SEPUTAR CHINA


Mempertanyakan Kesepakatan RI-China Bela Negara Berkembang

Posted in Analisis oleh Seputar China pada Juli 20, 2007

Pernyataan Menlu China bahwa pemerintahnya akan membela Negara Berkembang patut dipertanyakan. Apalagi selama ini rejim komunis China justru sering memperkeruh suasana keamanan di negara-negara Dunia Ketiga dengan membela rejim-rejim otoritarian.

Belum lama ini pemerintah RI dan China telah sepakat meningkatkan koordinasi dan kerja sama bilateral membela kepentingan negara-negara berkembang, baik melalui forum regional maupun internasional.

“Dalam pembicaraan tadi, kami sepakat memperdalam kerja sama APEC dan ASEAN. Meningkatkan koordinasi dalam masalah regional dan internasional. Sebagai sesama negara besar, kami ingin membela kepentingan negara-negara berkembang,” ujar Menlu Cina Yang Jiechi. Hal tersebut disampaikannya usai diterima Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Kantor Presiden, Jakarta (5/7/2007).

Pernyataan tersebut tentu bertolak belakang dengan realitas yang dilakukannya. Setahun lalu, Amnesty Internasional pernah melaporkan bahwa Beijing memperburuk perang dan membantu penindasan dengan menjual senjata serta perlengkapan militer ke negara-negara seperti Sudan, Birma, dan Nepal. Amnesty International mengatakan China adalah satu-satunya eksporter besar senjata yang tidak menandatangani persetujuan yang mengatur perdagangan senjata.

Amnesty menantang langkah Cina itu. “China menggambarkan praktek pemberian ijin ekport senjata sebagai ‘berhati hati dan bertanggung jawab’ namun dalam kenyataannya hal itu tidak benar,” jelas Helen Hughes, penulis laporan tersebut. Menurutnya, China adalah satu satunya eksportir senjata utama yang belum menandatangani perjanjian multilateral apapun dengan kriteria untuk mencegah eksport senjata digunakan dalam pelanggaran hak asasi manusia serius.

Laporan itu menyebutkan pada tahun 2005, Beijing mengapalkan 200 truk militer China ke Sudan dan negara itu juga membantu junta militer di Birma dengan senjata. Selama ini, China jarang memberikan komentar tentang eksport senjata, walaupun Cina adalah salah satu sekutu junta. Laporan itu juga menuduh Cina menjual senjata dan granat ke pasukan keamanan Nepal di saat terjadinya pemberontakan masal terhadap monarki oleh warga sipil.

Laporan itu menyebutkan eksport China bernilai lebih dari $1 milyar senjata setiap tahun, dan sering menukar senjata dengan bahan mentah untuk mendukung perekonomian negara itu. Untuk itu, Amnesty mendesak China merubah prakteknya saat ini dengan cara yang lebih transparan dan mendukung traktat perdagangan senjata internasional. “Kami menyerukan bagi Cina untuk menegakkan hukum dan komitmen mereka, dengan melarang semua transfer senjata ke tempat tempat yang mungkin digunakan untuk melanggar hak asasi,” kata Hughes.

Kenyataan tersebut menunjukan bahwa China bukanya membela negara berkembang dalam pengertian mendukung upaya perdamaian dunia, melainkan justru sebaliknya memperkeruh suasana. Dukungan rejim komunis China dalam kasus Darfur (Sudan) dan penolakannya terhadap resolusi PBB atas junta militer di Myanmar belum lama ini adalah buktinya.
(Diolah dari berita bbc dan detik.com)
http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2006/06/060612_chinaarms.shtml
http://www.detik.com/indexberita/indexfr.php

Iklan

Antara Olimpiade Berlin dan Olimpiade Beijing

Posted in Analisis oleh Seputar China pada Juli 20, 2007

Pada musim panas tahun 1936, sebuah pertandingan Olimpiade sebagai suatu hal besar yang belum pernah terjadi sebelumnya, diselenggarakan di Berlin, Jerman, di tengah-tengah seringai tersembunyi dari Nazi, dimana Adolf Hitler memberikan pidato pembukaan. Tiga tahun kemudian, fasis Jerman melakukan serangan kilat lewat Polandia, maka pecahlah Perang Dunia Kedua dan seluruh dunia terbenam dalam malapetaka. Ini merupakan sebuah tragedi dalam sejarah Olimpiade.

