SEPUTAR CHINA


Bao Zunxin, Tokoh Demokrasi China, Meninggal Dunia

Posted in Politik oleh Seputar China pada Oktober 31, 2007

Tokoh pejuang demokrasi China, Bao Zunxin dikabarkan telah meninggal dunia pada 28 Oktober 2007 lalu. Dia pernah dipenjara setelah berperan dalam mengorganisir aksi protes di lapangan Tiananmen, Beijing pada 4 Juli 1989 silam. Menurut rekannya, Chen Ziming, dan sahabat lainnya, Bao, 70 tahun, meninggal di Beijing akibat sakit yang dideritanya.

Pada akhir tahun 1980-an, sebagai seorang periset di Akademi Ilmu Pengetahuan Sosial China, Bao memainkan peranan penting dalam satu gerakan intelektual yang menyerukan perlunya demokrasi diperbesar di China. Gerakan tersebut berpuncak pada aksi-aksi protes demokrasi pada1989 yang ditumpas oleh militer China, yang menyebabkan ratusan bahkan ribuan orang tewas. Tindakan penumpasan itu kemudian disusul dengan aksi-aksi demonstrasi secara damai yang dilakukan para mahasiswa di jantung ibukota China.

Bao ditahan setelah peristiwa Tiananmen dan dijatuhi hukuman penjara lima tahun pada 1991 dengan tuduhan `menghasut propaganda kontra-revolusi`, namun kemudian dibebaskan dengan tebusan setelah menjalani selama 11 bulan. “Setelah dia dibebaskan dari penjara dia terus bekerja untuk kemajuan demokrasi di China dan membantu mengorganisasikan sejumlah kampanye surat terbuka kepada pemerintah,” kata Chen.

Bao juga menerbitkan buku di luar China, termasuk `Demokrasi dan Pencerahan` dan `Sisi dalam gerakan Demokrasi 1989.` Pada Agustus lalu, Bao menjadi salah satu dari 37 intelektual terkemuka yang menandatangani satu surat terbuka yang menyerukan kepada pemerintah agar menghentikan `Penolakan sistematik terhadap Hak Asasi Manusia (HAM)` pada saat Beijing menjadi tuan rumah Olimpiade 2008. Bao juga menyerukan
Kepada Beijing untuk melaksanakan hak asasi dan demokrasi sebelum diadakannya Pesta Olahraga Dunia itu.
(Sumber: AsiaNews)

China Sebagai Sapi Perah Bagi Negara Barat (bagian I)

Posted in Ekonomi oleh Seputar China pada Oktober 31, 2007

Oleh seorang Profesor di sebuah Universitas di China
Forum Masa depan Negeri China 06 Mei 2007

Para petani China yang bekerja di ladang di Qionghai, Provinsi Hainan, China. Sementara kedua negara China dan Jepang telah melewati 30 tahun guncangan ekonomi, rata-rata gaji tenaga kerja di Jepang telah setara dengan tenaga kerja di Amerika Serikat, sedangkan di China hanya 3% dari rata-rata Amerika Serikat.

(Erabaru.or.id) – [Catatan redaksi: Saat dunia Barat dan PKC sedang memuji pertumbuhan pesat perekonomian China, banyak orang-orang berpengetahuan sedang mengungkap kebenaran di balik pertumbuhan ekonomi ini melalui riset dan pengumpulan fakta yang intensif. Bagaimana mungkin kita melepaskan diri dari model ekonomi yang tidak akan menyisakan apa pun untuk generasi berikutnya? Kepada semua kalangan yang sungguh-sungguh memperhatikan masa depan China: Marilah berbagi pemikiran dengan kami. editor@epochtimes.com]
Dari sisi sejarah, perjuangan yang dilakukan oleh China sekarang untuk membangun suatu masyarakat yang harmonis, adalah sebuah gerakan lain untuk menyelamatkan diri dari kehancuran. Sepanjang periode akhir abad 19 hingga awal abad 20, China secara politis dipecah-belah oleh negara-negara Barat.
Dari akhir abad 20 hingga awal abad 21, China terpecah lagi. Perbedaannya adalah, sebelumnya, pembagian dilakukan dengan perjanjian, sedangkan sekarang ini, adalah dengan peraturan.
Dampak utama dari pemisahan ini adalah bahwa negara sedang diubah menjadi “sapi perahan” oleh Negara Barat. Ini merupakan sebuah kaleng susu besar di mana kesatuan kapitalisme yang memonopoli dunia, semua memiliki penghisap yang berusaha untuk menarik lebih banyak lagi kekayaan keluar.
Pengembangan industri, yang sepenuhnya akan menghabiskan sumber daya alam dan tidak meninggalkan apa pun untuk generasi berikut, serta penyaluran kekayaan dalam jumlah besar ke negara-negara maju di Barat. Semua ini memang meningkatkan standar hidup dan merangsang pertumbuhan ekonomi global, tetapi dilakukan dengan mengorbankan kesejahteraan China sendiri
Tidak hanya kesejahteraan umum China sedang dikorbankan, tetapi yang lebih buruk lagi adalah sedang mencabut sumber daya bagi generasi berikut.
Dengan kata lain, kekayaan saat ini diciptakan melalui penghancuran sumber alam untuk masa depan. Ini adalah suatu kejahatan besar, dan yang lebih buruk lagi adalah generasi sekarang rakyat China bahkan tidak berhak menikmati pertukaran kekayaan sebagai imbalan atas perusakan sumber alam mereka – kekayaan ini sepenuhnya dinikmati oleh dunia Barat .
Baik China dan Jepang sudah 30 tahun melewati ekonomi yang penuh gelombang, rata-rata gaji di Jepang hampir menyamai Amerika Serikat, sedangkan di China hanya mencapai 3% dari rata-rata Amerika Serikat. 0.02% (menurut statistik yang terakhir) populasi yang menguasai 70% keseluruhan kekayaan negara, memindahkan uang mereka dan keluarga mereka keluar dari negeri itu.
Populasi China sekali lagi akan ditekan oleh “Tiga Pegunungan” selama pertumbuhan ekonomi yang cepat. Sebagai tambahan, kesatuan kapitalisme yang memonopoli dunia telah membuat berbagai persiapan untuk menyapu bersih seluruh sisa aset di China dengan memanipulasi pasar devisa dan bursa ketika waktunya tiba.
Ekonomi China Sekali Lagi Tengah Menghadapi Saat Yang Paling Berbahaya
I. Produk Domestik Bruto (PDB)
Sebagai apa yang disebut “tenaga penggerak ekonomi dunia,” China telah memberikan kontribusi yang mengejutkan untuk kemakmuran dunia dengan mengorbankan sumber daya alam, lingkungan, dan kesehatan masyarakatnya. Karena alasan itulah, China menjadi tuan rumah untuk tiga dari sembilan KTT Ekonomi Global yang telah diselenggarakan hingga saat ini.
Selama empat tahun berturut-turut, China dengan 4% PDB dunia telah menyumbang 15% pertumbuhan ekonomi dunia. Selama empat tahun tersebut, China menyumbang US$ 1.5 trilyun dari keseluruhan PDB dunia, yang kira-kira setara dengan 12 trilyun Yuan.
Dengan menghitung berdasarkan rata-rata gaji tahun lalu, angka terebut adalah senilai keseluruhan 6 tahun gaji semua pekerja di seluruh China. Besarnya kontribusi China pada perekonomian dunia direfleksikan paling baik dari penigkatan tajam harga sumber daya alam di seluruh dunia.

