SEPUTAR CHINA


Boikot Olimpiade Bergema dalam Aksi Tibet

Posted in Uncategorized oleh Seputar China pada April 1, 2008

Oleh: Ananta Dharma/ Era Baru

Masyarakat Indonesia kembali mendesak pemerintah China untuk segera menghentikan kekerasan terhadap Warga Tibet; serta meminta kepada Dewan Keamanan PBB untuk segera mengel;uarkan resolusi menyikapi masalah Tibet. Mereka juga mendesak Komite Olimpiade Internasional untuk mencabut mandat kepada pemerintah China sebagai tuan rumah penyelenggara olimpiade tahun 2008, serta meminta kepada pemerintah Indonesia untuk segera mengajukan nota protes atas kekerasan yanng terjadi di Tibet dan mempertimbangkan kembali pengiriman para atlit ke Olimpiade di Beijing Agustus mendatang.

Demikian pernyataan sikap yang dikeluarkan oleh Masyarakat Indonesia Untuk Kebebasan Tibet dalam aksinya di depan Kedubes China Jakarta pada Senin (31/3). Aksi yang diikuti sekitar 150 orang ini melibatkan sejumlah elemen masyarakat, seperti dari LBH Jakarta, Kontras, Yayasan Atap Dunia, Global Human Right Efforts (Ghure), Solidamor, Hikmah Budhi, Urban Poor Consorcium (UPC), Anand Ashram, penganut/ biksu Tantra Tibet dari Bandung, organisasi mahasiswa dan lain-lain. Mereka menilai kekerasan yang terjadi di Lhasa Tibet akibat provokasi dari militer China, yang menewaskan 140 orang itu adalah kejahatan terhadap kemanusiaan yang harus ditentang dan segera diakhiri menjelang Olimpiade.

“Free Tibet, No Human Right, No Olympics” demikian moto mereka, yang juga tertera dalam kaos hitam yang dikenakan para peserta aksi. Selain itu mereka menggelar sejumlah spanduk dan poster yang berisi kecaman terhadap rejim komunis China. “Free Tibet, Free Falun Gong, Free Uygur Moslem, Free Christian”, adalah salah satu banner yang terpasang dalam kegiatan itu. Dalam orasinya sejumlah tokoh, seperti Koordinator Kontras Usman Hamid, dan Anand Krishna mendukung perjuangan rakyat Tibet serta mengutuk pelanggaran HAM dan penindasan yang masih terjadi di China menjelang Olimpiade. Aksi ini juga dimeriahkan dengan kehadiran seorang artis, Opie Anderesta yang melakukan gerakan tarian halus dengan musik khas ala Tibet. Ada juga teatrikal yang menggambarkan kekejaman tentara China di Tibet.

Dalam pernyataan sikapnya, mereka juga mengacu pada Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia yang telah menyatakan dengan tegas bahwa semua orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak-hak yang sama. Kesemuanya dikaruniai akal dan hati nurani dan menginginkan pergaulan satu sama lain dalam persaudaraan. “Oleh karena itu, tidak diperkenankan adanya perlakuaan kejam dan penyiksaan terhadap dan penghinaan terhadap setiap orang. (Pasal 1 dan Pasal 5) Namun demikian kekerasan yang dilakukan Pemerintah Republik Rakyat China (RRC) di Tibet saat sekarang jelas menyimpangi prinsip-prinsip kemanusiaan yang diatur dalam DUHAM.”

Sebagai tuan rumah pemerintah RRC juga diminta memenuhi standar penyelenggaraan pesta olah raga dunia sesuai dengan piagam olimpiade Internasional. Pada piagam ini tuan rumah diharuskan menjunjung tinggi, bukan saja sportifitas di pertandingan, tetapi menghargai perbedaan dan hak-hak dasar manusia. Hal pertama adalah negara penyelenggara berusaha menciptakan kehidupan yang bahagia, pendidikan yang baik dan peduli terhadap etika dasar. Kedua, negara penyelenggara mempertimbangkan promosi perdamaian di masyarakat dengan pemelihataan harga diri manusia. Ketiga menegaskan bahwa olahraga adalah sebuah HAM dan praktik untuk saling memahami persahabatan, solidaritas dan keadilan. Keempat mengharuskan penghapusan diskriminasi yang tidak cocok dengan mekanisme olympiade.

Menurut mereka, prinsip-prinsip diatas adalah ukuran kelayakan menjadi tuan rumah (penyelenggara) olimpiade. Dengan demikian pemerintah RRC dapat dikategorikan telah menyimpangi standar tersebut. “Bentuk kekerasan berupa pembatasan ekspresi dan berkumpul masyarakat Tibet dibatasi, begitupun dengan kasus-kasus lainnya seperti penyiksaan terhadap praktisi Falun Gong, kelompok Kristiani, Muslim Uyshgur dan kasus Pembantaian manusia di lapangan Tiananmen tahun 1989. Belum lagi keterlibatan pemerintah RRC dalam kerusuhan di Darfur Sudan yang telah mengundang simpati dunia,” tegasnya.

Berdasarkan kenyataan tersebut diatas, mereka menganggap sudah selayaknya negara yang tidak melindungi, memenuhi dan menghormati hak asasi manusia (HAM) seperti pemerintah China tidak layak menjadi tuan rumah sebuah kegiatan Internasional seperti Olympiade. “Sudah seharusnya seluruh masyarakat dunia, terutama para atlit untuk menentang pelanggaran HAM dan memboikot penyelenggaraan Olimpiade di RRC demi tegaknya nilai-nilai kemanusiaan di Negeri Bambu,” demikian mereka mengakhiri pernyataan sikapnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: