SEPUTAR CHINA


Cina kini ‘pencemar no 1’ dunia

Posted in Lingkungan oleh Seputar China pada April 21, 2008

Cina telah mengambilalih posisi Amerika Serikat sebagai pencemar terbesar dunia, kata laporan ilmiah baru yang akan diterbitkan bulan depan.

Penelitian ilmiah tersebut mengindikasikan bahwa emisi gas rumah kaca negara itu telah ditaksir terlalu rendah, dan mungkin melampaui kadar emisi Amerika pada periode 2006-2007.

Tim University of California akan melaporkan hasil penelitian mereka dalam penerbitan Journal of Environment Economics and Management.

Mereka memperingatkan, pertumbuhan tak terkendali di masa datang akan mengecilkan tingkat pengurangan emisi sebesar apa pun yang dilakukan oleh negara-negara kaya berdasarkan Protokol Kyoto.

Tim mengakui ada ketidakpastian soal waktu Cina mungkin telah menjadi negara dengan emisi C02 terbesar, mengingat analisis mereka berdasarkan data tahun 2004.

Sampai saat ini, Amerika tetap umum diyakini sebagai sang “Pencemar Nomor Satu”.

Kebijakan

Laporan bulan depan University of California memperingatkan, kecuali Cina mengubah kebijakan energinya secara radikal, kenaikan emisi gas rumah kaca negara itu akan mencapai beberapa kali lebih besar dari tingkat pengurangan emisi yang dihasilkan oleh negara-negara kaya di bawah Protokol Kyoto.

Para peneliti mengatakan, angka mereka berdasarkan data dari tingkat provinsi yang dikeluarkan Badan Perlindungan Lingkungan Cina.
Pemerintah Cina dinilai perlu mengubah drastis kebijakannya

Mereka mengatakan, analisis terhadap 30 data point lebih informatif soal proyeksi emisi masa depan daripada statistik nasional dalam penggunaan yang lebih luas, sebab data itu memungkinan kekeliruan dilacak secara lebih seksama.

Mereka meyakinkan model komputer yang ada saat ini secara subtansial keliru menaksir proyeksi pertumbuhan emisi di Cina.

Pemerintah Cina belum mengeluarkan pernyataan untuk mengomentari isi laporan ini, tapi Dr Max Auffhammer, kepala peneliti, mengatakan, proyeksinya telah dipresentasikan di beberapa forum dan tidak satu pihak pun mengajukan keberatan serius.

Semua yang prihatin soal perubahan iklim sepakat emisi Cina adalah masalah, termasuk Cina sendiri.

Namun, Cina dan banyak negara sedang berkembang lain yang berjuang untuk mengatasi kemiskinan bersikeras menyatakan, pengurangan emisi melalui perundingan semestinya tidak bersifat absolut, tapi relatif terhadap skenario proyeksi pertumbuhan “biasa”.

Itulah sebabnya penelitian ini lebih bersifat kepentingan akademis.

Secara ringkas, kendati penelitian ini tampaknya mencoreng reputasi Cina, mungkin itu justru bagus bagi posisi tawar Cina di meja perundingan.

Cina dan PBB bersikukuh menyatakan, negara-negara kaya dengan tingkat pencemaran per kapita tinggi harus terlebih dahulu mengurangi emisi, dan membantu negara-negara miskin untuk berinvestasi di bidang teknologi bersih.

Emisi per kapita Amerika lima hingga enam kali lebih tinggi dari emisi per kepala Cina, sekalipun Cina telah menjadi negara ekonomi manufaktur utama.

Emisi Amerika juga masih terus tumbuh, meski jauh lebih lambat.

http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2008/04/080415_chinapolluter.shtml

Iklan

WHO Kuatirkan Polusi di Beijing

Posted in Lingkungan oleh Seputar China pada Agustus 21, 2007

Para penonton dan peserta Olimpiade Beijing 2008 akan menghadapi masalah kesehatan serius karena polusi udara, kata seorang pakar kesehatan.

Dr Michal Krzyzanowski dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan kepada BBC bahwa orang-orang yang memiliki masalah dengan jantung dan jalan pernafasan harus benar-benar memperhatikannya. Dia juga mengatakan kualitas udara kota itu yang buruk bisa memicu serangan asma.

Peringatan itu disampaikan di saat Beijing memulai ujicoba larangan menggunakan mobil selama empat hari yang ditujukan untuk mengurangi kemacetan lalu lintas dan meningkatkan kualitas udara. Pemerintah Cina berencana untuk melarang penggunaan mobil selama penyelenggaraan olimpiade tahun depan di Beijing.

‘Polusi berat’
Namun meski pemerintah Cina merencanakan pengurangan emisi, Dr Krzyzanowski mengatakan WHO masih mengkhawatirkan orang-orang yang akan datang untuk menonton pesta olahraga ini tahun depan. “Semua kota Cina memilki polusi berat menurut standar Eropa, namun jika dinilai dengan standar Asia pun, polusi di kota-kota Cina cukup buruk,” katanya kepada BBC. Menurutnya, masalah utama di Cina adalah polusi udara, yang bisa masuk ke sistem pernafasan dan kotoran dialirkan oleh darah ke seluruh tubuh.

Wartawan BBC di Beijing Daniel Griffith mengatakan kemacetan lalu lintas adalah pemandangan yang sering dijumpai. Asap kendaraan sering menyebabkan kabut asap tebal menggantung di atas kota.

Pengurus olimpiade internasional mengatakan beberapa nomor di sejumlah cabang mungkin harus ditunda karena buruknya kualitas udara. Hal ini membuat panitia penyelenggara olimpiade Beijing kuatir. Karena itu mereka akhirnya berencana untuk mengurangi jumlah kendaraan di jalan dan pekan ini ujicoba rencana tersebut dilakukan.

Selama empat hari ke depan hampir separuh mobil di Beijing tidak boleh dipakai. Jika rencana ini dinyatakan berhasil kebijakan ini akan diterapkan selama penyelenggaraan olimpiade. Hal ini akan dipandang sebagai kesediaan Cina untuk melakukan apa saja agar penyelenggaraan olimpiade bisa sukses.

http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2007/08/070817_beijingtrial.shtml

Negara Penghasil Emisi CO2 Terbesar

Posted in Lingkungan oleh Seputar China pada Juli 13, 2007

China telah mengambil alih posisi Amerika Serikat sebagai negara penghasil karbon dioksida terbesar di dunia, sebuah perkembangan yang meningkatkan kegelisahan mengenai perannya dalam mendorong pemanasan global akibat tindakan manusia dan akan semakin menambah tekanan kepada para politisi dunia untuk mencapai kesepakatan mengenai perubahan lingkungan yang menyertakan perekonomian China.

Emisi China sebelumnya tidak diperkirakan melebihi emisi Amerika Serikat yang sebelumnya merupakan pembuat polusi terbesar, selama beberapa tahun, walau beberapa laporan memprediksikan hal ini bisa saja terjadi tahun depan.Namun menurut statistik yang diluncurkan kemarin oleh Badan Penilaian Lingkungan Belanda, yang memberi masukan kepada pemerintah Belanda, jumlah permintaan batu bara untuk membangkitkan tenaga listrik dan peningkatan tajam produksi semen telah semakin mendorong emisi China selama tahun 2006 melebihi yang dihasilkan oleh Amerika Serikat.

Menurut Badan tersebut, China memproduksi 6.200 juta ton CO2 tahun lalu, bandingkan dengan 5.800 juga ton yang diproduksi Amerika Serikat. Inggris sendiri menghasilkan sekitar 600 juta ton. Namun untuk populasi per kepala, polusi di China masih relatif rendah sekitar seperempat dari yang terjadi di Amerika Serikat dan setengah dari yang terjadi di Inggris Raya.Peningkatan tajam China ini sekitar 8% lebih banyak dari Amerika Serikat yang terbantu dengan turunnya emisi CO2nya sekitar 1,4% sepanjang tahun 2006 yang menurut para analis, memperlambat perekonomian Amerika Serikat.