Oleh karena permintaan dan impor yang berlebihan dari China ,harga produk pertambangan naik rata-rata 70% per tahun, dan biaya transportasi air membumbung tinggi hingga mencapai rata-rata 170% per tahun. Pada waktu yang bersamaan, harga barang-barang impor ke dalam China juga mengalami kenaikan yang melambung, sedangkan barang- barang ekspor mengalami kemerosotan. Keseluruhan situasi ini menghasilkan satu gejala paling aneh dalam sejarah perekonomian dunia.
Kontribusi China di negara Asia bahkan lebih mengejutkan. 100% pertumbuhan ekspor Asia berasal dari China. China menarik ekonomi Asia keluar dari krisis di tahun 1998. Terutama yang harus dicatat adalah Jepang, sumber kekuatan finansial Asia, telah mempertahankan dua digit angka laju pertumbuhan ekspornya ke China sejak permulaan abad ini, dan ini menghasilkan peningkatan 70% dari total ekspor Jepang.
Bahkan Jepang telah mengakui bahwa kerjasama perdagangan dengan China telah mendukung perbaikan ekonomi Jepang yang didominasi oleh ekspor, ini adalah faktor utama yang menyumbang perbaikan ekonomi Jepang dari keterpurukan financial.

Akan tetapi, pertumbuhan ekonomi China tentu setara dengan dampak yang diakibatkan. Pengrusakan besar-besaran sumber daya alam dan lingkungan China telah ditukar dengan kemakmuran ekonomi dunia, negara Asia lainnya, seperti Jepang.
Di China, 8% sungai, danau dan aliran sungai mengalami kekeringan. Dua pertiga padang rumput dan pepohonan telah berubah menjadi padang pasir, banyak hutan belantara yang telah hilang dan hampir 100% lahan telah mengeras. Menurut data statistik bea cukai Jepang, sepuluh tahun belakangan ini, dua juta pohon telah digunakan untuk membuat sumpit setiap tahun, untuk kepentingan ekspor ke Jepang rata-rata 224,3 juta pasang sumpit sekali pakai (disposable).
Ahli ilmu kehutanan Cina memperkirakan bahwa area penggundulan hutan untuk menghasilkan jumlah besar sumpit tersebut meliputi lebih dari 20% wilayah China.
Dengan lenyapnya sumber alam, lingkungan hidup untuk manusia tengah terancam. Sepertiga daratan Cina telah terimbas hujan asam. 2/5 sungai utama di China telah dikategorikan berada dalam polusi tingkat kelima.
Diperkirakan bahwa lebih dari 300 juta orang-orang di pedesaan tidak mendapatkan suplai air bersih layak minum dan lebih dari 400 juta orang-orang di perkotaan menghirup udara dengan tingkat polusi tinggi. Sebagai akibatnya, 15 juta orang-orang mengalami bronkitis dan kanker saluran pernapasan.
Menurut laporan yang dikeluarkan oleh Bank Dunia, 16 dari 20 kota besar dengan tingkat polusi tertinggi di dunia adalah berlokasi di China. 2/3 dari 668 kota dikelilingi oleh sampah. Sisa buangan ini tidak hanya menempati tanah yang disediakan untuk pertanian tetapi juga mengancam mata pencarian mereka. Ketidakmampuan untuk memproses sampah mereka sendiri, juga menyebabkan China telah menjadi tempat pembuangan sampah bagi negara-negara berkembang di barat.
Salah satu dari tiga barang ekspor Amerika ke China dengan tingkat pertumbuhan paling cepat adalah sampah. Di bagian selatan China, tempat dimana mereka mengumpulkan sampah impor, beberapa binatang telah mati, genetika tumbuhan telah berubah dan kesehatan manusia semakin memburuk. Di beberapa daerah, dalam beberapa tahun ini, tak ada seorangpun yang memiliki kualifikasi untuk mendaftar di dalam ujian militer karena hasil pemeriksaan kesehatan yang tidak memenuhi syarat.
Sekalipun telah mempertimbangkan peningkatan di bidang ekonomi, kerugian yang diakibatkan masih sungguh mengejutkan. Di tahun 2003, kerugian ekonomi akibat polusi lingkungan dan pengrusakan ekologi mencapai 15% dari PDB, sedangkan China menyumbang kenaikan 15% keseluruhan perekonomian dunia.
Tidak hanya lingkungan alam di China yang terus memburuk, masyarakat secara keseluruhan juga memburuk. Dari tahun 1979 hingga 2003, perkara pidana mengalami peningkatan enam kali lipat dari 5.5 kasus per sepuluh ribu hingga 34.1 kasus. Terdapat peningkatan 7% setiap tahunnya dan perbedaan ini semakin mematahkan harapan dengan standar penanganan kasus yang memburuk. Tingkat kematian naik dari 4.4 per ratus ribu di tahun 1979 hingga 10.6 per ratus ribu di tahun 2003, peningkatan 3.5% setiap tahunnya.
Pada tahun 2003, departemen kesehatan melaporkan peningkatan penyebaran penyakit menular hingga 6,7% dengan tingkat kematian meningkat 37%. Masyarakat China sudah sampai tidak tahu lagi pintu atau jendela keamanan apa yang harus dipasang hingga lantai ke 7 dari apartemen. Dengan berkembangnya tingkat kejahatan, perusahan di seluruh negeri China tidak lagi mempekerjakan para pekerja wanita pada malam hari.

Lebih dari itu, makanan beracun telah tersebar di China; orang-orang sekarang ini sama sekali sudah tidak tahu lagi substansi apa yang mereka makan. Pubertas awal juga merupakan fenomena yang tersebar di sekolah kanak-kanak dan secara langsung mempengaruhi masa depan kesehatan dan tingkat harapan hidup.

Kira-kira 20 juta anak perempuan terpaksa menjadi pelacur dan pendapatan mereka menyumbang PDB nasional hingga 6%, setara dengan satu trilyun yuan (US$ 120 milyar). Rata-Rata tinggi orang China adalah 2.5 cm lebih pendek dibanding orang Jepang.
Menurut berita terkait, untuk setiap 100 juta yuan peningkatan PDB, satu orang pekerja meninggal dunia di China akibat kecelakaan kerja. Pada tahun 2003, ada 136 ribu kematian dilaporkan di China. Dengan demikian perhitungan menunjukan bahwa hampir 20 ribu kematian kecelakaan kerja terjadi tahun ini. Ini yang disebut sebagai PDB berlumuran darah.
Sesungguhnya, jumlah kematian ini seperti gunung es terapung. Peristiwa yang dilaporkan hanyalah dari perusahaan milik pemerintah atau kecelakaan besar yang banyak memakan korban. Korban di perusahaan swasta maupun perusahan asing biasanya tidak tercatat dalam departemen statistik. Padahal jenis bisnis inilah yang mempekerjakan lebih banyak orang dibandingkan perusahaan milik negara. Jika faktor ini diperhitungkan, banyaknya kematiannya setiap tahunnya dapat menyamai korban pembantaian Nanjing .

