SEPUTAR CHINA


Aksi Free Tibet: China Didesak Perbaiki Kondisi HAM-nya

Posted in HAM oleh Seputar China pada Maret 19, 2008

Sejumlah organisasi masyarakat sipil di Jakarta mengutuk kekerasan yang terjadi di Lhasa Tibet. Baginya China tidak layak menggelar Olimpiade jika kondisi HAM-nya masih buruk.

Insiden kekerasan yang terjadi di Lhasa, Tibet pada pekan lalu yang menewaskan ratusan jiwa manusia tak berdosa adalah sebuah pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang berat. Karena itu, penguasa China harus segera membebaskan rakyat Tibet dari segala bentuk penindasan sebelum pelaksanaan Olimpiade Beijing 2008. Komunitas internasional dan para pemimpin dunia juga didesak untuk segera menekan rejim komunis China supaya memperbaiki catatan HAM-nya yang buruk di Tibet maupun di Daratan China.

Demikian pernyataan sikap yang dikeluarkan oleh Masyarakat Indonesia Untuk Pembebasan Tibet yang menggelar aksi solidaritas di Depan Kedubes China Jakarta pada Rabu (19/3). Aksi damai ini diikuti oleh sekitar 50 orang yang terdiri dari sejumlah lembaga antara lain dari Yayasan Atap Dunia, Solidamor, The Coalition to Investigate the Persecution of Falun Gong (CIPFG) perwakilan Indonesia LBH Jakarta, Hikmah Budhi, Pemuda PGI dll.

Dalam aksi ini, perwakilan sejumlah lembaga memberikan kecamannya atas kekerasan yang masih terjadi di Tibet. Mereka menganggap pemerintah China tidak layak menyelenggarakan Olimpiade karena tindakannya yang semakin represif menjelang Olimpiade. “Kalau kondisi HAM di China semakin buruk, kita harus menolak pesta olah raga dunia itu dilangsungkan di China,” tandas Muhammad Gatot, Perwakilan CIPFG Indonesia.

Menurut Masyarakat Indonesia Untuk Kebebasan Tibet, sikap tersebut perlu dilakukan mengingat sejak 1959, rakyat Tibet berada di bawah pendudukan rejim Beijing. Sebelumnya ribuan rakyat dan biksu tewas dalam peristiwa pengambilalihan wilayah ini. Tempat-tempat ibadah banyak yang dirusak. Sebagian besar tokoh Tibetan masih meringkuk di tahanan. Rakyat Tibet diperlakukan sebagai warga negara kelas dua. Budaya setempat dihancurkan—pemimpin spiritual Dalai Lama menyebutnya sebagai ‘genosida budaya’.

“Pahitnya keadaan ini tak menyurutkan perjuangan Dalai Lama dan para pengikutnya di Dharamsala, India untuk menuntut otonomi lebih luas, serta membebaskan rakyat Tibet dari cengkraman militer China.”
Disebutkan, tindakan represif justru semakin intensif dilakukan oleh penguasa China menjelang dilangsungkannya Olimpiade Beijing 2008. Tekanan terhadap kegiatan keagamaan di kuil Tibet semakin meningkat sejak akhir 20007 lalu. Selain Tibet, sasaran tembaknya adalah kelompok-kelompok yang dianggapnya potensial menggagalkan pesta olah raga dunia itu. Mereka adalah aktivis HAM dan lingkungan, pengacara pembela rakyat yang tergusur, pengikut Falun Gong, penganut Kristen-Katolik, muslim Uighur.

Apa yang terjadi di Tibet, semakin memperburuk catatan hak asasi manusia di China yang sebentar lagi akan menggelar Olimpiade. “Di luar itu, penguasa China juga terbukti melakukan pelanggaran HAM berat terhadap rakyatnya yang menuntut kebebasan berkeyakinan (pluralisme) dan demokrasi,” demikian bunyi siaran pers mereka. Sebagai contoh, kasus pengambilan organ tubuh praktisi Falun Gong dalam keadaan hidup di kamp-kamp konsentrasi China yang sempat menjadi perhatian dunia, dimana sampai sekarang masih terjadi.

Merujuk pada laporan Amnesty International pada tahun 2007 ditunjukan adanya peningkatan pelanggaran HAM di negeri Tirai Bambu ini. “Itu berarti penguasa China telah mengingkari janjinya pada tahun 2001 untuk memperbaiki kondisi HAM-nya jika terpilih menjadi tuan rumah Olimpiade. Piagam Olimpiade yang memberi penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian telah dilanggarnya,” lanjut siaran pers mereka.

Berdasarkan kenyataan tersebut, mereka mengutuk tindakan represif yang dilakukan oleh aparat keamanan China terhadap rakyat Tibet yang mengadakan aksi damai, yang telah menelan korban ratusan orang. Mereka juga mendesak kepada Komisi HAM PBB dan organisasi hak asasi internasional lainnya agar melakukan penyelidikan independen atas kerusuhan yang terjadi di Lhasa. Selain itu, mendesak kepada penguasa China untuk segera mengakhiri kekerasan di Tibet, serta bentuk pelanggaran HAM lain yang terjadi di China selama ini.

