjadi “Raksasa Baru”—terlepas kelemahan fundamental ekonominya. Hal mana relevan dengan model “Negara Lunak” (Soft State Model) yang dikembangkan Gunnar Myrdal (1968), semakin otoriter suatu rejim, akan semakin cepat pertumbuhan ekonominya.

Ekonomi politik yang dikembangkan China dengan model rejim Etatisme Kapitalis, meski berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan stabilitas nasional yang kuat, namun mengabaikan hak asasi dan hak politik rakyatnya. Konsekuensinya pembangunan ekonomi justru telah mempertajam kesenjangan sosial, pelanggaran HAM, dan kemiskinan. Disatu sisi, kota-kota pesisir melambung tinggi dengan bangunan- yang megah dan pendapatan yang meningkat, sementara di pedesaan mayoritas warganya hidup dalam kemiskinan. Tidak heran jika konflik sosial semakin luas selama beberapa tahun ini.

Sikap represif penguasa China terhadap lawan-lawan politiknya dan kelompok-kelompok yang dianggap berbahaya justru bertentangan dengan semangat reformasi politik pasca kongres. Apalagi pers sebagai salah satu pilar demokrasi sangat dikekang, ternasuk sensor terhadap internet dan SMS. Selama penguasa China tidak memberi kebebasan berserikat dan pers, serta melakukan pelanggaran HAM lainnya, reformasi politik yang dilancarkan oleh Hu hanyalah bersifat semu, dan itu justru akan menjadi bumerang bagi kepemimpinannya. Kekecewaan para aktivis dan ketidakpuasan rakyat China selama ini adalah indikasinya.

Di tengah tekanan dunia internasional yang menguat menjelang Olimpiade 2008 akibat buruknya kondisi HAM– diantaranya kasus pengambilan organ praktisi Falun Gong, adanya gerakan Obor HAM Estafet Global, serta membesarnya arus mundur dari keanggotaan PKC yang kini jumlahnya sudah mencapai lebih dari 27 juta orang, mau tidak mau pemimpin China mesti mereformasi sistem politiknya. Bagaimanapun kekuatan ekonominya tidak akan membuatnya bergejolak jika mengadopsi prinsip pluralisme dan demokrasi. Sistem multipartai bahkan terbukti menjadi kekuatan supra-struktur negara-negara maju. Inilah momentum bagi Hu untuk meninggalkan sistem partai tunggal.

———————
* Penulis adalah pengamat China, relawan di Global Human Rights Efforts (GHURE)

Forum “Memahami Tiongkok Masa kini” di Australia

Posted in Politik oleh Seputar China pada September 28, 2007

Oleh: Chen Xinning

(Falundafa.or. id) Tanggal 12 September 2007, LSM Free China menyelenggarakan sebuah forum yang judul “Memahami Tiongkok Hari ini” di Power House di Brisbane, Australia. Pembicara tamu pada forum itu adalah mantan Anggota DPR Kanada dan Sekretaris Negara (Asia-Pasifik) David Kilgour, pengacara HAM Kanada David Matas, dan Direktur Eksekutif Association for Asia Research (Amerika) Zhang Erping.

David Matas: Falun Gong adalah Korban Utama dari Masalah HAM Di Tiongkok
Pada forum itu, pengacara David Matas berkata bahwa untuk memahami Tiongkok saat ini, seseorang terlebih dahulu harus memahami masalah HAM Tiongkok. Seiring dengan pertumbuhan yang semakin kuat dan mempunyai banyak hubungan dengan negara-negara lain, pihak berwenang Beijing tetap menginjak-injak HAM dan masalahnya tidak ada peningkatan.

David Matas, pengacara HAM terkenal

David Matas dan David Kilgour mempublikasikan sebuah laporan investigasi yang menyimpulkan bahwa organ praktisi Falun Gong di Tiongkok diambil secara paksa. Matas berkata bahwa pengambilan organ tubuh secara tidak sah dimulai tahun 2000 dan saat ini masih berlangsung. Banyak dari organ tubuh korban dijual kepada orang asing dan sisa tubuhnya dikremasi untuk menghilangkan bukti fisik. Matas berpikir bahwa masalah Falun Gong menjadi prioritas ketika mempertimbangkan masalah HAM di Tiongkok karena dua per tiga dari korban penyiksaan di kamp kerja paksa Tiongkok adalah praktisi Falun Gong, menurut sebuah laporan PBB.

Menurut Matas, Partai Komunis China (PKC) menggunakan media untuk memfitnah Falun Gong dan memblokir internet. PKC juga menganiaya orang-orang yang membela Falun Gong, contohnya pengacara Tiongkok terkenal Gao Zhisheng. PKC tetap menyalahgunakan kekuasaan politiknya dan meng-cap Falun Gong mempunyai maksud politik dan “anti-China” . Namun, Falun Gong bukan gerakan politik, juga bukan suatu kelompok organisasi, dan tidak punya agenda politik. Adalah PKC yang memenjarakan, menyiksa dan membunuh orang-orang Tionghoa dan juga mencemari lingkungan di Tiongkok. PKC adalah kekuatan anti-China yang sesungguhnya.

Matas juga menambahkan bahwa PKC telah memperluas penganiayaan Falun Gong ke belahan dunia yang lain, dimana Kedutaan Besar China dan Konsulatnya melanjutkan pengintaian terhadap praktisi. Menurut seorang mantan konsulat China di Sydney, Australia, 15 dari 38 anggota staf di konsulat dipekerjakan penuh untuk mengawasi dan mengumpulkan informasi mengenai praktisi Falun Gong di Australia. Seseorang dapat melihat Konsulat China di seluruh dunia menaruh materi propaganda anti Falun Gong di website mereka. Dalam kesimpulannya, David Matas menekankan bahwa komunitas dunia harus menekan PKC untuk memperbaiki HAM di Tiongkok.

David Kilgour: Saya Sungguh-sungguh Menyarankan Semua Orang untuk Berdiri dan Berbicara Untuk Praktisi Falun Gong
David Kilgour menunjukan bahwa PKC telah memerintahkan medianya untuk memfitnah Falun Gong dan mencabut hak asasi dasar para praktisi sejak 1999. Seluruh media kabupaten didorong untuk membuat propaganda palsu untuk memfitnah Falun Gong dan menyesatkan media asing mengenai masalah ini.

David Kilgour, mantan Sekretaris Negara Kanada (Asia Pasifik)

Kilgour berbicara mengenai tingkah laku praktisi Falun Gong. Dia berkata bahwa tiada seorang praktisi pun, yang ditangkap di Lapangan Tiananmen ataupun di rumah yang melakukan kejahatan. Suatu hari saat dia mencoba mengambil sebuah uang koin yang ada di sebuah taman di Athena, Yunani, seorang praktisi mengatakan padanya agar dia tidak mengambil apa yang bukan miliknya. Dia tidak dapat percaya ada orang yang mempunyai moral tinggi seperti itu dianiaya di Tiongkok di abad 21.

Kilgour berkata bahwa PKC telah membunuh ribuan praktisi, dan menjual organ tubuh mereka ke luar negeri untuk mengambil keuntungan. Untuk mempersiapkan Olimpiade 2008, PKC memaksa lebih dari sejuta penduduk Beijing untuk meninggalkan rumah mereka. Orang-orang ataupun kelompok-kelompok yang memboikot Olimpiade Beijing 2008 bukan menentang Olimpiade, namun berharap untuk menghentikan penganiayaan dan kekejaman di Tiongkok. Kilgour menyerukan kepada semua orang untuk berbicara bagi praktisi Falun Gong di Tiongkok.

Zhang Erping: Perkembangan Internet Menerobos Blokade PKC dan Pengendalian Informasi
Seiring dengan perkembangan cepat internet hari ini, banyak ahli merasa ragu, mengapa Beijing menghabiskan banyak uang untuk memblokir dan mengontrol internet. Zhang Erping, seorang praktisi Falun Gong dan Direktur Eksekutif Association for Asia Research, berkata bahwa itu karena corong-corong media dikendalikan oleh pemerintah di Tiongkok, dan internet menjadi satu-satunya saluran dimana orang-orang dapat memperoleh informasi. Internet merupakan media cepat, mudah dan tidak mahal serta mempunyai keuntungan dalam berbagi informasi secara langsung, jadi, ini menjadi suatu ancaman terhadap pengendalian PKC atas informasi.

Zhang berkata bahwa PKC tidak hanya tidak mematuhi Deklarasi HAM Universal yang ditanda-tanganinya dan mempunyai hukum sendiri untuk melindungi kebebasan berbicara menurut Undang-undang, namun juga menciptakan 40 undang-undang baru untuk mengawasi komunikasi dan kebebasan berbicara.

Zhang berbicara mengenai “Proyek Perisai Emas”, suatu pengamanan tingkat tinggi untuk menyensor website-website tertentu. Dia juga menyebutkan bahwa PKC menyewa lima puluh ribu polisi internet untuk berpatroli dan mengawasi pertukaran informasi di internet. PKC juga menyiapkan 700 Pusat Pengawasan Internet di kabupaten. Diantara barang-barang yang disensor di Tiongkok, buku “Sembilan Komentar mengenai Partai Komunis” menduduki urutan pertama, disusul Falun Gong, dan Tragedi 4 Juni di Lapangan Tiananmen. Gereja Kristen bawah tanah, media Barat seperti BBC, VOA dan Wikipedia juga disensor.

Zhang juga menunjukan bahwa software gratis yang dikembangkan di Amerika dengan sukses menembus blokade PKC dan orang-orang di luar Tiongkok harus memperkenalkan kepada lebih banyak pengguna internet di Tiongkok mengenai software gratis ini dan membantu menyelamatkan mereka yang ditangkap karena aktivitas internet legal mereka. Zhang berpikir ada suatu kebutuhan untuk secara legal menghukum perusahaan-perusaha an yang menjual teknologi dan peralatan kepada diktaktor Tiongkok.

Para Peserta: Forum ini Membantu Kami untuk Memahami Sifat Jahat PKC
Terna dari Nepal berkata bahwa forum ini menyediakan banyak informasi dan memperluas wawasannya. Terna telah mendengar mengenai Falun Gong namun tidak tahu mengenai penganiayaan kejam tersebut. Dia berpikir forum ini berhasil dan membantu orang-orang yang perduli akan ekonomi Tiongkok, memahami keyakinan teguh orang Tionghoa.

James Mackay dari Irlandia berkata bahwa tiga peneliti pembicara membuat dia memahami situasi di Tiongkok saat ini – sesuatu yang perlu diketahui dunia. Mackay terkejut karena tidak ada seorangpun yang mencoba menghentikan kekejaman PKC.

Helene Muller, seorang siswa jurusan studi Asia, berkata bahwa hak asasi seringkali dilupakan di dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Setelah forum ini, dia berpikir orang-orang harus lebih perduli mengenai hak asasi di Tiongkok. Dia terkejut dengan pengalaman praktisi Falun Gong dan merasa bahwa dia harus membawa lebih banyak teman kuliah ke forum ini.