II. Perdagangan Luar Negeri
Kehebatan China sebagai “pemasok darah” kemakmuraan ke negara berkembang di Barat telah meletakkan ekonomi China dalam status yang paling menyedihkan. Harga produk ekspor dari China sangat rendah hingga hampir seperti tak ada harganya. Terkecuali orang-orang kulit putih yang pada awalnya datang ke Afrika untuk menangkap orang-orang kulit hitam tanpa bayaran, tidak ada pernah koloni lainnya dalam sejarah yang melakukan perampasan hingga batas seperti ini.
Jika perdagangan luar negeri sebanding dengan harga pasar di negara berkembang, orang akan menemukan bahwa 95% lebih dari keuntungan perdagangan luar negeri telah dibawa oleh para pelaku bisnis asing. Tahun lalu, China mengekspor 17.7 milyar pakaian, dengan harga rata-rata per potong US$3.51; harga sepatu rata-rata kurang dari US$2.5 satu pasang.
Boneka Barbie yang populer di pasar Amerika dijual seharga US$10 per biji, tetapi pabriknya di Suzhou, China hanya mendapat US$0.35. Logitech mengirim 20 juta mouse komputer buatan China ke Amerika setiap tahunnya, yang akan dijual dengan harga sekitar US$40 per buah, tetapi China hanya mendapatkan US$3.00 per buah. Jumlah pemasukan mereka yang kecil tersebut harus dapat menutupi gaji pekerja, listrik , transportasi dan pengeluaran lainnya.
China menggunakan kurang dari 5% keuntungan ini untuk mengakumulasi cadangan devisa asing sebesar US$ 1 trilyun. China menyokong US$ 20 trilyun untuk modal monopoli internasional, yang setara dengan 160 trilyun yuan, hampir 80 kali total gaji tahunan nasional.

Pada perayaan tahun ke-5 keanggotaan China di WTO, CCTV (China Central Television) berulang kali menyiarkan bahwa China telah membantu keluarga Amerika menghemat seperlima biaya hidupnya dalam lima tahun keanggotaan China di WTO.

Laporan Morgan Stanley juga menunjukkan konsumen Amerika telah menghemat US$100 milyar dengan membeli produk murah dari China. Sebab membeli sumpit buatan China bahkan lebih murah dibanding mencuci sumpit, masyarakat Jepang membuang sumpitnya setelah sekali digunakan.
Karena sangat murah, Jepang, yang telah menghentikan membakar batubara dalam jangka waktu panjang, mengimpor batubara dari China di atas 20 juta ton setiap tahun untuk mengisi lautan, dan membuat tambang batu bara buatan untuk cadangan energi. Situasi dimana China membuat komoditas murah sekali pakai (disposable) ke negara barat telah mengejutkan beberapa orang-orang berhati baik di Barat. Meskipun sumber daya alam China sedang dibinasakan, mereka menyerukan perubahan dalam konsumsi barang sekali pakai dan menghimbau China untuk melindungi sumber daya alamnya.
Keuntungan utama dari perdagangan luar negeri diambil oleh pedagang asing. Sehingga, pelaku bisnis China mengeksploitasi para pekerja untuk mengurangi biaya. Setelah peristiwa Foxconn, Perusahaan Apple dari Amerika Serikat dan Britain’s Financial Times berturut-turut datang ke China untuk melakukan penyelidikan.
Laporan mereka menunjukkan Foxconn mempunyai 150.000 pekerja wanita, yang bekerja lebih dari 15 jam per hari dengan pendapatan kurang dari US$50 per bulan, jumlah yang setara dengan kurang dari dua jam kerja di Amerika Serikat. Bahkan dengan gaji rendah seperti itu, tidak diketahui apakah pekerja dapat menerima gaji mereka tepat waktu.
Gaji rendah seperti itu telah membuat para pekerja modern menjadi budak. Mayoritas para pekerja ini bekerja keras dalam suatu situasi seperti ini, seolah-olah bekerja tanpa imbalan, demi harapan akan mendapatkan status kependudukan kota suatu hari. Bagi mereka, bekerja gratis seperti ini tidaklah menakutkan.

Luka-luka dan cacat adalah yang paling menakutkan. Adalah mustahil bagi seorang atasan, yang lebih dari 95% keuntungannya telah diambil pergi oleh pengusaha asing, akan membayar biaya perlindungan kerja. Dengan demikian, menjadikan luka-luka dan cacat menjadi mimpi terburuk bagi para pekerja.

Menurut suatu penyelidikan sukarelawan oleh Zeng Feiyang, di Area Sungai Segitiga Mutiara, basis ekspor China, sedikitnya terdapat 30.000 kecelakaan yang menyebabkan jari patah, dan lebih dari 40.000 jari terpotong mesin per tahun. Kecelakaan ini terjadi di bagian pemotongan (punching), yang mana hanya sebagian kecil dari keseluruhan mesin yang ada. Jumlah kecelakaan kerja yang terjadi di bagian mesin yang lain masih belum diketahui.
Untuk memelihara stabilitas sosial, pemerintah lokal memutuskan untuk tidak mengumpulkan data statistik kecelakaan kerja lagi. Akan tetapi sebelum keputusan ini dibuat, survei terhadap delapan juta pekerja petani di kota Shenzhen mengungkapkan satu per lima dari mereka pernah mengalami kecelakaan kerja atau penyakit akibat pekerjaan mereka. Setiap pabrik di Shenzhen mengganti pekerja mereka setiap dua tahun.

Untuk mencegah tuntutan perkara oleh pekerja yang terluka dan cacat, yang dapat mempengaruhi kepentingan ekonomi dan stabilitas sosial, beberapa tempat di Area Sungai Segitiga Mutiara memperpanjang waktu penuntutan bagi para pekerja petani hingga tiga tahun lamanya. Hal ini memaksa para pekerja melepaskan hak mereka, karena mereka tidak mampu dan harus kembali ke daerah pinggiran untuk sisa hidup mereka. Sungai Mutiara penuh dengan darah dan air mata pekerja petani.

Berbicara mengenai harga mahal yang harus dibayar oleh pekerja petani, setiap orang tidak dapat membayangkan mengenai musibah tambang yang terjadi di China. Dari tahun 2001 hingga tahun 2005, rata-rata keseluruhan negeri, kecelakaan fatal tambang batu bara terjadi setiap minggu. Harga ekspor tahunan 80 juta ton baru bara adalah merupakan rata-rata kematian 6000 petambang setiap tahunnya. Ini menunjukkan 17 kematian per hari.

Data ini didapat dari statistik yang dikumpulkan oleh pemerintah. Angka sebenarnya jauh melampaui angka-angka tersebut.
Bahkan dengan angka ini , tingkat kematian buruh tambang batubara di China adalah 100 kali lipat dari Amerika Serikat, 10 kali dari Rusia dan India. Angka kematian buruh tambang di China adalah nomor satu di dunia dengan jumlah kematian melebihi jumlah keseluruhan kematian di negara lainnya.

Keuntungan mengagumkan untuk modal monopoli internasional dan kemakmuran mengejutkan bagi pemilik tambang China didapat dengan nyawa para pekerja tambang. Pada Expo Mobil Internasional Beijing tahun ini, seorang pemilik tambang, menyeka hidungnya, ingin membeli sebuah mobil Ferrari seharga beberapa juta dolar.

Ketika juru bicara peragaan memberitahukan bahwa mobil tersebut sangat mahal, ia berteriak dan mendengus sambil menunjuk gadis tersebut, “Beritahukan harga kamu, saya akan membeli kamu juga.” Pada akhirnya, beberapa pemilik pertambangan membeli lebih dari 80 Ferrari.

Penyelewengan kekayaan ini tidak dapat ditemukan bahkan diantara para tuan tanah dari masyarakat feodal, para kapitalis di masyarakat modern, atau penguasa jajahan.