Di tahun 1930-an, tidak sedikit orang yang berpengetahuan, watak jahat Nazi telah nyata terlihat, namun tetap membiarkan suatu rejim yang menindas kemanusiaan menyelenggarakan Olimpiade. Pesta olah raga dunia yang penuh dengan semangat kemanusiaan diadakan oleh NAZI yang sedang menindas ribuan nyawa tak berdaya, sungguh bertentangan dengan semangat Olimpiade.

Pada saat itu, kekejaman Nazi telah diketahui meskipun ada retorika dan penyangkalan dari rejim itu. Hal ini merupakan perpaduan dari pandangan sempit, prasangka, menipu diri sendiri, mati rasa, daripada trik kebohongan Nazi, yang membawa bangsa-bangsa besar mengadopsi kebijaksanaan menjaga ‘ketenteraman’. Persetujuan pada kejahatan berarti berkolaborasi dengan srigala, dan gigitan srigala menjadi tidak terelakkan. Sehingga, ketika Perang Dunia Ke-II berakhir, komunitas internasional menyimpulkan bahwa perlindungan terhadap hak asasi manusia adalah dasar bagi perdamaian dunia, dan ancaman sebuah tirani pada suatu wilayah adalah ancaman bagi seluruh dunia. Mereka lalu mengikrarkan slogan “Never Again” bagi tragedi kemanusiaan ini untuk tidak terulang kembali. Ini adalah suatu pelajaran sejarah bagi umat manusia. Namun saat ini, sedang terulang kembali.

Suatu tinjauan ulang abad ke-20 mengindikasikan bahwa, dibandingkan fasisme Nazi, Gerakan Komunisme Internasional yang keji telah membawa lebih banyak kejahatan kemanusiaan yang mengerikan. Nazi lenyap begitu Perang Dunia Ke-II berakhir, tetapi Gerakan Komunisme Internasional pada suatu waktu tumbuh seperti rumput liar. Setelah mengakibatkan ratusan juta kematian, Partai Komunis China (PKC), perwujudan gerakan komunisme dan benteng terakhir mereka, memanfaatkan Olimpiade 2008 di Beijing untuk mempertahankan kekuasaannya dan memperdaya dunia.

Waktu sepertinya kembali lagi pada musim panas 1936. Genosida Nazi dengan horornya, masih kalahdibandingkan genosida yang dilakukan PKC. Semenjak PKC mengambil alih kekuasaan di Vhina pada 1949, mereka tidak pernah berhenti melancarkan gerakan-gerakan politiknya, yang mengakibatkan 80 juta rakyat China tewas. Gerakan yang terakhir adalah menindas Falun Gong, kaum minoritas, gereja bawah tanah, dan ikut mendukung genosida di Darfur dengan memasok senjata kesana, dan masih terus berlangsung hingga kini.

Hari ini, tepat tanggal 20 Juli, tepat 8 tahun sudah penindasan terhadap Falun Gong dilakukan oleh PKC dan telah menewaskan ribuan rakyat China yang berlatih Falun Gong. Tragedi-tragedi yang terjadi di kamp-kamp konsentrasi Nazi adalah begitu menakutkan bagi orang-orang masa kini sehingga mereka tidak berani, dan tidak ingin, mempercayai bahwa itu semua memang benar pernah terjadi, namun semuanya memang benar pernah terjadi. Saat ini, PKC juga melakukan hal yang sama, bahkan lebih buruk lagi, tidak hanya menyekap rakyatnya di kamp kamp konsentarasi dan membunuhnya– mengeruk uang melalui pengambilan organ tubuh dari para praktisi Falun Gong yang masih hidup, perbuatan jahat yang tidak pernah ada di planet bumi ini – secara nyata dan keras memukul jiwa semua dari mereka yang masih memiliki hati nurani.

Nilai terbesar dari berbagai tragedi dalam sejarah terletak pada potensinya untuk membantu menghindari pengulangan. Penyelenggaraan pertandingan Olimpiade 2008 di Beijing yang akan datang menimbulkan banyak pertanyaan-pertanyaan penting kepada komunitas internasional: apakah kita mau mengulangi tragedi yang sama di Berlin atau mau memilih masa depan yang lebih baik?

Oleh karena itu, masyarakat dunia yang peduli akan hal ini, tidak lagi diam atas penganiayaan yang dilakukan rejim komunis China, membangkitkan hati nurani mengadakan Obor Estafet HAM secara global, untuk mengekspos kejahatan kemanusiaan di Beijing yang dialami rakyatnya. Tujuannya tidak lain adalah agar PKC segera menghentikan penindasannya, menyelamatkan banyak nyawa di negeri itu. Obor ini mulai akan dinyalakan di Athena, Yunani dan akan berkeliling dunia, dan berakhir di Asia.