SEPUTAR CHINA


Presiden Bush temui Dalai Lama

Posted in Agama,HAM oleh Seputar China pada Oktober 17, 2007

Dalai Lama

Dalai Lama terima penghargaan tertinggi bagi warga sipil
Presiden Amerika Serikat George Bush mengadakan pertemuan dengan Dalai Lama, pemimpin spiritual Tibet pada 16 Oktober 2007 lalu, meski pemerintah China mengajukan keberatan.

Ini adalah pertemuan ketiga antara Presiden Bush dan Dalai Lama sejak 2001.

Juru bicara pemerintah China mendesak Amerika ‘memperbaiki kesalahan dan membatalkan pertemuan dengan Dalai Lama’.

Pemerintah Amerika mengatakan Presiden Bush memahami kekhawatiran Beijing namun juga meminta Cina untuk menempatkan Dalai Lama sebagai ‘pemimpin keagamaan dan tokoh yang menginginkan perdamaian’.

Pertemuan dengan Dalai Lama berlangsung di kediaman Presiden Bush di Gedung Putih, bukan di kantor resmi, the Oval Office.

Dalai Lama berada di Amerika antara lain untuk menerima Medali Emas Kongres, penghargaan tertinggi untuk warga sipil.

Kemarahan China

China memperingatkan bahwa keputusan Kongres memberi penghargaan kepada Dalai Lama akan sangat merusak hubungan negara itu dengan Amerika. Pimpinan partai komunis Tibet mengatakan semalam bahwa semua yang dilakukan Dalai Lama adalah kepentingan politik, bukan keagamaan.

“Kami benar-benar marah,” tegas Zhang Qingli, sekretaris partai Komunis Tibet.

Dalai Lama hidup di pengasingan di India sejak pemberontakan yang gagal terhadap Cina pada 1959. Dia menggambarkan dirinya sebagai seorang biku Buddha yang sederhana.

Tetapi dia adalah pemimpin spiritual bagi enam juta rakyat Tibet. Dia juga merupakan simbol global bagi perjuangan tanpa kekerasan, yang mendapat dukungan dari banyak selebriti terkenal di seluruh dunia.

Rakyat Tibet percaya bahwa Dalai Lama adalah reinkarnasi ke-14 Dalai Lama pertama dan memiliki hubungan spiritual dengan Buddha.

Hak asasi manusia

Tugas utama Dalai Lama adalah melindungi agama Buddha Tibet, tetapi selama 48 tahun di pengasingan, dia juga memperjuangkan kebebasan Tibet karena dia melihat kelanjutan agamanya terikat dengan masa depan negara.

Dia mengatakan pada sebuah wawancara bahwa jika Tibet merdeka satu hari nanti, dia akan menghentikan peran politiknya dan menjadi guru spiritual.

Pada tahun 1989 dia meraih Nobel Perdamaian dan sejak itu mendapat berbagai penghargaan lainnya dan sekarang Dalai Lama menerima penghargaan tertinggi bagi penduduk sipil dari Kongres Amerika, karena jerih payahnya dalam memperjuangkan hak asasi manusia.

Sebagian kalangan memperkirakan ini adalah cara Presiden Bush mendesak China untuk memperbaiki catatan hak asasi manusianya, karena Washington sadar bahwa kecil kemungkinan Beijing akan marah besar, karena Cina ingin Presiden Bush menghadiri Olimpiade tahun depan di Beijing.
http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2007/10/071016_dalailamaus.shtml

Iklan

Kehidupan Beragama Di Tibet Terancam

Posted in Agama oleh Seputar China pada Juli 13, 2007

Dalai Lama

Dalam empat dekade terakhir, Tibet telah banyak berubah. Setelah pemerintah Cina membuka wilayah itu, banyak jalan raya yang dibangun. Modal asing dan turis mancanegara pun banyak berdatangan. Tetapi rakyat Tibet harus membayar mahal. Selain harus bersaing dengan pendatang etnis Han, kehidupan beragama mereka juga dikendalikan oleh rezim komunis.  

