SEPUTAR CHINA


Pangan dalam Inflasi China

Posted in Ekonomi oleh Seputar China pada Februari 25, 2008

Senin, 25 Februari 2008

Film kolosal China terbaru berjudul The Warlords memperlihatkan kepada kita tentang pentingnya persoalan pangan sehingga orang bisa saling membunuh. Persoalan pangan China sudah lama dipikirkan penguasa negeri itu. Namun, lima tahun belakangan ini persoalan pangan di China sangat merisaukan dan dunia terus bertanya apa yang tengah terjadi di China.

Media massa di Hongkong SAR seperti The Standard, South China Morning Post, dan Financial Times pada pertengahan Desember 2007 ramai memberitakan inflasi China yang mencapai 6,9 persen (Oktober 2006-Oktober 2007). Angka ini merupakan angka tertinggi sejak 11 tahun terakhir.

Bila dirinci lebih mendalam, penyebab utama inflasi itu adalah kenaikan harga pangan yang mencapai 18,2 persen. Bila dirinci lagi, sejumlah komoditas pangan menjadi penyebab inflasi, mulai dari makanan pokok, minyak goreng, daging ayam dan sapi, daging babi, telur, pangan asal laut, sayuran, hingga buah-buahan (lihat tabel). Kenaikan tertinggi terjadi pada harga daging babi yang mencapai 56 persen.

”Saya hanya bisa membeli 500 gram daging babi setiap minggu, padahal biasanya saya bisa membeli 1 kilogram,” kata Jia Lanying, warga Beijing yang bergaji 2.000 yuan, seperti dikutip South China Morning Post, menyusul kenaikan harga daging tersebut dari 8 yuan menjadi 14 yuan per 500 kilogram.

Warga Hongkong pun diingatkan untuk berhati-hati. Menurut ekonom dari Universitas Lingnan, inflasi Hongkong bisa terpengaruh karena kenaikan konsumsi dan juga pergerakan mata uang yuan.

Perkembangan China

Lebih dari lima tahun lalu banyak pengamat telah memperingatkan kepada dunia tentang perkembangan di China. Problem ini ditambah dengan kenyataan produksi pangan yang cenderung turun sehingga harga sejumlah komoditas di pasar dunia mengalami kenaikan.

Laporan harian Asia Wall Street Journal, Maret 2004, mengungkapkan keluhan warga China terhadap kenaikan harga pangan. Di Fujian, kota di wilayah selatan China, pada pertengahan Februari 2004 harga beras mencapai 2.500 yuan per ton, atau lebih tinggi 19 persen daripada harga dua pekan sebelumnya. Di Provinsi Jianxi dan Zhejiang, harga beras mengalami kenaikan 60 yuan per ton dibandingkan dengan dua pekan sebelumnya.

Hal ini bermula dari saat China membuka perekonomiannya. Investasi riil masuk ke China. Investasi ini membutuhkan lahan untuk industri maupun infrastruktur. Alih fungsi lahan membuat lahan pertanian berkurang. Dampaknya, produksi berbagai komoditas pertanian berkurang. China yang dulu mengekspor beras dan gula berubah menjadi pengimpor.

Makanan pokok mereka adalah beras dan gandum. Kedua harga komoditas itu telah mengalami kenaikan harga yang fantastis. Harga beras yang pada empat tahun lalu di bawah 200 dollar AS kini telah di atas 300 dollar AS per ton. Stok gandum akan turun hingga titik terendah dalam 60 tahun terakhir. Stok turun dari 312 juta gantang menjadi 280 juta gantang pada akhir musim tanam 2007/2008. Musim dingin di Argentina, kekeringan di Australia, serta banjir di Eropa menjadi penyebab penurunan produksi gandum dunia.

Adapun kenaikan harga telur dan daging diakibatkan oleh kenaikan harga pakan. Harga pakan naik karena harga bahan dasar pakan seperti jagung mengalami kenaikan. Harga jagung mencapai 4,19 dollar AS per gantang, ini merupakan harga tertinggi dalam enam bulan ini.

Stok komoditas kedelai juga akan mengalami titik terendah. Harga kedelai untuk penyerahan bulan Januari 2008 adalah 11,32 dollar AS per gantang. Harga ini merupakan harga tertinggi selama 34 tahun.

Kenaikan harga minyak goreng diakibatkan oleh kenaikan harga bahan baku minyak goreng, yaitu minyak sawit mentah (CPO), yang terus mengalami kenaikan. Harga pada awal tahun 2007 sekitar 500 dollar AS, namun pada pertengahan tahun 2007 telah menjadi 760 dollar AS per ton. Kenaikan ini juga akibat penggunaan CPO untuk energi pengganti bahan bakar fosil.

Masalah ini masih akan berlarut-larut bila China tidak mengambil langkah-langkah pengetatan moneter. Laporan yang dikeluarkan Departemen Pertanian AS (USDA) menyebutkan, produksi komoditas pangan seperti jagung, kedelai, dan gandum akan mengalami penurunan.