Jos Olivier, seorang peneliti senior di badan tersebut yang menggabungkan semua angka berkata: “Akan ada sejumlah ketidakpastian mengenai angka pastinya, namun ini adalah estimasi yang terbaik dan paling terbaru yang tersedia. Cina sangat bergantung pada batu bara dan semua kecenderungan yang terbaru menunjukkan emisi mereka meningkat dengan cepat.

Emisi China sekitar 2% di bawah tingkat emisi Amerika Serikat di tahun 2005. Angkat terbaru ini juga hanya melibatkan emisi CO2 dari pembakaran bahan bakar fosil dan produksi semen. Namun tidak menyertakan sumber-sumber gas rumah hijau lain seperti metana dari pertanian dan nitro oksida dari proses industri. Angka-angka ini juga tidak menyertakan sumber-sumber CO2 seperti penerbangan dan pengapalan atau penggundulan hutan, pembakaran gas serta pembakaran batu bara di bawah tanah.

Menurut Dr Olivier sangat sulit untuk menemukan estimasi yang sangat tepat untuk emisi seperti ini, terutama dari negara-negara berkembang. Namun dia menjelaskan jika menyertakan semuanya sepertinya akan menurunkan China dari posisi puncak. “Karena China melampaui Amerika Serikat 8% [tahun lalu] akan sangat sulit untuk mengkompensasikan hal tersebut dengan sumber-sumber emisi lain,” katanya.

Untuk mengerjakan angka-angka emisi ini, dia menggunakan data yang dikeluarkan oleh perusahaan minyak BP di awal bulan ini yakni data konsumsi minyak, gas dan batu bara di seluruh dunia sepanjang tahun 2006, demikian juga penggunaan informasi produksi semen yang dikeluarkan oleh Survey Geologis Amerika Serikat. Produksi semen, yang membutuhkan energi dalam jumlah besar, menghasilkan sekitar 4% produksi CO2 global hanya dari penggunaan bahan bakar. Industri semen China, yang memproduksi sekitar 44% persediaan dunia memberikan kontribusi hampir sekitar 9% dari emisi CO2 Cina.  

Pengumuman ini muncul sebagai negosiasi untuk mencapai kesepakatan iklim yang akan meneruskan protokol Kyoto yang akan berakhir di tahun 2012. Amerika Serikat menolak untuk meratifikasi protokol Kyoto sebagian karena tidak ada tuntutan atas China, dan sebuah poin yang menusuk dari negosiasi yang baru telah mendapatkan jalan untuk melibatkan kedua negara sama halnya dengan negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat lainnya seperti India dan Brazil. Tony Blair mempercayai bahwa pendekatan terbaik adalah membangun pasar nasional untuk memberi cap dan memperdagangkan karbon, yang kemudian dihubungkan.

Di awal bulan ini, China mengungkapkan rencana nasional pertamanya atas perubahan cuaca setelah dua tahun persiapan yang dilaksanakan oleh 17 kementerian dalam pemerintahan.  Rencana ini tidak menset target langsung pengurangan atau penghindaran emisi gas rumah hijau, namun bertujuan untuk mengurangi konsumsi energi per unit produk domestik kotor hingga 20% di tahun 2010 dan meningkatkan energi yang dapat diperbaharui hingga 10% dan sekaligus menghijaukan kembali sekitar 20% lahan negara tersebut dengan hutan. Namun rencana tersebut menekankan bahwa teknologi dan biaya adalah penghalang besar dalam mencapai efisiensi energi ini.

Apa yang dibutuhkan China, menurut seorang juru bicara pemerintah, adalah kerja sama internasional untuk membantunya bergerak menuju perekonomian dengan karbon yang rendah. Industri-industri China selama ini enggan untuk mengembangkan teknologi batu bara bersih yang tidak terbukti yang masih masih dalam tahap pengembangan di sejumlah negara-negara berkembang.

Sumber:  http://www.guardian.co.uk/

http://www.broadcast-edu.or.id/index.php?ar_id=1526 

Olimpiade Beijing Merusak Hutan Papua

Posted in Lingkungan oleh Seputar China pada Juli 13, 2007

Hasil investigasi sejumlah LSM lingkungan menunjukan adanya perdagangan kayu merbau secara ilegal dalam jumlah besar dari Papua menuju China. Pernyataan Komite  Olimpiade Beijing 2008 bahwa kayu yang digunakan adalah legal dan bersertifikat, diragukan oleh mereka.