Tak ketinggalan, mereka juga menyerukan kepada para pemimpin dunia termasuk pemerintah Indonesia, dan Panitia Olimpiade internasional untuk menggunakan pengaruhnya– menekan penguasa China supaya segera memperbaiki keadaan HAM-nya yang buruk. Mereka mengajak masyarakat Indonesia dan komunitas internasional untuk memberikan solidaritasnya terhadap para korban pelanggaran HAM yang terjadi di Tibet dan China

Serangan Terhadap “Musuh” Olimpiade

Posted in OLIMPIADE oleh Seputar China pada Maret 10, 2008

Oleh: Fadjar Pratikto/Era Baru

Jelang Olimpiade Beijing, penguasa China kembali menyerang kelompok muslim di Xinjiang Barat yang dituduh separatis dan teroris. Dua orang tewas dalam insiden penyerangan ini.

Sebuah serangan militer kembali dilancarkan terhadap kelompok di kawasan China baratlaut yang berpenduduk mayoritas Muslim. Demikian laporan Antara mengutip pernyataan seorang pejabat penting China, awal Maret ini, yang diberitakan media pemerintah.

Disebutkan, kelompok tersebut berencana melancarkan serangan terhadap pertandingan dalam Olimpiade mendatang, kata Wang Lequan, yang memimpin Partai Komunis untuk wilayah Xinjiang di sela sidang parlemen nasional. “Para separatis, penyabot itu akan ditindak tegas, tidak peduli dari etnik manapun mereka berasal,” katanya seperti dikutip Xinhua.

Selain menewaskan dua orang, sebanyak 15 orang ditahan dalam serangan 27 Januari di Urumqi, ibukota wilayah Xinjiang yang luas yang berbatasan dengan beberapa republik Asia Tengah. Lima perwira polisi cedera dalam serangan itu dimana tiga granat rakitan dilemparkan ke mereka.

Secara terpisah, seorang pejabat senior Xinjiang mengaku pihaknya telah melumpuhkan rencana “serangan teroris” terhadap sebuah pesawat yang terbang dari Urumqi ke Beijing. Pesawat China Southern Airlines terpaksa mendarat di Lanzhou, ibukota provinsi Gansu.”Beberapa orang berusaha membuat satu bencana udara ,” kata Nur Bekri, kepala pemerintah wilayah Xinjiang.

Muslim Ditekan
Insiden penyerangan terhadap kelompok muslim sudah berulang kali terjadi di wilayah Xinjiang yang berpenduduk 20 juta jiwa. Daerah ini sebagian besar dihuni etnik Uighur dan minoritas-minoritas Muslim lainnya, yang secara tradisional menuntut otonomi lebih luas. Delapan juta Muslim Uighurs yang tinggal di Xinjiang itu berasal dari etnik Turks.

Perkembangan Islam yang meluas di wilayah Xinjiang Barat telah membuat Partai Komunis China ketakutan. Dengan alasan kelompok muslim melakukan gerakan separatisme dan terorisme, mereka ditekan. Sejumlah tokoh muslim ditangkap, dipenjara dan dibunuh. Menjelang Olimpiade Beijing 2008 ini, tekanan terhadap mereka semakin kuat.

Pada awal tahun 2008 ini, polisi China mengumumkan telah menewaskan 18 orang dalam serangan terhadap mereka yang disebutnya “menumpas” aktifitas separatis Muslim di sebuah kampUighur Xinjiang. Pengumuman itu muncul ketika pejabat China mengecam calon penerima hadiah Nobel Perdamaian, Rebiya Kadeer, seorang tokoh muslim Uighur yang dipenjara tahun 2000 karena dituduh “membocorkan rahasia negara”.

Ba Yan dari Departemen Keamanan Publik Xinjian mengatakan kamp pelatihan itu terletak di dataran tinggi Pamirs, di dekat perbatasan Afghan dan Pakistan. Bas mengatakan kamp- kamp itu dijalankan oleh gerakan Islam Turkestan Timur. Tuduhan yang sama sebagaimana sering dilakukan AS. “Polisi menahan 17 teoris dan mengejar sejumlah lainnya,” kata kantor berita Xinhua mengutip Ba. Polisi juga mengaku telah menyita 22 granat tangan dan lebih dari 1500 lain yang masih dalam proses pembuatan.

Beijing menuduh sejumlah kelompok terkait dengan Al-Qaeda, namun kelompok kelompok hak asasi mengatakan pemerintah China menggunakan perang melawan terorisme sebagai cara menumpas gerakan demokrasi dan menekan kebebasan beragama.

Tahun lalu, laporan Human Rights Watch dan Human Rights in China menyebutkan penguasa China telah menumpas kaum muslim Uyghurs. Penindasan itu dilakukan dengan cara memanggil imam dan menutup mesjid sampai pada hukuman mati ribuan orang setiap tahun. Disebutkan hampir setengah tahanan di kamp pendidikan ulang, dianggap sebagai pelaku kegiatan keagamaan secara gelap. Lima umat Muslim Uighur pada akhir 2007 lalu juga telah dijatuhi hukuman mati karena dituduh “melakukan kegiatan separatis”.
(dari berbagai sumber)