Peringatan tentang situasi ini telah dikeluarkan Michael Lewis dari Deutsche Bank di London, seperti dikutip Financial Times. Ia menyebutkan, penurunan stok pangan dunia dan penurunan produksi komoditas pertanian di Asia akan menyebabkan lonjakan harga pada tahun 2008.

Harga komoditas

Lonjakan harga komoditas itu karena penurunan produksi dan permintaan dunia yang tinggi, baik untuk pangan maupun untuk produksi energi, menyusul kenaikan harga minyak dunia yang mencapai 100 dollar AS per barrel.

Kenaikan harga pangan sangat memukul penduduk di desa karena inflasi di desa sebesar 7,6 persen, sedangkan di kota hanya 6,6 persen. Masalah ini bisa meresahkan penduduk desa setelah sebelumnya penduduk desa memprotes sengketa tanah, polusi, dan korupsi yang terjadi di berbagai wilayah, seperti dilaporkan majalah Time bulan Maret 2006.

Kalangan dunia tengah mengamati langkah yang akan dilakukan China. Pengetatan ekonomi sudah pasti menjadi pilihan untuk mengerem inflasi. Bank Sentral China dilaporkan telah meminta bank-bank untuk meningkatkan rasio cadangan sebesar 1 persen. Angka ini tergolong tinggi sejak 1987.

Beijing juga sudah mengumumkan kebijakan moneter dari prudent (hati-hati) menjadi tight (ketat). Kebijakan kenaikan suku bunga bank juga diperkirakan akan dilakukan.

Meski demikian, harga bahan bakar minyak dunia yang mendekati 100 dollar AS per barrel akan menjadi masalah tersendiri. Meski sekarang harga bahan bakar minyak di China masih murah karena dikendalikan oleh pemerintah, namun harga minyak yang sangat tinggi dipastikan menyulitkan China.

Bila langkah yang dilakukan Pemerintah China adalah menaikkan harga minyak domestik, maka akan memunculkan masalah baru terkait dengan inflasi. Cepat atau lambat ”getaran” di China itu pasti dirasakan pula oleh negara tetangga, termasuk Indonesia. (MAR)
http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.kompascetak.xml.2008.02.25.01001248&channel=2&mn=5&idx=5

China Sebagai Sapi Perah Bagi Negara Barat (bagian I)

Posted in Ekonomi oleh Seputar China pada Oktober 31, 2007

Oleh seorang Profesor di sebuah Universitas di China
Forum Masa depan Negeri China 06 Mei 2007

Para petani China yang bekerja di ladang di Qionghai, Provinsi Hainan, China. Sementara kedua negara China dan Jepang telah melewati 30 tahun guncangan ekonomi, rata-rata gaji tenaga kerja di Jepang telah setara dengan tenaga kerja di Amerika Serikat, sedangkan di China hanya 3% dari rata-rata Amerika Serikat.

(Erabaru.or.id) – [Catatan redaksi: Saat dunia Barat dan PKC sedang memuji pertumbuhan pesat perekonomian China, banyak orang-orang berpengetahuan sedang mengungkap kebenaran di balik pertumbuhan ekonomi ini melalui riset dan pengumpulan fakta yang intensif. Bagaimana mungkin kita melepaskan diri dari model ekonomi yang tidak akan menyisakan apa pun untuk generasi berikutnya? Kepada semua kalangan yang sungguh-sungguh memperhatikan masa depan China: Marilah berbagi pemikiran dengan kami. editor@epochtimes.com]
Dari sisi sejarah, perjuangan yang dilakukan oleh China sekarang untuk membangun suatu masyarakat yang harmonis, adalah sebuah gerakan lain untuk menyelamatkan diri dari kehancuran. Sepanjang periode akhir abad 19 hingga awal abad 20, China secara politis dipecah-belah oleh negara-negara Barat.
Dari akhir abad 20 hingga awal abad 21, China terpecah lagi. Perbedaannya adalah, sebelumnya, pembagian dilakukan dengan perjanjian, sedangkan sekarang ini, adalah dengan peraturan.
Dampak utama dari pemisahan ini adalah bahwa negara sedang diubah menjadi “sapi perahan” oleh Negara Barat. Ini merupakan sebuah kaleng susu besar di mana kesatuan kapitalisme yang memonopoli dunia, semua memiliki penghisap yang berusaha untuk menarik lebih banyak lagi kekayaan keluar.
Pengembangan industri, yang sepenuhnya akan menghabiskan sumber daya alam dan tidak meninggalkan apa pun untuk generasi berikut, serta penyaluran kekayaan dalam jumlah besar ke negara-negara maju di Barat. Semua ini memang meningkatkan standar hidup dan merangsang pertumbuhan ekonomi global, tetapi dilakukan dengan mengorbankan kesejahteraan China sendiri
Tidak hanya kesejahteraan umum China sedang dikorbankan, tetapi yang lebih buruk lagi adalah sedang mencabut sumber daya bagi generasi berikut.
Dengan kata lain, kekayaan saat ini diciptakan melalui penghancuran sumber alam untuk masa depan. Ini adalah suatu kejahatan besar, dan yang lebih buruk lagi adalah generasi sekarang rakyat China bahkan tidak berhak menikmati pertukaran kekayaan sebagai imbalan atas perusakan sumber alam mereka – kekayaan ini sepenuhnya dinikmati oleh dunia Barat .
Baik China dan Jepang sudah 30 tahun melewati ekonomi yang penuh gelombang, rata-rata gaji di Jepang hampir menyamai Amerika Serikat, sedangkan di China hanya mencapai 3% dari rata-rata Amerika Serikat. 0.02% (menurut statistik yang terakhir) populasi yang menguasai 70% keseluruhan kekayaan negara, memindahkan uang mereka dan keluarga mereka keluar dari negeri itu.
Populasi China sekali lagi akan ditekan oleh “Tiga Pegunungan” selama pertumbuhan ekonomi yang cepat. Sebagai tambahan, kesatuan kapitalisme yang memonopoli dunia telah membuat berbagai persiapan untuk menyapu bersih seluruh sisa aset di China dengan memanipulasi pasar devisa dan bursa ketika waktunya tiba.
Ekonomi China Sekali Lagi Tengah Menghadapi Saat Yang Paling Berbahaya
I. Produk Domestik Bruto (PDB)
Sebagai apa yang disebut “tenaga penggerak ekonomi dunia,” China telah memberikan kontribusi yang mengejutkan untuk kemakmuran dunia dengan mengorbankan sumber daya alam, lingkungan, dan kesehatan masyarakatnya. Karena alasan itulah, China menjadi tuan rumah untuk tiga dari sembilan KTT Ekonomi Global yang telah diselenggarakan hingga saat ini.
Selama empat tahun berturut-turut, China dengan 4% PDB dunia telah menyumbang 15% pertumbuhan ekonomi dunia. Selama empat tahun tersebut, China menyumbang US$ 1.5 trilyun dari keseluruhan PDB dunia, yang kira-kira setara dengan 12 trilyun Yuan.
Dengan menghitung berdasarkan rata-rata gaji tahun lalu, angka terebut adalah senilai keseluruhan 6 tahun gaji semua pekerja di seluruh China. Besarnya kontribusi China pada perekonomian dunia direfleksikan paling baik dari penigkatan tajam harga sumber daya alam di seluruh dunia.