Sumber : http://en.epochtimes.com/news/7-5-6/54972.html

China, Korupsi dan Demokrasi

Posted in Ekonomi oleh Seputar China pada Oktober 30, 2007

Oleh: Fadjar Pratikto*

Sejumlah langkah pemberantasan korupsi tak hentinya dilakukan pemerintah China. Baru-baru ini, nama-nama dan gambar pejabat negara yang korup dipajang dalam sebuah pameran di Beijing. Warganya juga dididik agar membenci koruptor melalui game online, dimana para pejabat yang korup boleh dibunuh dengan senjata, ilmu hitam, atau disiksa.

Banyak negara termasuk pemerintah Indonesia cukup tercengang atas keberanian negara komunis itu dalam menjerat para koruptor. Lebih-lebih hukuman mati dikenakan kepada mereka. Tak heran jika China kini telah menjadi model dalam pemberantasan korupsi di Asia. Beberapa negara merasa perlu belajar dari China. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bahkan menjalin kerjasama dengan China untuk pemberantasan korupsi sejak Juli lalu.

Ancaman Korupsi
Komitmen kuat penguasa China untuk memberantas korupsi sudah dimulai sejak masa Zhu Rongji (1997-2002). Pemberantasan korupsi yang dilakukan Perdana Menteri China itu, merupakan bagian dari reformasi birokrasi. Langkah ini memberikan kepastian hukum sehingga mendorong iklim investasi yang mampu menghimpun dana asing senilai 50 miliar dollar AS setiap tahun. Pertumbuhan ekonominya langsung melesat– terlepas dari kelemahannya.

Sayangnya langkah itu justru menyurut di bawah Presiden Jiang Zemin pada awal 2000-an. Jiang menggunakan kekuasaannya untuk memperkaya diri dan kelompoknya– geng Shanghai. Jiang Mianheng putra sulungnya, selain difasilitasi dalam usaha bisnisnya, juga diberi jabatan. Jiang pun menghimpun dana tak terbatas dari sejumlah departemen untuk menindas kelompok politik dan spiritual yang dianggap sebagai musuhnya, seperti Falun Gong.

Setelah Hu Jintao berkuasa, api pemberantasan korupsi kembali menyala. Penguasa China itu memperingatkan kepada para anggotanya bahwa korupsi mengancam partai di tampuk kekuasaan. Baginya, kekuasaan PKC tidak bisa dianggap keniscayaan semata, sedangkan gerakan antikorupsi merupakan “perjuangan hidup dan mati” bagi partai komunis.

Kegerahan Hu atas kasus korupsi bisa dipahami. Reformasi ekonomi yang cenderung kapitalistik yang tidak diikuti dengan reformasi politik yang demokratis, telah membuat elite partai yang berkuasa leluasa menumpuk kekayaan. Hal itu diperparah dengan tidak adanya kontrol masyarakat sipil dan pers. Dilaporkan setidaknya 4 ribu pejabat korup telah hengkang dari China dalam 20 tahun terakhir ini dengan menggondol setidaknya US $ 50 miliar..

Sepanjang 2004, pemerintahan Hu menghukum sebanyak 164.831 anggota partai karena menguras uang negara lebih dari 300 juta dollar AS. Sebanyak 15 diantaranya menteri. Selama 6 bulan pertama 2007, angka resmi menyebutkan 5.000 pejabat korup dijatuhi hukuman. Terakhir, mantan Direktur Administrasi Negara untuk Makanan dan Obat-obatan Zheng Xiaoyu yang terbukti menerima suap 6,5 juta yuan (sekitar Rp 75 miliar) dieksekusi mati.

Belakangan elite politik mulai terseret. Chen Liangyu, mantan sekretaris partai di Shanghai yang dekat dengan Jiang Zemin diajukan ke pengadilan tahun lalu. Dia diduga terlibat skandal korupsi senilai 1,25 miliar dollar AS. Begitu juga kasus pemecatan Menteri Keuangan Jin Renqing pada akhir Agustus 2007 lalu. Setelah dikabarkan terlibat skandal wanita, belakangan diketahui dia berperan dalam penggalangan dana untuk menindas Falun Gong. Sebanyak triliunan Yuan uang negara disalahgunakan demi politik Jiang itu.

Tanpa Demokrasi
Saat ini China menerapkan tiga langkah untuk memberantas korupsi, yaitu memperbaiki sistem birokrasi, meningkatkan penyidikan terhadap pegawai negeri, dan mengawasi kekuasaan. Pengawasan ditingkat administrasi pemerintahan dilakukan oleh Kementrian Pengawasan, sedangkan pengawasan internal di tubuh partai dijalankan oleh Direktorat Disiplin.

Seperti di Indonesia, meski pemerintah China terus melakukan kampanye antikorupsi dan penangkapan ratusan pejabat, aksi penyuapan, penggelapan, dan berbagai bentuk tindak korupsi masih terjadi. Hal itu dimungkinkan karena elite partai masih menguasai industri penting seperti perbankan, properti dan manufaktur, dan pemerintah pusat tak bisa mengontrolnya.

Sebenarnya korupsi di China jauh lebih besar dari yang dipublikasikan secara resmi. Di The International Herald Tribune, Jim Yardly menyebutnya “boom in corruption”. Apalagi pers dan internet masih dikendalikan partai. Meski berdasarkan Indeks Persepsi Korupsi (IPK) 2007 yang dikeluarkan Transparency International menunjukan China mendapat skors 3,5, atau jauh lebih baik dari Indonesia yang skornya hanya 2,3, namun dalam praktek korupsi sangat mungkin keadaanya jauh lebih parah. Hal itu dimungkinkan mengingat survey ini didasarkan pada persepsi pengusaha yang berada di bawah tekanan rejim komunis.

Kewenangan PKC yang sangat besar adalah akar masalahnya. Anggota partai yang berjumlah sekitar 68 juta orang mendapat perlakuan istimewa, dimana kejaksaan atau kepolisian tidak boleh menentukan, apakah orang tersebut boleh diajukan ke pengadilan atau tidak. Partailah yang menentukan proses hukumnya, termasuk dalam penetapan hukumannya. Jadi partai bisa berada diatas hukum maupun undang-undang yang berlaku. Tingkat kerahasiaan yang sangat tinggi di pemerintahan selama ini, turut juga menyuburkan korupsi.

Meski Presiden Hu ingin memastikan legitimasinya dengan menanggapi tuntutan publik untuk membasmi korupsi, ia belum menunjukkan kemauannya untuk mereformasi sistem politiknya. Wajar saja jika upaya gerakan antikorupsi yang dilakukannya terkesan hanya bertendensi politis untuk menyingkirkan klik Jiang yang masih mengendalikan asset dan kekuasaan.

Bagaimanapun, demokrasi termasuk kebebasan pers, adalah pilar pokok pemberantasan korupsi. Keinginan Hu Jintao mempertahakan kekuasaan monolitik partai dengan alasan menghindari demokrasi gaya barat, tentu menjadi kontra produktif dengan pemberantasan korupsi. Sebab tanpa melibatkan pers, rakyat, dan organisasi masyarakat sipil dalam pengawasan, gerakan antikorupsi tidak akan berjalan efektif dan akan selalu dipenuhi kepentingan politik.
———————–
* Penulis adalah pengamat China, bekerja di Transparency International (TI) Indonesia

http://erabaru.or.id/k_21_art_18.html

Arah Reformasi Politik China

Posted in Politik oleh Seputar China pada Oktober 30, 2007

Oleh: Fadjar Pratikto*

Opini Koran Tempo, 30 Oktober 2007

Sebuah reformasi politik dalam skala terbatas telah dilakukan oleh Presiden China Hu Jintao. Sejumlah pimpinan China generasi tua, lengser dari keanggotaan lembaga tertinggi partai, Komite Pelaksana Politbiro Partai Komunis China (PKC). Keputusan tersebut dihasilkan diakhir Kongres PKC Ke-17. Beberapa nama yang merupakan generasi baru mulai mengisi kursi Politbiro. Sebuah langkah perombakan elite partai yang sudah diperkirakan sebelumnya.