John, pembawa acara stasiun radio setempat, berkata bahwa stasiun radionya mendukung demokrasi dan kebebasan berbicara. Beberapa minggu yang lalu, dia mewawancarai beberapa praktisi Falun Gong setempat. Setelah datang ke forum ini, dia berpikir bahwa pemerintah Australia perlu lebih banyak memperhatikan hak asasi di Tiongkok.

Paul, seorang ahli biologi angkatan laut, berkata bahwa semua orang harus mempunyai hak asasi, dan sayangnya rakyat di Tiongkok tidak punya. Paul menemukan bahwa sulit dipahami mengapa kelompok damai seperti Falun Gong dilihat sebagai masalah utama oleh pemerintah Tiongkok dan dianiaya.

Chinese: http://minghui. ca/mh/articles/ 2007/9/17/ 162873.html
English: http://www.clearwis dom.net/emh/ articles/ 2007/9/19/ 89685.html

Hu Jintao Memegang Kendali atas Beberapa Agen Kunci China

Posted in Politik oleh Seputar China pada September 25, 2007

Oleh Shi Yu
Epoch Times Staff, 21 September 2007

Suasana tegang di Lapangan Tiananmen tepat sebelum Kongres Nasioal Ketujuhbelas. (Getty Images)

Kantor Umum Komite Sentral Partai Komunis China (PKC) baru-baru ini mengumumkan bahwa Ling Jihua, yang dikenal sebagai anggota dari faksi Hu Jintao, akan menggantikan Wang Gang sebagai direktur Kantor Umum. Para analis percaya bahwa penggantian ini menunjukkan suatu pergeseran kekuasaan utama di dalam kepemimpinan pusat dan suatu perimbangan baru antara kubu Hu Jintao dan Jiang Zemin.

Perkembangan baru ini datang setelah Hu menetapkan seorang Menteri Keamanan Nasional yang baru dan menggantikan mantan direktur Biro Pengawalan Sentral PKC You Xigui, yang dianggap sebagai orang dekat dan pengikut terpercaya Jiang Zemin.

Juga terdapat laporan bahwa teori “Pandangan Pembangunan Ilmiah” Hu mungkin akan ditulis dalam Konstitusi PKC saat Kongres Nasional Ketujuhbelas PKC. Sementara di kubu lainnya, kekuasaan faksi Jiang telah menyusut. Putra Jiang, Jiang Mianheng tidak berhasil masuk ke lingkaran dalam Kongres Ketujuhbelas. Berbagai sumber memperkirakan hal ini sebagai kemenangan permainan Hu ini dalam ronde terakhir dari pergulatan politik tersebut.

Ling Jihua menjadi Kepala Kantor Umum Komite Sentral PKC
Xinhua Net melaporkan pergantian personil penting ini pada tanggal 20 September 2007. Mereka yang telah terbiasa dengan situasi politik PKC mengatakan bahwa direktur Kantor Umum adalah posisi kunci di dalam arena politik China, karena dia terlibat baik dalam pembuatan keputusan maupun urusan-urusan penting para pucuk pimpinan PKC, termasuk keamanan pribadi.

Seringkali direktur Kantor Umum juga ditunjuk untuk memimpin Komite Pelaksana Para Agen Sentral PKC, yang mana direktur tersebut bisa ditugaskan untuk memimpin Kementrian Front Persatuan, Kementrian Propaganda, dan Kementrian Urusan Dalam.

Tangan Kanan Hu
Ling Jihua berasal dari Pinglu, Provinsi Shanxi. Ia adalah wakil direktur Kantor Pusat Liga Pemuda Komunis China dan Menteri Propaganda Liga Pemuda Komunis. Sebelum promosi terbarunya, ia adalah wakil direktur Kantor Umum.

Sejak Hu menjadi anggota Politbiro PKC di tahun 1992, Ling Jinghua telah mengatur kantor Hu, termasuk mengatur jadwal kerja Hu, pertemuan dalam negeri dan internasional, serta kehidupan sehari-hari Hu. Ia dianggap sebagai tangan kanan Hu.

Kekuasaan Hu Dimantapkan
Ketika Hu menjadi Sekretaris Jenderal PKC setelah Kongres Keenambelas pada tahun 2002, Wang Gang, kemudian menjadi direktur Kantor Umum, selama pemerintahan Jiang masih bertahan. Hu tidak membuat penyesuaian apapun sampai sekarang. Para analis percaya bahwa ini menandakan suatu dasar kekuasaan yang lebih kokoh bagi Hu.

Meng Xuenong Dipromosikan
Pada awal September, ajudan terpercaya Hu lainnya, Meng Xuenong, mantan Wakil Walikota Beijing, telah dipromosikan menjadi Gubernur dan Wakil Sekretaris Komite Provinsial Provinsi Shanxi.

Sepanjang krisis SARS pada tahun 2003, Meng, yang pada saat itu menjabat sebagai walikota Beijing, telah dicopot dari posisinya. Pendapat publik meyakini bahwa demi untuk mencopot ajudan kepercayaan Jiang, Zhang Wenkang, yang menjabat sebagai Wakil Menteri Kesehatan Publik saat itu, Hu tidak punya pilihan selain mencopot Meng juga.

Kini kembalinya kejayaan Meng dianggap sebagai akibat langsung dari pengaruh Hu menaklukan Jiang.

Karir Politik Jiang Mianheng Mungkin Berakhir
Dua perubahan utama terhadap daftar para perwakilan Kongres Partai ke-17 telah mengejutkan kepegawaian PKC—sekutu terpercaya Jiang, You Xiqui tidak terpilih dan putra Jiang, Jian Mianheng telah tersingkir. Orang luar menduga kekalahan pemilihan Jiang Mianheng mengindikasikan karir politiknya berakhir.