Oleh karena permintaan dan impor yang berlebihan dari China ,harga produk pertambangan naik rata-rata 70% per tahun, dan biaya transportasi air membumbung tinggi hingga mencapai rata-rata 170% per tahun. Pada waktu yang bersamaan, harga barang-barang impor ke dalam China juga mengalami kenaikan yang melambung, sedangkan barang- barang ekspor mengalami kemerosotan. Keseluruhan situasi ini menghasilkan satu gejala paling aneh dalam sejarah perekonomian dunia.
Kontribusi China di negara Asia bahkan lebih mengejutkan. 100% pertumbuhan ekspor Asia berasal dari China. China menarik ekonomi Asia keluar dari krisis di tahun 1998. Terutama yang harus dicatat adalah Jepang, sumber kekuatan finansial Asia, telah mempertahankan dua digit angka laju pertumbuhan ekspornya ke China sejak permulaan abad ini, dan ini menghasilkan peningkatan 70% dari total ekspor Jepang.
Bahkan Jepang telah mengakui bahwa kerjasama perdagangan dengan China telah mendukung perbaikan ekonomi Jepang yang didominasi oleh ekspor, ini adalah faktor utama yang menyumbang perbaikan ekonomi Jepang dari keterpurukan financial.

Akan tetapi, pertumbuhan ekonomi China tentu setara dengan dampak yang diakibatkan. Pengrusakan besar-besaran sumber daya alam dan lingkungan China telah ditukar dengan kemakmuran ekonomi dunia, negara Asia lainnya, seperti Jepang.
Di China, 8% sungai, danau dan aliran sungai mengalami kekeringan. Dua pertiga padang rumput dan pepohonan telah berubah menjadi padang pasir, banyak hutan belantara yang telah hilang dan hampir 100% lahan telah mengeras. Menurut data statistik bea cukai Jepang, sepuluh tahun belakangan ini, dua juta pohon telah digunakan untuk membuat sumpit setiap tahun, untuk kepentingan ekspor ke Jepang rata-rata 224,3 juta pasang sumpit sekali pakai (disposable).
Ahli ilmu kehutanan Cina memperkirakan bahwa area penggundulan hutan untuk menghasilkan jumlah besar sumpit tersebut meliputi lebih dari 20% wilayah China.
Dengan lenyapnya sumber alam, lingkungan hidup untuk manusia tengah terancam. Sepertiga daratan Cina telah terimbas hujan asam. 2/5 sungai utama di China telah dikategorikan berada dalam polusi tingkat kelima.
Diperkirakan bahwa lebih dari 300 juta orang-orang di pedesaan tidak mendapatkan suplai air bersih layak minum dan lebih dari 400 juta orang-orang di perkotaan menghirup udara dengan tingkat polusi tinggi. Sebagai akibatnya, 15 juta orang-orang mengalami bronkitis dan kanker saluran pernapasan.
Menurut laporan yang dikeluarkan oleh Bank Dunia, 16 dari 20 kota besar dengan tingkat polusi tertinggi di dunia adalah berlokasi di China. 2/3 dari 668 kota dikelilingi oleh sampah. Sisa buangan ini tidak hanya menempati tanah yang disediakan untuk pertanian tetapi juga mengancam mata pencarian mereka. Ketidakmampuan untuk memproses sampah mereka sendiri, juga menyebabkan China telah menjadi tempat pembuangan sampah bagi negara-negara berkembang di barat.
Salah satu dari tiga barang ekspor Amerika ke China dengan tingkat pertumbuhan paling cepat adalah sampah. Di bagian selatan China, tempat dimana mereka mengumpulkan sampah impor, beberapa binatang telah mati, genetika tumbuhan telah berubah dan kesehatan manusia semakin memburuk. Di beberapa daerah, dalam beberapa tahun ini, tak ada seorangpun yang memiliki kualifikasi untuk mendaftar di dalam ujian militer karena hasil pemeriksaan kesehatan yang tidak memenuhi syarat.
Sekalipun telah mempertimbangkan peningkatan di bidang ekonomi, kerugian yang diakibatkan masih sungguh mengejutkan. Di tahun 2003, kerugian ekonomi akibat polusi lingkungan dan pengrusakan ekologi mencapai 15% dari PDB, sedangkan China menyumbang kenaikan 15% keseluruhan perekonomian dunia.
Tidak hanya lingkungan alam di China yang terus memburuk, masyarakat secara keseluruhan juga memburuk. Dari tahun 1979 hingga 2003, perkara pidana mengalami peningkatan enam kali lipat dari 5.5 kasus per sepuluh ribu hingga 34.1 kasus. Terdapat peningkatan 7% setiap tahunnya dan perbedaan ini semakin mematahkan harapan dengan standar penanganan kasus yang memburuk. Tingkat kematian naik dari 4.4 per ratus ribu di tahun 1979 hingga 10.6 per ratus ribu di tahun 2003, peningkatan 3.5% setiap tahunnya.
Pada tahun 2003, departemen kesehatan melaporkan peningkatan penyebaran penyakit menular hingga 6,7% dengan tingkat kematian meningkat 37%. Masyarakat China sudah sampai tidak tahu lagi pintu atau jendela keamanan apa yang harus dipasang hingga lantai ke 7 dari apartemen. Dengan berkembangnya tingkat kejahatan, perusahan di seluruh negeri China tidak lagi mempekerjakan para pekerja wanita pada malam hari.

Lebih dari itu, makanan beracun telah tersebar di China; orang-orang sekarang ini sama sekali sudah tidak tahu lagi substansi apa yang mereka makan. Pubertas awal juga merupakan fenomena yang tersebar di sekolah kanak-kanak dan secara langsung mempengaruhi masa depan kesehatan dan tingkat harapan hidup.

Kira-kira 20 juta anak perempuan terpaksa menjadi pelacur dan pendapatan mereka menyumbang PDB nasional hingga 6%, setara dengan satu trilyun yuan (US$ 120 milyar). Rata-Rata tinggi orang China adalah 2.5 cm lebih pendek dibanding orang Jepang.
Menurut berita terkait, untuk setiap 100 juta yuan peningkatan PDB, satu orang pekerja meninggal dunia di China akibat kecelakaan kerja. Pada tahun 2003, ada 136 ribu kematian dilaporkan di China. Dengan demikian perhitungan menunjukan bahwa hampir 20 ribu kematian kecelakaan kerja terjadi tahun ini. Ini yang disebut sebagai PDB berlumuran darah.
Sesungguhnya, jumlah kematian ini seperti gunung es terapung. Peristiwa yang dilaporkan hanyalah dari perusahaan milik pemerintah atau kecelakaan besar yang banyak memakan korban. Korban di perusahaan swasta maupun perusahan asing biasanya tidak tercatat dalam departemen statistik. Padahal jenis bisnis inilah yang mempekerjakan lebih banyak orang dibandingkan perusahaan milik negara. Jika faktor ini diperhitungkan, banyaknya kematiannya setiap tahunnya dapat menyamai korban pembantaian Nanjing .