Perombakan tersebut tentu cukup signifikan dalam konstelasi politik nasional China. Bukan saja semakin memperkuat posisi Hu Jintao dalam mengamankan kekuasaannya sampai lima tahun ke depan, tetapi juga ada secercah harapan akan terjadinya reformasi politik yang lebih luas. Sebagai Ketua PKC sekaligus ketua Komisi Militer, Hu memiliki kesempatan besar untuk menentukan arah reformasi politik tanpa reserve dari lawan politiknya di partai.

Generasi Baru
Sebelum Kongres PKC ke-17, ada anggapan bahwa kekuasaan Hu Jintao dibayang-bayangi oleh pendahulunya (mantan Presiden Jiang Zemin) yang masih berpengaruh kuat di partai dan pemerintah. Wakil Presiden Zeng Qinhong (68), Kepala Komite Disiplin PKC Wu Guanzheng (69), Kepala Keamanan PKC Luo Gan (72), dan Wakil Perdana Menteri Wu Yi, yang dijuluki Wanita Besi, yang pensiun dari Politbiro dikenal sebagai orang dekat Jiang. Zeng Qinhong bahkan dianggap sebagai pesaing berat Hu dalam pengaruh politik.

Selama ini, mereka mengendalikan kekuasaan yang sangat besar. Pengaruh Zeng terlalu kuat, dialah yang mengontrol asset dan kader partai. Wu Guanzheng, pejabat yang bertanggung jawab atas kedisiplinan partai, dan Luo Gan selaku ketua komite politik dan undang-undang yang bertanggung jawab atas keamanan nasional dan merupakan operator penindasan warisan Jiang terhadap kelompok-kelompok politik dan spiritual termasuk salah satu korbannya adalah pengikut Falun Gong, serta yang mengendalikan pers dan internet.

Dikikisnya sisa-sisa klik Jiang tersebut, telah melengkapi pembersihan yang dilakukan oleh Hu Jintao sebelumnya. Menjelang Kongres, Menteri Keuangan Jin Renqing yang juga dekat dengan Jiang diberhentikan meski berita resmi menyebutkan dia mundur karena alasan wanita simpanan. Sesungguhnya dia sedang menghadapi investigasi atas perannya dalam memobilisir uang negara untuk menindas Falun Gong. Sebanyak triliunan Yuan uang negara disalahgunakan demi politik Jiang itu. Jauh sebelumnya Sekretaris PKC Shanghai, Chen Liangyu yang dekat dengan Jiang, juga diadili karena kasus korupsi.

Kini, generasi baru pemimpin China masa depan telah dipilih untuk mengantarkan proses transisi kekuasaan pada 2012. Dua kader Hu, Li Kegiang (52), Ketua PKC Provinsi Liaoning; dan Xi Jinping (54), Ketua PKC Shanghai masuk di jajaran Politbiro. Kepala organisasi partai, He Guoqiang dan Menteri Keamanan Publik, Zhou Yongkang, adalah dua anggota baru lainnya. Presiden Hu Jintao sendiri, menjanjikan persatuan politik dan modernisasi.

Demokrasi Semu
Pada awal September lalu, Perdana Menteri China Wen Jiabao mengatakan pada Forum Ekonomi Dunia di Dalian, China bahwa negara itu harus mendorong reformasi politik dan demokrasi. Jika tidak, reformasi ekonomi akan menjadi sia-sia. Namun reformasi politik yang dimaksudkan itu tetap dalam perspektif ideologis “harus mengikuti arah politik dan kepemimpinan partai”, serta dengan tegas menolak demokrasi Barat. Hu Jintao pernah menegaskan “demokrasi ala China” sebagai satu-satunya jalan menuju masyarakat ideal.

Liberalisme ekonomi yang dicanangkan ternyata tidak mampu merubah bagunan politik monolitik.Argumen pemikiran determinisme ekonomi tak terbukti dalam konteks China masa kini. Faktor politik di bawah PKC menjadi penentu, dan kondisi ekonomi merupakan hal yang dipengaruhi. Pertumbuhan ekonomi di bawah panglima partai, membuat China menjadi “Raksasa Baru”—terlepas kelemahan fundamental ekonominya. Hal mana relevan dengan model “Negara Lunak” (Soft State Model) yang dikembangkan Gunnar Myrdal (1968), semakin otoriter suatu rejim, akan semakin cepat pertumbuhan ekonominya.

Ekonomi politik yang dikembangkan China dengan model rejim Etatisme Kapitalis, meski berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan stabilitas nasional yang kuat, namun mengabaikan hak asasi dan hak politik rakyatnya. Konsekuensinya pembangunan ekonomi justru telah mempertajam kesenjangan sosial, pelanggaran HAM, dan kemiskinan. Disatu sisi, kota-kota pesisir melambung tinggi dengan bangunan- yang megah dan pendapatan yang meningkat, sementara di pedesaan mayoritas warganya hidup dalam kemiskinan. Tidak heran jika konflik sosial semakin luas selama beberapa tahun ini.

Sikap represif penguasa China terhadap lawan-lawan politiknya dan kelompok-kelompok yang dianggap berbahaya justru bertentangan dengan semangat reformasi politik pasca kongres. Apalagi pers sebagai salah satu pilar demokrasi sangat dikekang, ternasuk sensor terhadap internet dan SMS. Selama penguasa China tidak memberi kebebasan berserikat dan pers, serta melakukan pelanggaran HAM lainnya, reformasi politik yang dilancarkan oleh Hu hanyalah bersifat semu, dan itu justru akan menjadi bumerang bagi kepemimpinannya. Kekecewaan para aktivis dan ketidakpuasan rakyat China selama ini adalah indikasinya.

Di tengah tekanan dunia internasional yang menguat menjelang Olimpiade 2008 akibat buruknya kondisi HAM– diantaranya kasus pengambilan organ praktisi Falun Gong, adanya gerakan Obor HAM Estafet Global, serta membesarnya arus mundur dari keanggotaan PKC yang kini jumlahnya sudah mencapai lebih dari 27 juta orang, mau tidak mau pemimpin China mesti mereformasi sistem politiknya. Bagaimanapun kekuatan ekonominya tidak akan membuatnya bergejolak jika mengadopsi prinsip pluralisme dan demokrasi. Sistem multipartai bahkan terbukti menjadi kekuatan supra-struktur negara-negara maju. Inilah momentum bagi Hu untuk meninggalkan sistem partai tunggal.

———————
* Penulis adalah pengamat China, relawan di Global Human Rights Efforts (GHURE)

Wartawan New York Times Dibebaskan

Posted in Arsip oleh Seputar China pada Oktober 25, 2007

BEIJING—Wartawan China yang dipenjarakan ketika bekerja untuk New York Times, akhirnya dibebaskan pada pertengahan September lalu, mengakhiri kontroversi hukuman penjara, yang menunjukkan adanya kontrol ketat pemerintah terhadap media.