Majalah Open yang bermarkas di Hong Kong melaporkan bahwa para pejabat di Shanghai sering mendengar desas-desus bahwa Jiang Mianheng tengah dalam penyelidikan karena masalah disipliner dan telah dilarang bepergian ke luar negeri karena ia terlibat dalam banyak kejahatan ekonomi. Awal tahun ini, berbagai media luar negeri mencatat bahwa website-website berita utama China, termasuk baido.com, tidak memblokir berita-berita yang bersifat menghina seperti “Jiang Mianheng menjadi tersangka” dan “Jiang Mianheng ditangkap.”

Teori-teori Hu Akan Ditulis dalam Konstitusi PKC
Perubahan penting lainnya pada Kongres Partai Ke-17 bulan depan akan mencantumkan “Konsep Pembangunan Ilmiah,” ideologi Hu untuk pembangunan ekonomi, di dalam Konstitusi Partai. Para analis menduga Hu mendesak agar ideologinya ditaruh ke dalam Konstitusi Partai selama Kongres ke-17 untuk menekankan bahwa ia akan berjalan pada jalurnya sendiri—sedikit berbeda dengan Jiang, yang mengorbankan lingkungan demi ekonomi. Seorang ahli mengatakan tindakan ini menandakan bahwa Hu telah mengakhiri serangannya terhadap Jiang pada tingkat ideologi dan bersiap untuk mengakhiri Jiang sekali dan untuk selama-lamanya.

Hu Siap Untuk Penahanan Jiang
Sima Tai, seorang penulis Epoch Times, mengatakan bahwa Kongres Partai Ke-17 memasukkan “Konsep-konsep Pembangunan Ilmiah” milik Hu ke dalam Konstitusi Partai memiliki banyak arti di dalam pergulatan antara Hu dan Jiang. Di masa lalu, rejim Jiang terus menerus menggunakan teori “Tiga Wakil” milik Jiang untuk menekan Hu. Setelah Kongres Ke-17, teori Jiang akan memiliki sedikit pengaruh atau sama sekali tidak penting.

Sima Tai berpendapat bahwa pergulatan di antara para petinggi PKC sedang mendekati akhir. Hu saat ini telah memegang bukti korupsi Jiang dan putranya dan penindasan ilegal berdarah terhadap rakyat China. Hu pada dasarnya telah menyelesaikan pekerjaan persiapan untuk menahan Jiang Zemin, yang kini terbuang dari tampuk dukungan militer. Hu juga siap untuk menetapkan susunan ulang dari para pejabat tinggi dan menghapus teori Jiang. Sebuah perintah untuk mengeksekusi akan menjadi langkah yang terakhir.

http://en.epochtimes.com/news/7-9-21/60010.html

Rejim Komunis Berencana Menghilangkan Gao Zhisheng dari Beijing

Posted in Politik oleh Seputar China pada September 25, 2007

The Epoch Times 18 September 2007

BEIJING—Enam Belas kader Partai Komunis telah mengganggu rumah Gao Zhisheng, seorang pengacara HAM terkenal di China, pada pagi hari tanggal 16 September. Mereka tidak beranjak dari sana hingga sore hari itu. Istri dan anak-anak Gao ketakutan.

Menurut sumber yang dirahasiakan, pemerintah China berencana untuk memindahkan Gao Zhisheng dari Beijing dan menjauhkannya dari Beijing dalam jangka waktu lama.

Sebanyak 16 orang itu berasal dari sebuah “kelompok pendidikan kembali” yang terdiri dari para kader Partai Komunis China. Tujuan dari tindakan ini adalah untuk menekan Gao dan khususnya keluarganya agar berjanji untuk berhenti berhubungan dengan dunia luar (Gao sering menulis artikel untuk media; beberapa telah diterbitkan oleh The Epoch Times.) Sumber yang dirahasiakan itu telah meminta kami untuk menyerukan kepada dunia agar mulai memberikan perhatian penuh terhadap Gao dan keluarganya.

Sejak awal Agustus, telah ada 32 polisi yang melakukan pengawasan di luar rumah Gao selama 24 jam tanpa henti. 16 orang dari mereka menggunakan empat mobil, bertanggung jawab untuk mengikuti segala perjalanan Gao sementara 16 polisi lainnya berjaga-jaga di luar rumah Gao.

http://en.epochtimes.com/news/7-9-18/59925.html

Dunia Barat Memperingatkan – Mendukung Rezim China Menghambat Demokrasi

Posted in Politik oleh Seputar China pada September 25, 2007

Oleh Ben Hurley
Epoch Times Australia 5 September 2007

Demokrasi Barat harus mengaitkan tuntutan hak azasi manusia dan hubungan ekonomi dengan rezim China, jikalau tidak, secara berangsur-angsur kebebasan demokrasi mereka akan hilang, demikian dikatakan seorang doktor ilmu politik dan pembela gerakan pro-demokrasi.

Dr Juntao Wang, berbicara pada sebuah forum yang diselenggarakan oleh koalisi hak azasi manusia Free China, dengan mengatakan bahwa banyak di negara Barat masih tidak memahami China.

“Sebelum China masuk WTO, banyak ahli percaya bahwa WTO dan globalisasi akan mengubah China. Tetapi para ahli China melihat hal ini adalah, China akan mengubah dunia melalui WTO,” Dr Wang mengatakan kepada The Epoch Times.

Dr Wang, peneliti pada Canterbury University, Selandia Baru, berkata bahwa rezim Cina sedang memperoleh keuntungan besar dari keanggotaannya dalam WTO.