II. Perdagangan Luar Negeri
Kehebatan China sebagai “pemasok darah” kemakmuraan ke negara berkembang di Barat telah meletakkan ekonomi China dalam status yang paling menyedihkan. Harga produk ekspor dari China sangat rendah hingga hampir seperti tak ada harganya. Terkecuali orang-orang kulit putih yang pada awalnya datang ke Afrika untuk menangkap orang-orang kulit hitam tanpa bayaran, tidak ada pernah koloni lainnya dalam sejarah yang melakukan perampasan hingga batas seperti ini.
Jika perdagangan luar negeri sebanding dengan harga pasar di negara berkembang, orang akan menemukan bahwa 95% lebih dari keuntungan perdagangan luar negeri telah dibawa oleh para pelaku bisnis asing. Tahun lalu, China mengekspor 17.7 milyar pakaian, dengan harga rata-rata per potong US$3.51; harga sepatu rata-rata kurang dari US$2.5 satu pasang.
Boneka Barbie yang populer di pasar Amerika dijual seharga US$10 per biji, tetapi pabriknya di Suzhou, China hanya mendapat US$0.35. Logitech mengirim 20 juta mouse komputer buatan China ke Amerika setiap tahunnya, yang akan dijual dengan harga sekitar US$40 per buah, tetapi China hanya mendapatkan US$3.00 per buah. Jumlah pemasukan mereka yang kecil tersebut harus dapat menutupi gaji pekerja, listrik , transportasi dan pengeluaran lainnya.
China menggunakan kurang dari 5% keuntungan ini untuk mengakumulasi cadangan devisa asing sebesar US$ 1 trilyun. China menyokong US$ 20 trilyun untuk modal monopoli internasional, yang setara dengan 160 trilyun yuan, hampir 80 kali total gaji tahunan nasional.

Pada perayaan tahun ke-5 keanggotaan China di WTO, CCTV (China Central Television) berulang kali menyiarkan bahwa China telah membantu keluarga Amerika menghemat seperlima biaya hidupnya dalam lima tahun keanggotaan China di WTO.

Laporan Morgan Stanley juga menunjukkan konsumen Amerika telah menghemat US$100 milyar dengan membeli produk murah dari China. Sebab membeli sumpit buatan China bahkan lebih murah dibanding mencuci sumpit, masyarakat Jepang membuang sumpitnya setelah sekali digunakan.
Karena sangat murah, Jepang, yang telah menghentikan membakar batubara dalam jangka waktu panjang, mengimpor batubara dari China di atas 20 juta ton setiap tahun untuk mengisi lautan, dan membuat tambang batu bara buatan untuk cadangan energi. Situasi dimana China membuat komoditas murah sekali pakai (disposable) ke negara barat telah mengejutkan beberapa orang-orang berhati baik di Barat. Meskipun sumber daya alam China sedang dibinasakan, mereka menyerukan perubahan dalam konsumsi barang sekali pakai dan menghimbau China untuk melindungi sumber daya alamnya.
Keuntungan utama dari perdagangan luar negeri diambil oleh pedagang asing. Sehingga, pelaku bisnis China mengeksploitasi para pekerja untuk mengurangi biaya. Setelah peristiwa Foxconn, Perusahaan Apple dari Amerika Serikat dan Britain’s Financial Times berturut-turut datang ke China untuk melakukan penyelidikan.
Laporan mereka menunjukkan Foxconn mempunyai 150.000 pekerja wanita, yang bekerja lebih dari 15 jam per hari dengan pendapatan kurang dari US$50 per bulan, jumlah yang setara dengan kurang dari dua jam kerja di Amerika Serikat. Bahkan dengan gaji rendah seperti itu, tidak diketahui apakah pekerja dapat menerima gaji mereka tepat waktu.
Gaji rendah seperti itu telah membuat para pekerja modern menjadi budak. Mayoritas para pekerja ini bekerja keras dalam suatu situasi seperti ini, seolah-olah bekerja tanpa imbalan, demi harapan akan mendapatkan status kependudukan kota suatu hari. Bagi mereka, bekerja gratis seperti ini tidaklah menakutkan.

Luka-luka dan cacat adalah yang paling menakutkan. Adalah mustahil bagi seorang atasan, yang lebih dari 95% keuntungannya telah diambil pergi oleh pengusaha asing, akan membayar biaya perlindungan kerja. Dengan demikian, menjadikan luka-luka dan cacat menjadi mimpi terburuk bagi para pekerja.

Menurut suatu penyelidikan sukarelawan oleh Zeng Feiyang, di Area Sungai Segitiga Mutiara, basis ekspor China, sedikitnya terdapat 30.000 kecelakaan yang menyebabkan jari patah, dan lebih dari 40.000 jari terpotong mesin per tahun. Kecelakaan ini terjadi di bagian pemotongan (punching), yang mana hanya sebagian kecil dari keseluruhan mesin yang ada. Jumlah kecelakaan kerja yang terjadi di bagian mesin yang lain masih belum diketahui.
Untuk memelihara stabilitas sosial, pemerintah lokal memutuskan untuk tidak mengumpulkan data statistik kecelakaan kerja lagi. Akan tetapi sebelum keputusan ini dibuat, survei terhadap delapan juta pekerja petani di kota Shenzhen mengungkapkan satu per lima dari mereka pernah mengalami kecelakaan kerja atau penyakit akibat pekerjaan mereka. Setiap pabrik di Shenzhen mengganti pekerja mereka setiap dua tahun.

Untuk mencegah tuntutan perkara oleh pekerja yang terluka dan cacat, yang dapat mempengaruhi kepentingan ekonomi dan stabilitas sosial, beberapa tempat di Area Sungai Segitiga Mutiara memperpanjang waktu penuntutan bagi para pekerja petani hingga tiga tahun lamanya. Hal ini memaksa para pekerja melepaskan hak mereka, karena mereka tidak mampu dan harus kembali ke daerah pinggiran untuk sisa hidup mereka. Sungai Mutiara penuh dengan darah dan air mata pekerja petani.