Zhao Yan, yang kelihatan kurus, ketika keluar dari penjara, disambut oleh sekelompok kecil keluarga dan teman-temannya, termasuk diantaranya anak perempuan dan adiknya.

“Dalam tiga tahun ini, saya merindukan keluarga saya, terutama nenek saya, yang saat ini telah berusia lebih dari 100 tahun,” demikian pernyataan tertulis Zhao.

“Untuk alasan tersebut, saya ingin waktu bagi diri saya untuk bergabung kembali dengan keluarga saya. Setelahnya, saya berharap dapat bertemu dengan teman-teman lain dan anggota media,” kata Zhao.

Dia menambahkan bahwa dia berencana untuk membuat pernyataan yang lebih panjang atas pendangannya terhadap kasus ini. Zhao, yang melaporkan kejahatan pejabat, dijatuhi hukuman tiga tahun penjara atas tuduhan penipuan pada bulan Agustus 2006 – tuduhan tersebut dibantah Zhao.

Dia ditahan pada tahun 2004 dengan tuduhan telah membocorkan rahasia negara, setelah laporannya di New York Times menyatakan mantan Presiden Jiang Zemin mungkin akan menyerahkan posisinya sebagai ketua Komisi Militer Pusat. Setelahnya Jiang memang menyerahkan jabatannya.

Zhao dituduh telah memberitakan mengenai perseteruan antara Jiang dan pewaris kekuasaannya Hu Jintao. The Times mengatakan bahwa tuduhan tersebut tidak beralasan.

“Kami telah berkata beberapa kali bahwa Zhao Yan adalah reporter yang sangat terhormat dan pekerja keras, dimana satu satunya kesalahan yang dapat dilihat adalah dia bekerja sebagai wartawan,” demikian pernyataan Bill Keller, eksekutif editor The Times.

“Harapan kami bahwa Zhao Yan, yang telah menjalani tiga tahun di penjara, akan dapat kembali ke kehidupannya dan kembali ke profesi yang dipilihnya tanpa adanya halangan.”

Reporters Without Borders, kelompok yang bekerja untuk kampanye melawan pengekangan media berbasis di Paris, mengatakan bahwa pada hari pembebasannya itu, Zhao seharusnya telah mendapatkan hak-haknya kembali, termasuk hak untuk bekerja sebagai wartawan.

Rahasia Partai Komunis
China memenjarakan 35 wartawan dan 51 penulis internet di penjara “hanya karena mereka menggunakan hak mereka untuk memberitakan sesuatu,” kata kelompok tersebut.

Zhao, mantan polisi, bergabung dengan The Times kantor Beijing di tahun 2004, setelah bekerja sebagai wartawan investigasi untuk media-media China, terutama memberitakan mengenai korupsi dan penderitaan rakyat di pedesaan yang tanpa mendapatkan perlindungan terhadap hak mereka.

Kasusnya telah menjadi fokus kampanye kelompok kerja HAM internasional, yang mengatakan bahwa dia adalah korban dari Partai Komunis yang berkuasa, yang telah menggunakan hukum kerahasiaan untuk mengekang berita. Diplomat Senior Amerika Serikat juga mendesak pembebasannya.

Tekanan tersebut mungkin telah menyebabkan pengadilan Beijing, tanpa diduga, menolak tuntutan negara terhadap Zhao, yang menginginkan hukuman penjara 10 tahun atau lebih.

Pengadilan tetapi membuktikan bahwa Zhao bersalah karena kasus penipuan, dengan mengatakan bahwa dia mengambil uang 20.000 yuan ($ 2660) dari pejabat desa di tahun 2001 tetapi akhirnya tidak membantu pejabat tersebut menghindar dari hukuman di “kamp pendidikan ulang” – sejenis penjara di China.

Kelompok Koresponden Media Asing di China mendesak penguasa China untuk membawa kondisi rahasia negara dan peraturan keamanan nasional untuk sejajar dengan norma internasional.

Dalam pernyataanya terhadap kasus Zhao, bersamaan dengan kasus Ching Cheong, koresponden Hong Kong untuk Straits Times Singapura yang juga dinyatakan bersalah atas tuduhan mata-mata asing, sebagaimana yang sering dituduhkan oleh China terhadap para koresponden asing di China.

“Kasus Zhao menyatakan adanya masalah gangguan dan intimidasi terhadap tugas wartawan di China. Kami berharap pembebasannya akan menjadi titik awal dari penghentian praktek seperti itu lagi, yang mana tidak sesuai dengan aspirasi China, ataupun harapan dunia internasional terhadap tuan rumah Olimpiade,” demikian pernyataan kelompok tersebut.

Reuters, 15 September 2007
https://www.theepochtimes.com/news/7-9-15/59784.html

Kebebasan pers China Masuk Peringkat Terburuk

Posted in Pers oleh Seputar China pada Oktober 18, 2007

Kebebasan Pers di China tetap menduduki sepuluh peringkat terburuk berdasarkan hasil indeks penelitian yang dilakukan oleh RSF. Indeks ini menunjukan bahwa pers masih sangat terkekang di negeri itu.

Oleh: Fadjar Pratikto/ Era Baru

Laporan tahunan indeks kebebasan pers 2007 yang dikeluarkan oleh Reporters Without Borders (RSF) menyebutkan sepuluh negara berada diperingkat terburuk dalam kebebasan pers. Salah satunya adalah China yang menempatkannya diurutan ke-163 dari 169 negara di dunia, dengan indeks sebesar 89,00, atau stagnan diskors tersebut pada tahun sebelumnya.

”Kita juga menyesali Negeri China itu (163) tetap berada diurutan bawah dari index tersebut. Dengan kurang dari satu tahun pelaksanaan Olimpiade Beijing 2008, perbaikan dan kebebasan pers yang sering yang dijanjikan oleh penguasa setempat sepertinya menjadi harapan yang sia-sia,” demikian rilis yang dimuat diwebsite http://www.rsf.org.

Selama ini, rejim komunis China memang sangat mengekang kebebasan pers, bahkan semakin meningkat menjelang penyelengaraan Olimpiade tahun depan. Biro Keamanan Publik Kota Beijing tanggal 28 Agustus lalu, misalnya mengumumkan diperkenalkannya polisi maya untuk Internet. Peraturan baru ini dikritik sebagai suatu metode lain yang digunakan oleh penguasa China untuk memperketat pengontrolan terhadap Internet. Belum lama ini, seorang bloger He Weihua juga ditahan secara paksa di rumah sakit jiwa di provinsi pusat Hunan.

Menurut Pusat Informasi untuk HAM dan Demokrasi yang berbasis di Hong Kong, China juga telah memperketat kontrol terhadap media menjelang Kongres Nasional PKC ke-17. Diperkirakan hampir 100 stasiun radio di negara China telah ditutup.

Selain China, sembilan negara lainnya yang berada diurutan bawah antara lain adalah Eritrea yang berada diurutan ke 169 dengan indeks 114,75, Korea Utara 168 (108,75), Turkmenistan 167 (103,75), Iran 166 (96,50), Cuba 165 (96,17), dan Burma 164 (93,75). Korea Utara dan Turmenistan sudah beberapa tahun ini berada diposisi paling bawah dalam Indeks Kebebasan Pers yang diluncurkan RSF.