Ia mengatakan bahwa melalui perbudakan yang telah menjadi adat, pemerintah China dapat mengurangi biaya tenaga kerja. Melalui pencurian lahan para petani yang tersebar luas, itu dapat mengurangi biaya-biaya lahan. Hasil dari ini semua adalah kondisi yang sangat mendukung bagi perusahaan Barat untuk berinvestasi.

“Semakin banyak perusahaan besar menanamkan modalnya di China -menggerakkan semua uang mereka di sana,” kata Dr Wang.

“China memiliki tenaga terampil yang baik dan gaji yang sangat rendah. Tetapi siapa yang dapat mempertahankan gaji yang rendah itu? Pemerintah, negara. Mereka tidak mengabulkan hak-hak serikat pekerja. Mereka hanya membantu perusahaan-perusahaan besar untuk mendapat keuntungan dan melobi negara-negara [Barat],” lanjutnya.

Hal ini kemudian mendatangkan suatu dilema bagi pemerintah-pemerintah Barat, kata Dr Wang. Mereka dapat mengabaikan sistem kesejahteraan dan serikat buruh mereka, atau akan terus kehilangan investasi ke China. Atau mereka dapat membuang WTO dan menggunakan kebijakan-kebijakan proteksionis untuk memblokade kebijakan-kebijakan China.

Solusinya, katanya, bukanlah dengan memaksa China mengubah kurs valuta asingnya.
“Jika anda mengubah itu, pemerintah China masih dapat memindahkan permasalahan itu kepada rakyat Cina. Mereka bisa menurunkan gaji lagi, dan mereka masih dapat mempertahankan kompetisi.” Solusinya menurutnya, menetapkan suatu kaitan yang krusial antara ekonomi dan standar hak azasi manusia.

“Pemerintah-pemerintah demokrasi Barat mempunyai beberapa kebijakan-kebijakan yang sangat menggelikan, mereka mengabaikan hak azasi manusia – itu berarti mereka ingin membuang demokrasi. [Jika] anda hanya ingin memelihara hubungan ekonomi, anda sedang membantu pemerintah China untuk mengalahkan anda sendiri,” ujar Dr. Wang.

“Anda tidak hanya menginginkan globalisasi produk, tetapi juga globalisasi hak azasi manusia. Jika anda menetapkan suatu standar HAM di China… maka anda dapat membangun kembali kompetisi dengan produk-produk China. Kemudian anda dapat memelihara kesejahteraan negara anda.”

Dr Wang mengatakan bahwa reformasi politik di China akan bermanfaat baik di dalam dan luar negeri China.

Ketika China akan kehilangan sebagian perannya dalam pasar internasional, pekerja akan lebih memiliki daya beli yang lebih tinggi, pasar domestik China akan meluas, dan orang-orang China akan lebih dapat membeli produk-produk luar negeri.

Menurut Dr Wang, China sedang mengembangkan kemampuan tawar menawar yang semakin banyak dalam politik dunia. Kepemilikan misil nuklir jarak jauh dan cadangan valuta asing yang sangat besar memberi China kekuatan untuk memaksa negara-negara lain untuk mamatuhi.

Akan tetapi DR. Wang mengatakan bahwa ada suatu perbedaan yang substansial antara bagaimana orang Barat dan orang China melihat China, bahwasanya orang Barat melihat China secara keseluruhan, sementara orang China melihatnya sebagai jumlah dari berbagai bagian.

“Orang asing melihat China secara keseluruhan untuk mengevaluasi dampaknya terhadap dunia. Mereka melihat kekuatan ekonomi China dan militer yang kuat [sebagai ciri pembangunan yang kuat].

“Akan tetapi bagi rakyat China, China adalah sedemikian banyak orang-orang China. Dan orang China yang berbeda akan memiliki kepentingan dan pendapat yang berbeda. Ya, mereka ingin mereformasi sistem politik dan membangun ekonomi, tapi mereka juga ingin menikmati dan mendapat bagian keuntungan dari pembangunan. Mereka tidak meninginkan suatu kelompok kecil dari orang China yang memonopoli segalanya.”

http://en.epochtimes.com/news/7-9-5/59450.html

Penganiayaan Ditingkatkan Menjelang Pertemuan Forum Ekonomi Dunia

Posted in Politik oleh Seputar China pada September 13, 2007

Pada 14 Agustus 2007, Kepolisian Kota Dalian di Provinsi Liaoning menangkap 36 praktisi Falun Gong, termasuk beberapa perempuan yang baru lulus universitas. Polisi juga menutup perusahan akutansi Xincheng di Dalian. Rumah-rumah para praktisi juga digeledah dan diobrak-abrik – alasan yang digunakan oleh polisi: karena Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) akan segera diadakan di Kota Dalian

Di bulan Juni 2007 – Komite PKC Kota Dalian dan Komite Politik Dan Hukum memerintahkan departemen kepolisian, Kantor Keamanan Negara, semua perusahaan dan organisasi nirlaba, dan semua komite tetangga agar meningkatkan pengawasan terhadap para praktisi Falun Gong demi “menjamin suksesnya pertemuan Davos (Konferensi Forum Ekonomi Dunia).” Dari tanggal 18 hingga 21 juni, banyak praktisi ditahan, termasuk Mr. Li Dejun (hakim ketua pada Pengadilan Distrik Ganjingzi Dalian), Ms. Zhang Yaru (pengacara dari Lembaga Bantuan Hukum Lancheng – Provinsi Liaoning), Mr. Yang Chuanjun (yang sudah ditahan dan disiksa beberapa kali), Mr. Yang Guanchang (veteran yang istrinya Bi Taihong disiksa sampai meninggal di tahun 2005).