Berbicara mengenai harga mahal yang harus dibayar oleh pekerja petani, setiap orang tidak dapat membayangkan mengenai musibah tambang yang terjadi di China. Dari tahun 2001 hingga tahun 2005, rata-rata keseluruhan negeri, kecelakaan fatal tambang batu bara terjadi setiap minggu. Harga ekspor tahunan 80 juta ton baru bara adalah merupakan rata-rata kematian 6000 petambang setiap tahunnya. Ini menunjukkan 17 kematian per hari.

Data ini didapat dari statistik yang dikumpulkan oleh pemerintah. Angka sebenarnya jauh melampaui angka-angka tersebut.
Bahkan dengan angka ini , tingkat kematian buruh tambang batubara di China adalah 100 kali lipat dari Amerika Serikat, 10 kali dari Rusia dan India. Angka kematian buruh tambang di China adalah nomor satu di dunia dengan jumlah kematian melebihi jumlah keseluruhan kematian di negara lainnya.

Keuntungan mengagumkan untuk modal monopoli internasional dan kemakmuran mengejutkan bagi pemilik tambang China didapat dengan nyawa para pekerja tambang. Pada Expo Mobil Internasional Beijing tahun ini, seorang pemilik tambang, menyeka hidungnya, ingin membeli sebuah mobil Ferrari seharga beberapa juta dolar.

Ketika juru bicara peragaan memberitahukan bahwa mobil tersebut sangat mahal, ia berteriak dan mendengus sambil menunjuk gadis tersebut, “Beritahukan harga kamu, saya akan membeli kamu juga.” Pada akhirnya, beberapa pemilik pertambangan membeli lebih dari 80 Ferrari.

Penyelewengan kekayaan ini tidak dapat ditemukan bahkan diantara para tuan tanah dari masyarakat feodal, para kapitalis di masyarakat modern, atau penguasa jajahan.

Sumber : http://en.epochtimes.com/news/7-5-6/54972.html

China, Korupsi dan Demokrasi

Posted in Ekonomi oleh Seputar China pada Oktober 30, 2007

Oleh: Fadjar Pratikto*

Sejumlah langkah pemberantasan korupsi tak hentinya dilakukan pemerintah China. Baru-baru ini, nama-nama dan gambar pejabat negara yang korup dipajang dalam sebuah pameran di Beijing. Warganya juga dididik agar membenci koruptor melalui game online, dimana para pejabat yang korup boleh dibunuh dengan senjata, ilmu hitam, atau disiksa.

Banyak negara termasuk pemerintah Indonesia cukup tercengang atas keberanian negara komunis itu dalam menjerat para koruptor. Lebih-lebih hukuman mati dikenakan kepada mereka. Tak heran jika China kini telah menjadi model dalam pemberantasan korupsi di Asia. Beberapa negara merasa perlu belajar dari China. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bahkan menjalin kerjasama dengan China untuk pemberantasan korupsi sejak Juli lalu.

Ancaman Korupsi
Komitmen kuat penguasa China untuk memberantas korupsi sudah dimulai sejak masa Zhu Rongji (1997-2002). Pemberantasan korupsi yang dilakukan Perdana Menteri China itu, merupakan bagian dari reformasi birokrasi. Langkah ini memberikan kepastian hukum sehingga mendorong iklim investasi yang mampu menghimpun dana asing senilai 50 miliar dollar AS setiap tahun. Pertumbuhan ekonominya langsung melesat– terlepas dari kelemahannya.

Sayangnya langkah itu justru menyurut di bawah Presiden Jiang Zemin pada awal 2000-an. Jiang menggunakan kekuasaannya untuk memperkaya diri dan kelompoknya– geng Shanghai. Jiang Mianheng putra sulungnya, selain difasilitasi dalam usaha bisnisnya, juga diberi jabatan. Jiang pun menghimpun dana tak terbatas dari sejumlah departemen untuk menindas kelompok politik dan spiritual yang dianggap sebagai musuhnya, seperti Falun Gong.

Setelah Hu Jintao berkuasa, api pemberantasan korupsi kembali menyala. Penguasa China itu memperingatkan kepada para anggotanya bahwa korupsi mengancam partai di tampuk kekuasaan. Baginya, kekuasaan PKC tidak bisa dianggap keniscayaan semata, sedangkan gerakan antikorupsi merupakan “perjuangan hidup dan mati” bagi partai komunis.

Kegerahan Hu atas kasus korupsi bisa dipahami. Reformasi ekonomi yang cenderung kapitalistik yang tidak diikuti dengan reformasi politik yang demokratis, telah membuat elite partai yang berkuasa leluasa menumpuk kekayaan. Hal itu diperparah dengan tidak adanya kontrol masyarakat sipil dan pers. Dilaporkan setidaknya 4 ribu pejabat korup telah hengkang dari China dalam 20 tahun terakhir ini dengan menggondol setidaknya US $ 50 miliar..