RSF juga menyoroti kebebasan pers di Malaysia yang melorot 32 tingkat menjadi urutan 124. Urutan ini merupakan peringkat terburuk yang diraih Malaysia sejak survei mulai dilakukan pada 2002. “Meski jatuh ke urutan 124 merupakan kejatuhan yang besar, survei RSF ini merefleksikan keseriusan kami terhadap kebebasan media di negara ini,” kata Gayathry Venkiteswaran dari Pusat Jurnalis Independen seperti dikutip dari AFP.

Dalam pernyatananya, RSF mendesak agar pemerintah dan parlemen untuk mengkaji aturan hukum terhadap media, sehingga media dapat muncul sesuai perannya di alam negara demokratis. RSF juga mmenyatakan penahanan blogger, penutupan atau sulitnya mengakses web berita menjadi perhatian dalam kebebasan media di penjuru dunia. “Seluruh pemerintah telah sadar bahwa internet dapat memainkan peran penting dalam demokrasi dan mereka mengeluarkan metode baru untuk menyensornya,” ujarnya. (Diolah dari berita di http://www.rsf.org)

Presiden Bush temui Dalai Lama

Posted in Agama,HAM oleh Seputar China pada Oktober 17, 2007

Dalai Lama

Dalai Lama terima penghargaan tertinggi bagi warga sipil
Presiden Amerika Serikat George Bush mengadakan pertemuan dengan Dalai Lama, pemimpin spiritual Tibet pada 16 Oktober 2007 lalu, meski pemerintah China mengajukan keberatan.

Ini adalah pertemuan ketiga antara Presiden Bush dan Dalai Lama sejak 2001.

Juru bicara pemerintah China mendesak Amerika ‘memperbaiki kesalahan dan membatalkan pertemuan dengan Dalai Lama’.

Pemerintah Amerika mengatakan Presiden Bush memahami kekhawatiran Beijing namun juga meminta Cina untuk menempatkan Dalai Lama sebagai ‘pemimpin keagamaan dan tokoh yang menginginkan perdamaian’.

Pertemuan dengan Dalai Lama berlangsung di kediaman Presiden Bush di Gedung Putih, bukan di kantor resmi, the Oval Office.

Dalai Lama berada di Amerika antara lain untuk menerima Medali Emas Kongres, penghargaan tertinggi untuk warga sipil.

Kemarahan China

China memperingatkan bahwa keputusan Kongres memberi penghargaan kepada Dalai Lama akan sangat merusak hubungan negara itu dengan Amerika. Pimpinan partai komunis Tibet mengatakan semalam bahwa semua yang dilakukan Dalai Lama adalah kepentingan politik, bukan keagamaan.

“Kami benar-benar marah,” tegas Zhang Qingli, sekretaris partai Komunis Tibet.

Dalai Lama hidup di pengasingan di India sejak pemberontakan yang gagal terhadap Cina pada 1959. Dia menggambarkan dirinya sebagai seorang biku Buddha yang sederhana.

Tetapi dia adalah pemimpin spiritual bagi enam juta rakyat Tibet. Dia juga merupakan simbol global bagi perjuangan tanpa kekerasan, yang mendapat dukungan dari banyak selebriti terkenal di seluruh dunia.

Rakyat Tibet percaya bahwa Dalai Lama adalah reinkarnasi ke-14 Dalai Lama pertama dan memiliki hubungan spiritual dengan Buddha.

Hak asasi manusia

Tugas utama Dalai Lama adalah melindungi agama Buddha Tibet, tetapi selama 48 tahun di pengasingan, dia juga memperjuangkan kebebasan Tibet karena dia melihat kelanjutan agamanya terikat dengan masa depan negara.

Dia mengatakan pada sebuah wawancara bahwa jika Tibet merdeka satu hari nanti, dia akan menghentikan peran politiknya dan menjadi guru spiritual.

Pada tahun 1989 dia meraih Nobel Perdamaian dan sejak itu mendapat berbagai penghargaan lainnya dan sekarang Dalai Lama menerima penghargaan tertinggi bagi penduduk sipil dari Kongres Amerika, karena jerih payahnya dalam memperjuangkan hak asasi manusia.

Sebagian kalangan memperkirakan ini adalah cara Presiden Bush mendesak China untuk memperbaiki catatan hak asasi manusianya, karena Washington sadar bahwa kecil kemungkinan Beijing akan marah besar, karena Cina ingin Presiden Bush menghadiri Olimpiade tahun depan di Beijing.
http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2007/10/071016_dalailamaus.shtml

Hampir 400 Praktisi Falun Dafa Disiksa Di Kamp Kerja Paksa Wanita Ke-II – Provinsi Shandong

Posted in HAM oleh Seputar China pada Oktober 5, 2007

Diperkirakan sekitar 2.000 praktisi ditahan secara ilegal di Provinsi Shandong, dimana sekitar 400 praktisi ditahan pada Kamp Kerja Paksa Wanita ke-II di Shandong. Hukuman penjara semakin lama. Semua praktisi dari Weihai dihukum tiga tahun kerja paksa.

Para praktisi yang ditahan di Kamp Kerja Paksa Wanita ke-II disiksa dan dipaksa untuk melakukan kerja paksa. Ada empat brigade di dalam Kamp itu. Mayoritas orang-orang di dalam brigade ini adalah praktisi, dan sisanya adalah para pecandu obat dan pengikut agama. Siksaan terhadap praktisi menjadi semakin buruk dan waktu untuk melakukan kerja paksa semakin panjang.

Para praktisi Falun Gong dipaksa bangun jam 04:00 pagi dan mulai untuk bekerja pada jam 05:00 pagi hingga jam 10:00 malam. Tetapi, kadang-kadang mereka harus bekerja hingga tengah malam atau bahkan jam 01:00 pagi. Mereka sarapan pagi pada jam 07:00 dan hanya diberi waktu 20 menit untuk makan dan membersihkan diri. Makan siang sekitar 15 hingga 20 menit dan makan malam pada pukul 5.30 sore. Kulit pada pantat praktisi sering pecah-pecah dan terkena infeksi oleh karena duduk di atas bangku keras untuk jangka waktu yang lama. Menggunakan bantal tidaklah diijinkan. Para sipir akan menyitanya dan mencaci-maki praktisi jika mereka menemukannya. Kualitas makanan sangatlah buruk. Para pecandu obat tidak memakannya. Pihak keluarga mereka mengirimkan uang dan staf di kamp kerja akan menyiapkan makanan terpisah.

Para praktisi diberi makanan encer yang dibuat dari labu dengan rasa tidak baik. Mereka dapat makan lebih baik selama kunjungan keluarga. Tetapi ruang untuk pengunjung diruntuhkan pada bulan Oktober 2006. Sekarang, pihak keluarga hanya diberi waktu setengah jam untuk bertemu dan para praktisi tidak diperbolehkan makan pada saat jam kunjungan. Semua makanan dari luar dilarang, bahkan sepotong permen pun tidak diperkenankan. Kerja budak menjadi lebih melelahkan, para praktisi kekurangan makanan bergizi dan banyak yang pingsan. Tidur juga menjadi semakin sulit. Pengurangan hukuman biasanya sepuluh hari, sekarang mereka hanya mendapat dua hari.