Oleh: Fadjar Pratikto 

Tidak puas dengan menghancurkan hutan di dalam negeri, kini China komunis juga melahap hutan alam atau biasa disebut hutan surgawi Indonesia. Sedikitnya 300.000 meter kubik kayu merbau asal Papua diseludupkan ke China setiap bulannya. Menjelang Olimpiade 2008, permintaan akan kayu ilegal ini semakin meningkat seiiring dengan tingginya aktivitas pembangunan sarana dan prasana untuk kepentingan pesta olah raga dunia di Beijing itu. 

Pernyataan bahwa pesta olah raga kali ini adalah “Olimpiade hijau” karena menggunakan kayu-kayu yang legal dan telah tersertikasi, diragukan oleh Environmental Investigation Agency (EIA) Indonesia. Apalagi pengiriman kayu ilegal dari Papua- Indonesia ke China masih berlangsung hingga sekarang. Penjarahan kayu ini secara serius telah merusak konservasi hutan Papua. Dengan masih berlangsungnya praktek penjarahan hutan ini, dikhawatirkan akan semakin banyak terjadi bencana yang diakibatkan oleh kerusakan alam di Tanah Air. 

“Ketika mereka (komite olimipade) mengatakan bahwa semua kayu yang dipakai untuk konstruksi adalah kayu yang legal, kita tunjukkan bukti-buktinya, bahwa kayu illegal sampai saat ini, sampai detik ini masih terus masuk ke China,” tandas M. Yayat Afianto, Regional Trade Center Telapak yang beberapa kali pernah berkunjung ke China untuk melakukan investigasi. 

Sejauh ini, menurut M. Yayat Afianto, penguasa komunis China masih belum memiliki kemauan politik yang kuat untuk menghentikan praktek ilegal ini. “Sampai sekarang, pemerintah  China sama sekali tidak mengeluarkan peraturan masalah penyeludupan kayu dari Indonesia ini. Bahkan sampai detik ini pun, tidak ada satu-pun pihak yang diberi mandat oleh pemerintah China untuk menindak-lanjuti masalah ini.“ tandasnya kepada Era Baru. 

Salah satu rekomendasi EIA/ Telapak dalam laporannya pada Maret 2007 yang berjudul “Raksasa Dasamuka”, menyebutkan, China sebagai negara konsumen kayu utama, seharusnya memberlakukan undang-undang pelarangan impor dan penjualan kayu, serta produk kayu yang diperoleh secara ilegal Lebih jauh, mereka juga telah berusaha menekan pihak-pihak yang berwenang di Indonesia untuk memperhatikan masalah ini dengan lebih serius. 

Secara khusus, EIA/ Telapak akan bekerja sama dengan LSM-LSM internasional untuk mengadakan berbagai kampanye dan menekan Komite Olimpiade untuk membuktikan legalitas kayu yang digunakannya. Mereka berharap semua pihak dapat mendukung gerakan untuk menekan penguasa komunis China. Dengan begitu, mereka yakin praktek penyeludupan ini dapat segera dihentikan dan hutan Papua di Indonesia dapat terhindar dari kerusakan. 

Penadah Terbesar

Semenjak tahun 2004, China menjadi importir sekaligus eksportir kayu nomor 1 di dunia. Kenyataan itu telah mendorong, EIA/ Telapak melakukan investigasi terhadap isu ini. Hasil temuan EIA mengungkapkan terjadinya penjarahan kayu merbau secara besar-besaran di Papua. Hasil investigasi pertamanya terhadap penebangan liar di Papua dan pencurian kayu yang masif oleh China dipublikasikan dalam laporan berjudul The Last Frontier (2005). 