Sepanjang 2004, pemerintahan Hu menghukum sebanyak 164.831 anggota partai karena menguras uang negara lebih dari 300 juta dollar AS. Sebanyak 15 diantaranya menteri. Selama 6 bulan pertama 2007, angka resmi menyebutkan 5.000 pejabat korup dijatuhi hukuman. Terakhir, mantan Direktur Administrasi Negara untuk Makanan dan Obat-obatan Zheng Xiaoyu yang terbukti menerima suap 6,5 juta yuan (sekitar Rp 75 miliar) dieksekusi mati.

Belakangan elite politik mulai terseret. Chen Liangyu, mantan sekretaris partai di Shanghai yang dekat dengan Jiang Zemin diajukan ke pengadilan tahun lalu. Dia diduga terlibat skandal korupsi senilai 1,25 miliar dollar AS. Begitu juga kasus pemecatan Menteri Keuangan Jin Renqing pada akhir Agustus 2007 lalu. Setelah dikabarkan terlibat skandal wanita, belakangan diketahui dia berperan dalam penggalangan dana untuk menindas Falun Gong. Sebanyak triliunan Yuan uang negara disalahgunakan demi politik Jiang itu.

Tanpa Demokrasi
Saat ini China menerapkan tiga langkah untuk memberantas korupsi, yaitu memperbaiki sistem birokrasi, meningkatkan penyidikan terhadap pegawai negeri, dan mengawasi kekuasaan. Pengawasan ditingkat administrasi pemerintahan dilakukan oleh Kementrian Pengawasan, sedangkan pengawasan internal di tubuh partai dijalankan oleh Direktorat Disiplin.

Seperti di Indonesia, meski pemerintah China terus melakukan kampanye antikorupsi dan penangkapan ratusan pejabat, aksi penyuapan, penggelapan, dan berbagai bentuk tindak korupsi masih terjadi. Hal itu dimungkinkan karena elite partai masih menguasai industri penting seperti perbankan, properti dan manufaktur, dan pemerintah pusat tak bisa mengontrolnya.

Sebenarnya korupsi di China jauh lebih besar dari yang dipublikasikan secara resmi. Di The International Herald Tribune, Jim Yardly menyebutnya “boom in corruption”. Apalagi pers dan internet masih dikendalikan partai. Meski berdasarkan Indeks Persepsi Korupsi (IPK) 2007 yang dikeluarkan Transparency International menunjukan China mendapat skors 3,5, atau jauh lebih baik dari Indonesia yang skornya hanya 2,3, namun dalam praktek korupsi sangat mungkin keadaanya jauh lebih parah. Hal itu dimungkinkan mengingat survey ini didasarkan pada persepsi pengusaha yang berada di bawah tekanan rejim komunis.

Kewenangan PKC yang sangat besar adalah akar masalahnya. Anggota partai yang berjumlah sekitar 68 juta orang mendapat perlakuan istimewa, dimana kejaksaan atau kepolisian tidak boleh menentukan, apakah orang tersebut boleh diajukan ke pengadilan atau tidak. Partailah yang menentukan proses hukumnya, termasuk dalam penetapan hukumannya. Jadi partai bisa berada diatas hukum maupun undang-undang yang berlaku. Tingkat kerahasiaan yang sangat tinggi di pemerintahan selama ini, turut juga menyuburkan korupsi.

Meski Presiden Hu ingin memastikan legitimasinya dengan menanggapi tuntutan publik untuk membasmi korupsi, ia belum menunjukkan kemauannya untuk mereformasi sistem politiknya. Wajar saja jika upaya gerakan antikorupsi yang dilakukannya terkesan hanya bertendensi politis untuk menyingkirkan klik Jiang yang masih mengendalikan asset dan kekuasaan.

Bagaimanapun, demokrasi termasuk kebebasan pers, adalah pilar pokok pemberantasan korupsi. Keinginan Hu Jintao mempertahakan kekuasaan monolitik partai dengan alasan menghindari demokrasi gaya barat, tentu menjadi kontra produktif dengan pemberantasan korupsi. Sebab tanpa melibatkan pers, rakyat, dan organisasi masyarakat sipil dalam pengawasan, gerakan antikorupsi tidak akan berjalan efektif dan akan selalu dipenuhi kepentingan politik.
———————–
* Penulis adalah pengamat China, bekerja di Transparency International (TI) Indonesia

http://erabaru.or.id/k_21_art_18.html

“Made in China” dari Kamp Kerja Paksa

Posted in Ekonomi oleh Seputar China pada Agustus 15, 2007

kupu2-hsil-kerjapaksa2.jpg

Oleh Lin Zhanxiang

Tahun-tahun belakangan ini, China secara berangsur-angsur menjadi sebuah pabrik bagi pasar dunia. Produk-produk buatan China sedang membanjiri pasar internasional. Bagaimana mungkin China menghasilkan berbagai produk ini sedemikian “murah”?