Sebelum penangkapan dan dalam rangka persiapan pertemuan, otoritas yang bertanggung jawab sebagai tuan rumah Konferensi Forum Ekonomi Dunia tersebut mengerahkan bantuan sukarelawan dari unit Teknologi Dalian dan Universitas Ekonomi Timur Laut. Salah satu syaratnya adalah sukarelawan tidak mempunyai kepercayaan pribadi, hal mana merupakan pelanggaran terhadap Konstitusi China tentang kebebasan berkeyakinan bagi seluruh warga negara.

Sebagai persiapan menghadapi Forum Ekonomi Dunia, pihak otoritas Dalian telah menghabiskan banyak uang serta mengerahkan tenaga yang besar untuk menganiaya para praktisi Falun Gong, yang keberadaannya tidak mengancam masyarakat bahkan berguna bagi masyarakat. Mereka menyebar lebih dari 7.000 petugas polisi dan agen rahasia serta menggunakan semua jenis peralatan teknologi tinggi yang mahal (termasuk alat penyadap hubungan telepon, alat monitor internet, global positioning system, berbagai teknik penyamaran, mengumpulkan sidik jari, dan membuka surat-surat pribadi di kantor pos).

Penguasa telah memperbesar intensitas penganiayaan. Mereka telah menggunakan polisi internet untuk memasang jaringan yang mereka sebut “jaringan hijau”, memonitor jaringan internet pada komputer di hotel-hotel, restoran dan kantor, mencoba untuk memonitor dan menghalangi orang-orang yang bermaksud mengunjungi situs-situs Internasional. Mereka telah memasang banyak kamera di jalan-jalan utama di kota untuk menangkap para praktisi yang menyebarkan materi Falun Gong. Tenaga kerja dan peralatan yang seharusnya digunakan untuk menghadapi para penjahat sedang digunakan untuk menyiksa warga negaranya yang tidak bersalah – menyebabkan angka kriminalitas meningkat terus menerus.

Menurut data statistik sementara: 84 praktisi telah ditahan pada paro pertama 2007. Mr Zhang Chengyin yang menjabat sebagai Sekretaris komite PKC Dalian, memulai karirnya naik ke jenjang politik dengan ambil bagian dalam penganiayaan para praktisi Falun Gong secara besar-besaran. Pengawasan internet secara khusus dirancang untuk mengawasi para praktisi dilaksanakan di bawah perintah langsung Zhang Chengyin.

Dua mantan walikota Kota Dalian, Bo Xilai dan Xia Deren – keduanya juga telah digugat atas kejahatan kemanusiaan dan kejahatan genosida di berbagai negara di luar China.

Chinese http://www.minghui. org/mh/articles/ 2007/8/19/ 161133.html
English http://www.clearwis dom.net/emh/ articles/ 2007/9/2/ 89170.html

Seruan Nasionalisasi Angkatan Bersenjata

Posted in Politik oleh Seputar China pada Agustus 28, 2007

Sejumlah perwira tentara menyerukan dilakukakannya nasionalisasi terhadap angkatan bersenjata. Mereka menginginkan agar tentara tidak menjadi pengawal pribadi partai.

Oleh Wang Zhen, The Epoch Times

Keterangan gambar: Tentara China sedang latihan (Getty Images)

Tanggal 1 Agustus lalu, Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) memperingati hari jadinya yang ke-80. Partai Komunis China (PKC) di Beijing telah mengumumkan perubahan seragam militer dan meluncurkan rangkaian aktivitas publik terkait peringatan ini. PKC juga menekankan penolakan mereka untuk menasionalisasi angkatan bersenjatanya.

Di lain pihak, terdapat suara-suara dari internal tentara yang menyarankan kepada para tentara untuk mengundurkan diri dari PKC dan tidak menjadi bagian dari pengawal pribadi partai. Beberapa suara tersebut menyerukan kepada tentara China untuk menetapkan kepentingan China sebagai landasan, bukan berdasarkan kepentingan PKC dan mendukung nasionalisasi angkatan bersenjata

Nasionalisasi angkatan bersenjata telah dibicarakan dalam waktu yang lama. Beberapa jendral telah menulis artikel di jurnal umum yang mendukung nasionalisasi. Pada malam perayaan peringatan ke-80 PLA, pernyataan dikeluarkan oleh website Suara dari Angkatan Bersenjata dan Forum Masa Depan China, merefleksikan suara dari tentara. “Kami mengumumkan pengunduran diri kami dari organisasi PKC. Kami tidak ingin lagi bekerja sebagai tentara PKC.”

“Kami bersumpah untuk ikut bergabung dalam Tentara Nasional China di masa depan. Kami akan mengumpulkan kekuatan kami dan merubah tentara PKC menjadi Tentara Nasional China.”

Pernyataan yang muncul di website Suara dari Angkatan Bersenjata segera mendapat tanggapan dari daratan China. Yi Junshan, yang bertugas di Skuad No.12 dari Pasukan No.94816, secara cepat mengumumkan keinginannya untuk mengundurkan diri dari PKC.

Keberanian itu menimbulkan reaksi keras. Dalam jurnal PKC Qiushi, artikel yang diterbitkan tanggal 16 Juli, Cao Gangchuan, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat dan Menteri Pertahanan Nasional, mengatakan: “Kekuatan musuh berusaha menempatkan PLA menjadi berkiblat ke barat, menyebarkan konsep tentara non-partai, tentara non-politik atau nasionalisasi angkatan bersenjata. Mereka berusaha untuk menghilangkan control PKC terhadap PLA.”