Berikut adalah laporan Siska Silitonga darI Lhasa, Tibet yang disiarkan oleh Asia calling pada 9 April 2007 lalu.Ini adalah Istana Potala, bekas tempat tinggal Dalai Lama, pemimpin spritual Buddha di Tibet. Bangunan ini dibuat pada abad ke-7 Maserhi. Dahulu, istana Potala adalah pusat agama dan masyarakat Tibet. Tetapi sekarang, sudah banyak yang berubah. Istana ini sedang direnovasi. Dan meskipun banyak turis yang datang, orang paling penting di Istana tidak ada, yaitu DALAI LAMA-nya sendiri.

 Dalai Lama ke-14 melarikan diri ke India. Ia pergi menyusul pertempuran melawan pemerintah Cina di tahun 1959. Sejak saat itu, hubungan Beijing dengan Dala Lama tidak berjalan lancar. Dan meskipun Dalai Lama menerima konsep pemerintahan otonomi Tibet dibawah Beijing, pemerintah Cina masih meragukan dirinya. Bulan lalu, perwakilan Cina bertemu dengan utusan Dalai Lama di Swiss. Para pendukung Dalai Lama saat ini tinggal di DHARMASALA, India. Wakil Pemimpin Daerah Otonomi Tibet, WU YINGJIE menjelaskan posisi Beijing.

“Kami tidak pernah mengakui pemerintahan ilegal Tibet diluar Cina. Jadi, tidak ada istilah dialog” antara Beijing dengan pemerintahan Dalai lama. Jika Dalai Lama menghentikan upayanya untuk merdeka, mengakui Tibet dan Taiwan sebagai wilayah Cina dan menerima pemerintah pusat Cina, maka kami memperbolehkan ia kembali kapan saja.” Peziarah yang datang ke Istana Potala membaca tulisan Budha secara perlahan, sambil memutar kendi doa.

Di satu ruangan, warga Tibet menyembah di depan sebuah mahkota kosong. Tetapi, foto Dalai Lama tidak dapat ditemui di seluruh ruang Istana. Saya berkunjung ke rumah ZAMI LO TSANG TACHIN, petani berusia 30 tahun di Lhasa. Ia bilang, Dalai Lama hidup di setiap hati warga Tibet. ZAMI menyimpan sebuah foto Dalai Lama.

“Ini adalah Dalai Lama”. Saya tidak berani MEMAJANG foto ini. Pemerintah akan menarik uang denda jika ada yang berani melakukannya. Dulu, Anda dapat melihat fotonya di seluruh tempat yang ada, di kuil-kuil. Tetapi sekarang, Anda tidak akan menemukannya dimana pun.” Zami berharap dapat melihat pemimpinnya lagi di Tibet. Bahkan, setiap kali nama DALAI LAMA” disebutkan, orang akan tersenyum dan menekuk tangan mereka, sebagai tanda kecintaan yang mendalam. Pengekangan terhadap kebebasan beragama di Tibet telah melahirkan kritik pedas dari komunitas dunia.

Dalam laporan Departemen Luar Negeri tahun lalu, warga Tibet masih sering ditangkap karena mengungkapkan aspirasi politik dan agama mereka dengan damai. Kuil-kuil Budha di Tibet kesulitan memperoleh dana operasi dan izin pemerintah. Para pemimpin Budha harus mencari dukungan untuk mempengaruhi kebijakan Beijing terhadap Dalai Lama. Ini adalah Kuil TASHILUNPO, tempat tinggal pemimpin spiritual sekunder, PANCHEN LAMA.