Banyak orang-orang belum melakukan riset secara mendalam pada masalah ini, dan hanya berpikir bahwa tenaga kerja di China murah. Sesungguhnya, lebih dari itu–banyak produk yang dihasilkan dengan menggunakan tenaga kerja paksa dari narapidana yang ada di dalam penjara dan kamp-kamp kerja paksa, termasuk banyak tahanan ilegal dari praktisi Falun Dafa.

Gambar yang terpampang adalah beberapa contoh produk yang dibuat oleh para praktisi yang secara ilegal ditahan. Ada sauvenir kupu-kupu dibuat oleh praktisi Falun Gong yang dipenjara di Kamp Kerja Paksa Wanita Heizuizi di Kota Changchun, Provinsi Jilin. Ada juga beberapa produk kerajinan tangan dan barang-barang perhiasan anak-anak seperti kalung dan gelang yang dibuat oleh praktisi Falun Gong di Kamp Kerja Paksa Masanjia di Kota Shenyang, Provinsi Liaoning.

Disamping menganiaya para praktisi dengan menggunakan berbagai metode penyiksaan kejam, pembunuhan serta pelecehan seksual, Partai Komunis China (PKC) juga memanfaatkan kerja paksa dan pengambilan organ dari para praktisi yang masih hidup untuk mendapatkan keuntungan yang sangat besar.

Para praktisi Falun Gong secara ilegal ditangkap dan dikirim ke penjara, berbagai kamp kerja paksa dan pusat-pusat pencucian otak, hanya karena teguh di dalam keyakinan mereka terhadap Falun Dafa dan prinsip ‘Sejati, Baik dan Sabar.’

Sementara mereka disiksa secara fisik, mereka juga harus menjalani hukuman kerja paksa untuk lebih dari 10 jam sehari dengan kondisi kerja yang sangat buruk untuk menghasilkan berbagai produk. Produk-produk ini diekspor ke Amerika Serikat, Jepang, Australia, Eropa, dan telah membawa masuk sejumlah besar devisa bagi PKC.

Eksploitasi para praktisi untuk kepentingan ekonomi merupakan elemen penting dari penganiayaan Falun Dafa oleh PKC. Pada kenyataannya, produk-produk yang diberi label “Made in China” seharusnya lebih tepat diberi label “Made in China oleh Tenaga Kerja Paksa.”

Banyak produk-produk buatan China yang diekspor, dikerjakan oleh tenaga kerja paksa, hal mana melanggar peraturan WTO (World Trade Organization) dan telah mendatangkan PKC devisa sangat besar, yang lebih lanjut digunakan untuk menganiaya Falun Gong serta untuk membayar bonus kepada para polisi, aparat Kantor 610 dan lainnya, agar lebih giat lagi menganiaya para praktisi.

Ketika orang-orang berbicara tentang “keajaiban” ekonomi China dan cadangan devisanya yang sangat besar, apakah mereka mengetahui berapa banyak darah yang telah ditumpahkan di belakang tirai gelap ini?

Chinese: http://minghui.ca/mh/articles/2007/7/18/159108.html

English: http://www.clearwisdom.net/emh/articles/2007/7/30/88152.html

Laju Inflansi China Melonjak

Posted in Ekonomi oleh Seputar China pada Agustus 14, 2007

Pemerintah China merisaukan dampak inflasi

Laju inflasi China menyentuh tingkat tertinggi sejak Februari tahun 1997. Data-data baru dari Biro Pusat Statistik menunjukkan inflasi 5 koma 6 persen lebih tinggi dari perkiraan.

Naiknya harga makanan dianggap menjadi penyebab, seperti dilaporkan wartawan BBC Quentin Sommerville dari di Shanghai.

Harga daging, termasuk babi melonjak 45 persen dalam setahun, harga telur naik hingga 30 persen. Rendahnya stok makanan dan hancurnya tanaman karena iklim yang buruk dianggap menjadi penyebab kenaikan ini.

Pemerintah yang sadar kenaikan harga ini bisa mengganggu ekspor Cina dan bisa punya akibat politik, sudah berjanji menyelidiki semua kasus kemungkinan pengaturan harga.

Bank sentral Cina sudah hampir pasti akan menaikkan kembali suku bunga bank. Beijing sudah meningkatkan biaya pinjaman tiga kali lipat tahun ini dan pemerintah berjuang untuk mendinginkan perekonomian Cina yang terlalu panas.

Cina dibanjiri uang tunai. Inflasi yang tinggi dan bunga bank yang relatif masih rendah,membuat banyak orang berpikir, tidak begitu banyak untungnya menyimpan dana di bank.

Kebanyakan orang menanamkan dananya di bursa saham. Indeks bursa saham
Shanghai hari Senin tidak terpengaruh dengan berita inflasi ini dan justru menyentuh tingkat indeks tertinggi.

Harga-harga rumah juga semakin mahal, dan para ahli ekonomi mencurigai, para pemimpin propinsi Cina mungkin tidak melaporkan kenaikan harga yang sebenarnya. Jadi gambaran inflasi yang sebenarnya di Cina, besar kemungkinan jauh lebih buruk, kata wartawan kami.
http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2007/08/070813_chineseinflation.shtml