 

Investigasi EIA/ Telapak telah mengungkap bahwa tumpukan gelondongan kayu merbau di pelabuhan Zhangjiagang merupakan barang curian dari hutan-hutan Papua di Indonesia. Dilihat dari volumenya dan kapal container yang datang setiap harinya, skala perdagangan kayu merbau ini sungguh mencengangkan dan merusak. “Semenjak tahun 2001, Indonesia telah melarang ekspor kayu dalam bentuk gelondongan, sehingga kayu-kayu merbau gelondongan yang kita temukan itu pastilah seludupan.” ucap Yayat Afianto.

Larangan ekspor kayu bulat yang dikeluarkan oleh Pemerintah Indonesia pada Oktober 2001 maupun nota kesepahaman (memorandum of understanding/MOU) antara RI dan penguasa China yang berisi komitmen untuk mengurangi perdagangan kayu liar tidak menghalangi keluarnya kayu-kayu gelondongan ilegal dari Indonesia ke China. Kayu itu untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri kayu di China, yang saat ini sedang booming.

Para penyelidik lingkungan memastikan adanya penyelundupan kayu besar-besaran dari Papua ke China. Jumlah kayu yang diselundupkan begitu besar sehingga mereka menyebutnya sebagai yang terbesar yang melibatkan satu jenis kayu.“Ini barangkali kasus penyelundupan terbesar yang pernah kami temukan selama melakukan riset mengenai illegal logging di Indonesia,” kata Julian Newman, pimpinan kampanye kehutanan EIA. Hal itu, menurutnya, mengancam kelestarian hutan-hutan di seluruh Asia Pasifik. 

Pada Maret tahun lalu, Greenpeace China menerbitkan laporan berjudul Sharing the Blame (Berbagi Kesalahan), yang mengungkap peran China dalam perusakan hutan alam. Separuh dari seluruh pohon kayu tropis yang ditebang dari berbagai penjuru dunia berakhir di China. Sebagian besar berasal dari Indonesia, dan sekitar 76-90 persen ditebang secara tak legal. Menurut laporan itu, China menjadi clearing house bagi kayu dunia, di mana setiap pohon tropis kedua yang dijual di pasar dunia dikirim ke China. 

Dipastikan juga China merupakan negara konsumen kayu curian terbesar di dunia.  Hanya dalam beberapa tahun, sebuah pelabuhan kecil di timur China telah disulap menjadi pusat perdagangan kayu tropis terbesar di dunia. Sedangkan sebuah kota di dekatnya telah menjadi pusat produksi lantai kayu dimana 500 pabrik secara bersama-sama mengubah satu pohon merbau  menjadi papan-papan lantai kayu setiap menitnya untuk diekspor. 

Di bawah ancaman hancurnya hutan tropis di Papua, setahun lalu pemerintah Indonesia memberi angin surga kepada perusahaan China untuk menanamkan modal senilai satu miliar dolar AS di Papua. Mereka berencana mengolah kayu merbau dengan mendirikan industri pengolahan dengan kewajiban membangun hutan tanaman industri di sana. Menurut Menteri Kehutanan, MS Kaban, investasi itu terkait dengan kebutuhan kayu merbau olahan untuk membangun fasilitas olahraga menjelang olimpiade di Beijing, Cina.  ”BUMN Cina yang dikenal dengan nama China Light itu membutuhkan sekitar 800 ribu meter kubik kayu bulat atau setara dengan 400 ribu meter kubik kayu olahan sampai tahun 2008,” ujar Menhut.

Meski diolah terlebih dahalu, penggunaan kayu Merbau asal Papua dalam Olimpiade Beijing diprotes sejumlah LSM lingkungan. Alasannya, akan membuat hutan alam Indonesia khususnya kayu merbau Papua akan semakin habis dan terancam punah. Menurut, Chalid Muhammad, Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Nasional, keinginan China membangun fasilitas Olimpiade dari kayu merbau adalah tindakan yang memalukan. Ia mendesak Komite Olimpiade Internasional untuk segera menghentikan rencana itu.