Seleksi para pemimpin spritual Tibet dilakukan oleh Dalai Lama Tetapi ia dan pemimpin Beijing bertengkar mengenai inkarnasi Panchen Lama yang ke-sebelas. Dalai Lama memilih GEDHUN CHOEKY NYIMA. Tetapi Beijing menolak keputusan itu, karena dianggap dapat melemahkan posisinya. Gedhun dan keluarganya dibawa pemerintah Cina sejak tahun 1995. Meskipun begitu, WU YINGJIE mengatakan, anak kecil itu tidak ditahan. “Ia tidak ingin diganggu oleh dunia luar. Hal itu dapat mempengaruhi kesehatannya. Saya ingin meyakinkan Anda bahwa ia masih hidup bahagia di kota tempat tinggalnya.” 

Pemerintah Cina malah menunjuk anak lain yang sedang belajar di Beijing sebagai Panchen Lama. Banyak yang berpendapat kalau pemerintah pusat mendidik anak itu di luar Tibet agar setia kepada rezim komunis. Konon, Pendeta Kuil Tashilunpo setia kepada Dalai Lama. Tetapi saat saya kesana, salah satu pemimpin kuil, PINGLA mengatakan, mereka tidak mengakui Gedhun Choeky sebagai Panchen Lama. “Tidak boleh ada dua Panchen Lama,” kata dia..

“Kami tidak pernah menerima Panchen Lama yang ditunjuk oleh Dalai Lama. Panchen Lama yang ke-sebelas ditunjuk oleh Pemerintah Pusat. Ia dihormati oleh seluruh pendeta dan masyarakat Tibet.” Dibalik keheningannya, Tibet masih menyimpan rasa takut dan ketidakpastian.

Sekarang, politik telah menjadi bagian dari kuil Tibet. Para pengikutnya mempertanyakan masa depan budaya dan agama mereka 

http://asiacalling.kbr68h.com/index.php/archives/294

Nasib Agama Minoritas di Xinjiang

Posted in Agama oleh Seputar China pada Juli 13, 2007

Rejim komunis China melakukan pengendalian yang ketat terhadap kaum muslim di propinsi Xinjiang Barat. Isu terorisme pun dihembuskan oleh PKC untuk mengendalikan wilayah itu.

Muslim Uighurs

Selama Partai Komunis Cina  berkuasa, ia selalu mengendalikan praktek agama secara ketat di negerinya. Salah satu wilayah yang sangat diawasi adalah Xinjiang, tempat tinggal 11 juta warga minoritas Islam, sebagian besar orang Uighur. Penampilan fisik mereka mirip dengan orang Asia tengah dan mereka berbahasa Turki.

Analis dan kelompok Hak Azasi Manusia mengatakan, Beijing menggunakan ‘Perang Melawan Terorisme’ yang dipimpin oleh Amerika Serikat untuk memperketat kendali di wilayah itu. Langkah tersebut berhasil membatasi kegiatan separatis, tetapi juga menciptakan lebih banyak ketegangan etnis.

Koresponden Asia Calling, Daniel Schearf dalam laporan kunjungannya ke provinsi itu pada April 2007 memberikan sejumlah catatan menarik atas kenyataan yang terjadi di sana. Berikut laporannya.

Di sebuah pasar malam di kota HETIAN, Cina Selatan, sekelompok pemuda Uighur duduk di kursi yang mengelilingi meja. Mereka sedang memakan mie panas dengan daging di sebuah kafe kecil.Para pemuda itu mengatakan, mereka tidak senang dengan kontrol pemerintah dalam bidang agama. Pelajar, pegawai negeri dan pejabat pemerintah tidak diperbolehkan memelihara jenggot sampai mereka tua. Jenggot merupakan bukti keyakinan agama mereka.

“Ada kader pemerintah di setiap jalan masuk Mesjid. Jika Anda berasal dari badan kerja pemerintah, Anda tidak diperbolehkan masuk. Di kota, 50% orang bekerja di unit kerja. Ini berarti setengah penduduk kota tidak dapat memasuki Mesjid,”Di tahun 1990an, berlangsung serangkaian unjuk rasa politik dan serangan keras yang terutama dilakukan oleh minoritas UIGHUR.