Surat kabar tentara PKC, Harian PLA juga mempublikasikan artikel khusus pada tanggal 3 Juli yang menyangkal nasionalisasi angkatan bersentara dan menekankan PKC memiliki kontrol penuh terhadap angkatan bersenjata. Zhao Keming, Dekan Univesitas Pertahanan Nasional, mempublikasikan artikel yang mendukung artikel di Qiushi. PKC telah mengetatkan kontrolnya terhadap angkatan bersenjata.
Sejumlah tentara yang dianggap mendukung nasionalisasi juga mendapat perlakuan represif. Laporan terkini mengungkapkan bahwa sebuah rumah sakit jiwa di Provinsi Guangxi, digunakan untuk menahan banyak tentara muda. Li Dayong, pencetus Pusat Layanan Global Pengunduran Diri dari PKC, berpikir bahwa PKC tidak dapat mengontrol PLA lebih jauh lagi.

PKC mulai mengelola angkatan bersenjata dengan komputerisasi di tahun 2001. Korps tentara, Divisi tentara, brigadir, resimen, semua dilengkapi dengan computer yang membuat mereka mudah mengakses informasi dari situs-situs internet. Kenyataannya itu membuat mereka sadar. “Beberapa jendral tidak ingin melayani PKC lagi,” kata Li Dayong. “Banyak dari mereka telah membawa buku Sembilan Komentar Mengenai Partai Komunis. Banyak dari mereka telah mengundurkan diri dari PKC.”

Pahlawan SARS Menolak Penghargaan

Posted in Politik oleh Seputar China pada Agustus 28, 2007

Diperkirakan adanya tekanan dari rejim komunis China, dokter Jiang Yanyong menolak menghadiri pemberian penghargaan yang diterimanya dari Akademi Ilmu Pengetahuan New York.

Oleh He Shan
Radio Free Asia 21 Agustus 2007

Jiang Yanyong, seorang dokter militer yang telah dengan berani mengungkap selubung epidemi wabah SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) di China tiga tahun lalu, dianugerahi Penghargaan Ilmuwan HAM 2007 oleh Akademi Ilmu Pengetahuan New York. Penghargaan tersebut diberikan untuk menghargai kontribusi terkemuka dua dokter China dalam bidang medis, khususnya upayanya dalam mencegah meluasnya SARS dan AIDS di negeri itu.

Penerima penghargaan lainnya adalah Dr. Gao Yaojie, seorang pensiunan ahli kebidanan dari Provinsi Henan yang telah membantu mencegah meluasnya AIDS di China. Akademi Ilmu Pengetahuan New York telah mengatur untuk menanggung biaya hotel maupun perjalanan antara New York dan China untuk dua penerima penghargaan tersebut.

Dalam sebuah wawancara dengan Radio Free Asia (RFA), Dr. Jiang menegaskan bahwa dia tidak akan menghadiri upacara penganugerahan itu. Ia telah menulis kepada ketua panitia tersebut. Dalam suratnya, Jiang menyatakan, “Penghargaan HAM adalah suatu penghargaan politik, itu bukanlah penghargaan ilmiah.” Karena alasan ini, dia tidak mau menerima penghargaan itu.

Ketika seorang wartawan menanyakan apakah dia sedang ditekan untuk menolak penghargaan itu? Jiang menjawab dengan cara sederhana seperti yang selalu dilakukannya, “Saya lebih baik tidak menjawab pertanyaan ini. Tidak apa-apa bukan? Seorang dalam militer tidak punya waktu untuk berbicara terlalu banyak.” Saat ditanya, “Mengapa anda tidak bisa hadir?” Jiang juga mengatakan permintaan maafnya. ”Sebagai anggota militer, saya tidak diijinkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan politik”

Begitu juga saat ditanya, “Apakah ini karena anda sendiri tidak ingin pergi? Atau apakah karena ada beberapa alasan lain?” Jiang dengan sopan meminta maaf dalam hal ini, ia menyarankan reporter supaya bertanya kepada Ketua Panitia. ”Saya telah mengirimkan jawaban kepadanya,” jawabnya.

Jiang mem-fax suratnya pada 1 Agustus lalu, bertepatan dengan Hari Tentara China. Surat tersebut mengatakan, “Mempertimbangkan fakta bahwa saya sibuk dengan praktek medis, sementara Penghargaan Ilmuwan HAM sepenuhnya berasal dari aspek politik, oleh karenanya, itu bukanlah penghargaan ilmiah. Karena alasan ini, saya memutuskan untuk tidak menerima penghargaan ini.”

Selama di telepon, Jiang tidak mengulang apa yang dinyatakan dalam fax tersebut. Mr. Sun Wenguang, seorang profesor pensiunan dari Universitas Shandong mengatakan, “Militer telah memberikan banyak tekanan terhadap keluarganya termasuk anak-anaknya. Saya pikir Dr. Jiang diam untuk melindungi status pensiunnya dalam ketentaraan. Di waktu lalu, ia telah membongkar selubung SARS, yang mengejutkan dunia. Kemudian, ia dengan terbuka menyatakan peran militer dalam Pembantaian Massal Tiananmen di tahun 1989, menyatakan bahwa ini adalah salah. Ini bukanlah suatu hal yang mudah sama sekali.”

Sun juga mengatakan, untuk para senior seperti Jiang, tekanan terhadap keluarga adalah sangat besar. Sementara Jiang sendiri tidak berkeinginan untuk sepenuhnya terpisah dari sistem yang ada, ia juga tidak berkeinginan untuk membawa kesulitan terhadap anggota keluarganya. Meskipun dianugerahi Penghargaan Ilmuwan HAM di New York, ia enggan untuk menghadiri penyerahan penghargaan tersebut. Kini situasi politik di China sama dengan Uni Soviet. Kediktatoran menguasai semua sektor kehidupan dan cara hidup seseorang.