(Sumber: Erabaru)

Beijing Menyensor Laporan Bank Dunia

Posted in Lingkungan oleh Seputar China pada Juli 13, 2007

Oleh He San 

Laporan Bank Dunia mengenai polusi di China masih belum terselesaikan, Financial Times melaporkan bahwa pemerintah China menyensor naskahnya. Naskah yang dihilangkan adalah 750,000 kematian prematur dikarenakan oleh polusi adalah “terlalu sensitif dan bisa menyebabkan kerusuhan sosial.” Dimana pakar lingkungan China percaya kematian dan rasio kematian di suatu area dibandingkan dengan populasi di area itu bisa lebih tinggi berdasarkan definisi luas dari polusi.     

Naskah “Harga polusi di China: Perkiraan Ekonomis dari Kerusakan Fisik” yang diterbitkan dari hasil kerjasama antara kementerian China dengan Bank Dunia tersedia di situs Bank Dunia pada bulan Maret. Menurut Financial Times, laporan “hilangkan kalkulasi kematian prematur…menurut penasehat bank dan pejabat China.” Yang mana termasuk juga 750,000 orang yang meninggal prematur di China setiap tahunnya, terutama disebabkan oleh polusi udara di kota-kota besar.”  

Pakar lingkungan China Zhu Jiajin mengatakan: “Saya percaya dan tidak terlalu terkejut. Orang-orang tidak peduli akan hal itu karena tidak ada yang memperhatikannya lantaran mementingkan pembangunan.” Bulan lalu Zhu dan pakar lingkungan lainnya telah mengadakan sebuah aktifitas “untuk mempertahankan tanah air” dan “Xiamen melawan PX-Benzene.” Ini adalah salah satu kasus kemenangan yang jarang terjadi. Dia mengatakan bahwa “polusi udara Xiamen adalah minor, mempertimbangkan kota-kota besar lainnya yang juga mengalami badai pasir. 

Menurut Financial Times, “dihilangkan dari laporan ini adalah proyek penelitian yang menemukan tingkat polusi tinggi di kota-kota besar yang mengakibatkan kematian prematur 350,000-400,000 orang setiap tahunnya. Selain itu, 300,000 orang meninggal prematur setiap tahunnya diakibatkan oleh udara di dalam ruangan yang buruk” dan “informasi kematian itu dengan segan dihilangkan oleh Bank Dunia dari laporan yang dipublikasi.” Sebuah analisa menunjukkan bahwa meskipun pemerintah China mengemukakan Green Domestik Produk (Green GDP), masalah polusi di dalam laporan itu menyebabkan kepedulian diantara partisipan Olimpiade.

Presiden Komite Olimpiade Internasional Australia telah menyarankan partisipannya untuk menghindari kedatangan awal di Beijing. Sehingga menghindari resiko polusi.    Xia Yeliang dari Peking University of Economics mengatakan, “Polusi tidak selalu menyebabkan kematian langsung. Terkena polisi udara tidak menyebakan kematian dalam hitungan hari atau bulan. Prosesnya bisa dalam waktu beberapa tahun.” Dia juga menyebutkan bahwa ada kesulitan teknis tertentu dalam menghubungkan polusi langsung dengan kematian tahunan atau prematur.

Tetapi, jika hanya mempertimbangkan rasio kematian di suatu area dibandingkan dengan populasi di area itu, jumlahnya akan melebihi 750,000 orang dalam setahun. Xia juga menyebutkan bahwa data sudah ditunjukkan bagaimana polusi udara berkepanjangan bisa menyebabkan penurunan harapan hidup dan memperburuk kondisi kesehatan di area tertentu. “Contohnya, banyak orang berumur antara 50-60 tahun mengalami kematian mendadak karena penyebab yang tidak diketahui di kota-kota tertentu. Penelitian mengatakan polusi udara sebagai penyebab utama dari rata-rata tingkat kematian yang tinggi.” 

Xia menunjukkan bahwa mempertimbangkan proyeksi harapan hidup di kota-kota adalah 70 tahun, jumlah kematian mendadak yang besar antara umur 50-60 tahun di kota-kota tertentu adalah disebabkan oleh faktor eksternal. Polusi udara, sebagai akibat dari komposisi kimia di udara, adalah salah satu faktor penyebab utamanya.

(Sumber: Radio Free Asia, 6 Juli 2007)