Peristiwa itu menyebabkan semakin ketatnya peraturan terhadap warga Muslim. Penyebabnya kelihatannya dipicu oleh keyakinan agama.Warga Muslim tidak diperbolehkan menghadiri sekolah agama atau datang ke mesjid sampai umur 18 tahun. Kegiatan dan ekspresi agama dilarang ketat di sekolah negara.

Anak-anak sekolah tidak diperbolehkan berdoa, memakai pakaian atau symbol agama, serta berpuasa di bulan Ramadhan. Pejabat pemerintah memantau mesjid dengan ketat serta memilih pemimpin agama secara hati-hati.

Di Mesjid ID KAH di kota kuno KASHGAR, warga Muslim berkumpul untuk shalat. Mesjid dipenuhi dengan para jemaah, begitu shalat dimulai. Imam Kashgar, JUMA DANOLAHAJJI ditunjuk oleh pemerintah. Pejabat pemerintah berdiri di dekat dia untuk menerjemahkan kata-katanya kepada wartawan asing. Ia membela ketatnya pengawasan agama di daerah itu.

DAMOLAHAJI mengatakan, mereka yang melakukan aksi teroris tidak memahami bahwa aktivitas agama di KASHGAR berjalan normal. Pembangunan ekonomi di XINJIANG telah meningkatkan kehidupan warga lokal. Ia mengatakan, dirinya mengajari para pengikut untuk mencintai tanah airnya.Pemerintah Cina mengatakan, kontrol itu penting untuk mencegah dukungan terhadap kaum ekstrimis, separatis dan teroris di wilayah itu.

“Kegiatan anti-teroris tidak ada hubungannya dengan kegiatan agama. Tetapi… kegiatan separatis dilakukan dengan kedok agama. Mereka bukan pemeluk Islam yang asli, tetapi terlibat dalam kegiatan yang merusak dengan alasan agama. Kegiatan anti-terorisme tidak bercampur dengan kegiatan agama. Orang Muslim manapun akan mengatakan kepada Anda bahwa mereka yang terlibat dalam terorisme bukan Muslim sejati,”  ujar WANG LEQUAN, sekretaris Partai Komunis Xinjiang, pejabat tertinggi di provinsi itu.

Menurutnya, organisasi teroris dan pendukung mereka, seperti Taliban di Afghanistan, melatih sejumlah warga Uighur. Saat invasi Afghanistan yang dipimpin oleh Amerika Serikat, beberapa lusin warga Uighur tertangkap di medan pertempuran.Pada tahun 2002, pemerintah Amerika Serikat dan Perserikatan Bangsa Bangsa menandai “Gerakan Islam Turkistan Timur” sebagai kelompok teroris. Organisasi itu tidak dikenal sebelumnya. Beijing mengutip penamaan ini sebagai bukti adanya ancaman terorisme.

Tetapi, menurut para pakar, insiden kekerasan di Xinjiang umumnya timbul dari kemarahan individu. Bisa juga berasal dari konflik terhadap kebijakan pemerintah, tapi bukan oleh kelompok teroris terorganisir.XINJIANG mempunyai sejarah yang panjang dalam penentangan kekuasaan China. Para ahli mengatakan, banyak orang Uighur yang mendukung gagasan negara merdeka yang mereka sebut sebagai “Turkistan Timur”. Tetapi, hanya sedikit yang mendukung pengunggunaan kekerasan untuk mencapai tujuan ini.

Beberapa organisasi hak asasi manusia mengatakan, China sudah menggunakan perang melawan teror yang dilakukan Amerika Serikat terhadap warga Uighur. Beijing mencap semua pemberontak politik Uighur sebagai pendukung terorisme.NICHOLAS BECQUELIN adalah juru bicara untuk ‘Human Rights Watch’ di Hong Kong.