Di luar negeri, para anggota Komite HAM Akademi Ilmu Pengetahuan New York, Liu Gang, Wei Jingsheng, dan Wang Dan telah mengirimkan sebuah surat terbuka kepada Presiden Hu Jintao, meminta kepadanya untuk mengijinkan Jiang mengunjungi New York dan menerima penghargaan itu.

Sikap Jiang sama persis dengan yang dilakukan novelis Boris Pasternak pada 25 Oktober 1958. Saat Kumpulan Cendikiawan Swedia menganugerahkan Nobel untuk karya sastra kepada penulis Uni Soviet itu, menghargai novel panjangnya yang terkenal, Dr. Zhivago.

Mr. Pasternak membalas kembali dengan menyatakan, “Terima kasih, Inspirasi, Kebanggaan, Terkejut dan Penyesalan yang tak terhingga. Mempertimbangkan efek dan kesulitan yang terbawa kepada negara saya dari pemberian Penghargaan Nobel kepada saya, saya harus menolaknya. Mohon dimengerti penolakan ini dari lubuk hati saya.” Upacara pemberian penghargaan di tahun 1958 tidak bisa dilaksanakan karena Pasternak tidak dapat hadir.

http://en.epochtimes.com/news/7-8-21/58915.html

“Nobel Asia” Untuk Aktivis HAM China

Posted in Politik oleh Seputar China pada Agustus 2, 2007

Chen

Aktivis hak asasi manusia asal China, Chen Guangchen, 36, terpilih sebagai salah satu dari tujuh peraih Penghargaan Magsaysay di Manila, Philipina, 31 Juli 2007 kemarin. Lelaki yang buta sejak balita ini merupakan salah seorang peraih”Nobel Asia” yang paling menonjol.

Chen Guangchen dihargai karena telah menjadi ”pengacara” dengan memberikan pendampingan hukum bagi rakyat miskin. Selain itu, dia menentang kebijakan program keluarga berencana satu anak dalam satu keluarga di Provinsi Shandong, China Timur pada 2005 yang bersifat memaksa. Jalan yang ditempuh untuk program itu bahkan dengan cara aborsi dan sterilisasi.

Sebagai pegiat hukum, Chen telah berhasil mendokumentasikan ratusan kasus pelanggaran yang dilakukan oleh para petugas Keluarga Berencana China yang memaksa perempuan untuk menempuh aborsi pada usia kehamilan tua dan sterilisasi. Chen berusaha mengungkap sejumlah pelanggaran HAM tersebut, sehingga dunia internasional mengetahuinya.

Karena kelantangannya, tahun lalu dia dipenjara dengan tuduhan mengganggu ketertiban umum. Aktivis Chen diganjar hukuman penjara empat tahun pada bulan Agustus setelah membeberkan penyalahgunaan kebijakan satu anak pemerintah komunis China. Dia didakwa merusak sarana umum dan menggelar unjukrasa yang mengganggu lalulintas. Atas tekanan dunia internasional, pengadilan kemudian membatalkan vonis terhadap Chen. Dakwaan itu, menurut ahli hukum internasional –dan juga warga Cina– hanya dibuat-buat sedang alasan utama dalam dakwaan terhadap Chen adalah bermotif politik.

“Didapati terjadi pelanggaran serius dalam prosedur legal,” kata pengacara Chen seperti dikutip BBC. Walaupun pengadilan tinggi telah membalikkan vonis sebelumnya, Chen masih belum bisa menghirup udara bebas. Pengadilan ulang akan dilakukan tahun depan dan ada kemungkinan pengadilan negeri di daerahnya akan muncul dengan dakwaan baru terhadapnya.

Dua warga China lainnya yang mendapat penghargaan Magsaysay adalah Chung To, 40, yang membangun Yayasan Chi Heng untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS dan berkampanye menghapus stigma negatif yang melekat pada korban yang terinfeksi. Dan, satu lagi adalah Tang Xiyang, 77, salah seorang tokoh pergerakan lingkungan hidup yang selama ini aktif mengkampanyekan parahnya kerusakan lingkungan yang terjadi di negaranya akibat kebijakan rejim komunis China yang tidak bersahabat dengan alam.

Sementara itu, peraih penghargaan asal tuan rumah, Philipina adalah Jovito Salonga, 87, seorang mantan senator yang berjuang melawan korupsi dan penyelewengan. Dari India, jurnalis Palagummi Sainath, 50, berhasil masuk dalam daftar penerima Magsaysay Award. Ada pula sosok dari Nepal, Mahabir Pun, 52, yang berperan penting dalam membuka dunia luar kepada masyarakat pedalaman Nepal bagian barat. Peraih penghargaan ketujuh adalah Kim Sun-tae, 66. Pria dari Korea Selatan tersebut mengalami kebutaan akibat ledakan mortir pada Perang Korea. Namun, dia berhasil melampaui impitan kemiskinan dan kekurangan fisiknya dengan mendirikan Rumah Sakit Mata Siloam pada 1986.

Yayasan Ramon Magsaysay Award dibentuk pada 1957 oleh sebuah badan bernama Rockefeller Brothers Fund yang bermarkas di New York, Amerika Serikat (AS).Ramon Magsaysay merupakan nama presiden populer asal Filipina yang tewas dalam kecelakaan pesawat.
(Diolah dari berita Sindo dan BBC)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/international/tujuh-peraih-magsaysay-award-diumumkan-3.html
http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2006/11/061101_chinachen.shtml

Laman Berikutnya »