“Seringkali orang-orang yang mencoba untuk mengekspresikan identitas budaya mereka atau yang mempraktekan agamanya secara independen, di luar pengaturan negara, langsung ditahan. Kadang-kadang mereka dijatuhkan hukuman penjara untuk waktu yang sangat lama karena tuduhan terorisme atau separatisme….Pihak yang berkuasa menganggap seseorang yang membela otonomi yang lebih besar dan penghormatan yang lebih besar untuk hak-hak politik, sipil dan budaya Uighur masuk ke dalam kategori separatis dan teroris,”Orang-orang Uighur sangat berhati-hati ketika berbicara mengenai terorisme dan separatisme.

Seorang pengemudi taxi Uighur, ketika melintasi jalan-jalan KASGHAR di suatu pagi, mengatakan bahwa dia takut untuk membicarakan topic-topik sensitif seperti itu. “Kita bisa berbicara, tapi tidak bisa membicarakan terorisme.”Seorang pemandu wisata Uighur mengatakan, baru-baru ini warga setempat ditahan karena membicarakan hal itu kepada jurnalis asing.

WANG JIANMIN adalah professor Antropologi dari Central Univeristy of Nationalities di Beijing. Beliau adalah seorang pakar XINJIANG.“Terorisme dan separatisme adalah isu yang sensitif di Xinjiang. Mungkin orang-orang takut, kalau mereka mengkritik pemerintah, mereka juga akan disebut sebagai seperatis. Jadi tentunya, orang-orang mengkhawatirkan hal ini. Orang akan berpikir kalau mereka memiliki gagasan separatis, khususnya kaum minoritas yang membicarakan isu-isu ini.”

Taktik pemerintah Cina yang keras sepertinya mencegah kelompok teroris atau seperatis untuk menguasai kawasan itu.Tidak ada laporan baru mengenai penyerangan terhadap pemerintah, seperti yang terjadi pada tahun 90-an. Tetapi, pemerintah juga telah menciptakan ikim ketakutan dan rasa tidak percaya.Orang Uighur mengatakan, sekarang mereka bahkan tidak percaya satu sama lain, terutama kepada mereka yang bekerja untuk pemerintah.

Kembali di kafe Hetian, sekelompok pria Uighur mengatakan, pemerintah prihatin bila orang-orang Uighur membentuk hubungan yang erat dengan negara-negara tetangga yang memeluk agama Islam.

“Terus terang, pemerintah takut dengan orang-orang Muslim. Negara ini bukan negara Muslim, tetapi negara kafir….. Pemerintah takut dengan kami orang Muslim, mereka memikirkan apa yang kami sedang lakukan….Mereka akan memenjarakan Anda. Kalau sesuatu terjadi, mereka akan membawa Anda ke suatu tempat untuk kerja paksa atau suatu camp. Kelompok-kelompok etnis yang lain tidak diperlakukan dengan sama….Orang-orang Uighur yang paling ditekan terhadap mereka….”

Menjelang akhir pembicaraan, seorang polisi Uighur berjalan ke kafe kecil itu dan memesan makanan. Pria-pria Uighur itu langung gelisah, mata mereka memandang ke arah polisi-polisi tadi sementara pria-pria itu bergerak dengan gugup di kursi mereka.Seorang wartawan asing langsung mengubah topik pembicaraan dari isu politik yang sensitif. Sebagai gantinya, ia menanyakan tempat-tempat yang bisa dikunjungi di Hetian -suatu topik yang sebelumnya sudah dibahas.

Dengan polisi di sebelah meja mereka, pria-pria itu lega karena membahas pariwisata lagi. Tetapi mereka sangat ingin pergi. Setelah mengulangi penjelasan mengenai tempat menarik di kota, pria-pria tersebut berdiri, meletakkan tangan kanan mereka di hati, menunduk sedikit, tersenyum dan pergi. (*)

http://asiacalling.kbr68h.com/index.php/archives/192