Chinese http://minghui. org/mh/articles/ 2007/9/7/ 162255.html
English http://www.clearwis dom.net/emh/ articles/ 2007/9/26/ 89934.html

Laporan Tahunan Kebebasan Beragama Mengutuk Penindasan PKC Sebelum Pertandingan Olimpiade

Posted in HAM oleh Seputar China pada Oktober 5, 2007

Pada 14 September 2007, Pemerintah Amerika menerbitkan Laporan Tahunan tentang Kebebasan Beragama Internasional. Laporan tersebut mengkritik keras terhadap Partai Komunis China (PKC) atas pengekangan kebebasan beragama dan penindasan terhadap para misionaris luar negeri sebelum Pertandingan Olimpiade. Dalam laporan itu disebutkan bahwa praktisi Falun Gong “masih terus menghadapi penahanan, penyekapan dan pemenjaraan. ”

Pemerintah Amerika mengkritik keras atas penindasan PKC baru-baru ini terhadap berbagai kelompok, rupanya dilakukan dalam rangka persiapan Pertandingan Olimpiade 2008. Laporan itu mengatakan bahwa PKC terus menekan terhadap kelompok religius minoritas.

“Praktisi Falun Gong terus menghadapi penahanan, penyekapan dan pemenjaraan serta terdapat laporan yang bisa dipercaya atas kematian yang disebabkan oleh penyiksaan dan perlakuan kejam. Para praktisi yang menolak untuk melepaskan kepercayaannya kadang-kadang menjadi sasaran diperlakukan dengan kejam di penjara, kamp buruh melalui pendidikan ulang dan pengadilan tambahan di pusat “pendidikan legal.” Masih dilaporkan bahwa Kantor pemerintahan 610, agen keamanan negara terlibat didalam perlakuan kejam terhadap praktisi Falun Gong, terus memakai cara-cara yang dilegalkan untuk menindas.”

“Semenjak 1999, Sekratariat Negara AS menetapkan China sebagai “Negara yang perlu Mendapat Perhatian Khusus” dibawah Hukum Kebebasan Beragama Internasional (IRFA – International Religious Freedom Act) karena pelanggaran berat terhadap kebebasan beragama.”

Laporan tersebut ditujukan kepada Kongres Amerika. Dalam laporan itu mencantumkan delapan negara yang mendapat perhatian khusus, termasuk China, Birma, Eritrea, Iran, Korea Utara, Saudi Arabia, Sudan dan Urbekistan. Negara-negara ini telah “terlibat atau mentolerir pelanggaran berat terhadap kebebasan beragama”selama periode pencatatan.

Chinese: http://www.minghui. org/mh/articles/ 2007/9/16/ 162786.html
English: http://www.clearwis dom.net/emh/ articles/ 2007/9/17/ 89615.html

Gao Zhisheng Minta Perhatian Atas Pelanggaran HAM Berat di China

Posted in HAM oleh Seputar China pada Oktober 5, 2007

Oleh: reporter Minghui Li Jingfei

Pengacara HAM terkenal Gao Zhisheng, dikenal sebagai “suara hati nurani China,” baru-baru ini telah mengirim surat setebal 9 halaman disertai statistik dan bukti-bukti kepada Kongres Amerika Serikat. Ia mengungkapkan keprihatinan yang sangat mendalam atas Olimpiade Beijing.

Surat tersebut menyatakan bahwa situasi HAM di China sangat buruk bahkan melebihi yang telah digariskan dalam Piagam Olimpiade. Dalam surat tersebut, Gao berbicara tentang penindasan tehadap Falun Gong secara terperinci dan menyerukan kepada Kongres Amerika untuk memberi perhatian lebih atas bencana hak asasi manusia ini.

Gao menyebutkan, “Ratusan ribu praktisi telah dikirim ke kamp kerja paksa. Jutaan orang telah ditahan secara ilegal di kamp pencucin otak yang tak terhitung jumlahnya yang didirikan di setiap sudut negeri China oleh “Kantor 610″ yang terkenal dengan kekejamannya, sebuah institusi dibentuk untuk memimpin penganiayaan terhadap Falun Gong. Kamp pencucian otak semacam ini sangat sederhana prosedurnya, dimana metode yang digunakan untuk ‘mendidik’ para praktisi adalah luar biasa kejam. Puluhan juta praktisi telah dianiaya dengan berbagai cara. Sejumlah besar anak-anak dikeluarkan dari sekolah karena orang tua mereka berlatih Falun Gong. Banyak anak ditiggal tanpa perawatan atau bahkan menjadi tuna wisma setelah orangtua mereka ditangkap. (Sejak Agustus lalu, anak perempuan saya telah bertemu banyak anak-anak ini yang berada di luar pagar sekolah. Anak-anak tuna wisma ini, datang kepada anak saya untuk menyampaikan simpati dan dukungan mereka. Hati kami tersentuh oleh anak-anak ini.)”

“Sebagai bukti dari penganiayaan ini, saya merekomendasikan laporan investigasi yang saya susun sendiri. Laporan ini mencatat bukti-bukti yang secara legal bisa diterima yang saya kumpulkan sebagai pengacara. Satu kasus yang melibatkan Liu Boyang, 28 tahun, lulusan kedokteran dan ibunya, yang mana keduanya adalah praktisi Falun Gong. Ibu dan anak ini disiksa sampai mati kurang dari sepuluh hari dalam bangunan yang sama. Malam terakhir sebelum kematian mereka, keduanya bisa saling mendengar tangisan kesakitan akibat dari penyiksaan. Sebelum teriakan kematian mereka, polisi tidak pernah berhenti menyiksa mereka.”

Menurut Gao, delapan tahun penindasan terhadap Falun Gong adalah bencana kemanusiaan yang paling lama dan paling serius di China dan di dunia. ”Inilah mengapa saya sangat menekankannya pada bagian awal dari surat ini,” tandasnya.

Dalam suratnya, Gao Zhisheng bertanya, “Apakah selama delapan tahun penganiayaan terhadap Falun Gong dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan oleh PKC hanya masalah bagi para korban? Atau masalah bagi umat manusia?

“Apakah genosida yang dilakukan oleh PKC dan kejahatan terhadap kemanusiaan hanya amcaman bagi para korban, atau bagi nilai moral seluruh umat manusia?

“Apakah umat manusia mampu melawan kekejaman terhadap kemanusiaan seperti ini yang dilakukan oleh negara?”

Tragedi Pelanggaran HAM
Gao menunjukkan dalam suratnya, “PKC masih terus menindas gereja keluarga Kristen adalah setara dengan kekejamannya menganiaya terhadap Falun Gong.” Dia juga mencantumkan bukti-bukti penindasan brutal terhadap hak dan kebebasan manusia, penganiayaan berat terhadap gerakan pembelaan hak, kelakuan keji menyita harta benda milik pribadi, kehancuran lingkungan, sistim hukum yang ekstrim tidak adil, dan masalah-masalah lainnya di China.

Gao mengatakan, “Yang terhormat bapak-bapak dan ibu-ibu, menuliskan surat ini sungguhlah sangat berat. Kalau kejahatan ini hanya terjadi sekali atau beberapa kali, saya percaya kalian akan marah seperti saya. China pada hari ini, tragedi tak berperikemanusiaan ini sudah menjadi situasi biasa yang terjadi di seluruh negeri. Banyak orang telah terbiasa dengan ini, dan mereka acuh-tak acuh. Alasannya PKC dapat mempertahankan kekuasaannya adalah dengan sengaja mengganyang hati nurani kita dengan kekerasan, dan membuat hati kita mati rasa dengan kebohongan. Itu sedang mengikis moral kita setiap hari, untuk mendapatkan dukungan pasif dari pikiran orang yang tak berdaya. Ini telah menurunkan moral masyarakat dibawah garis dasar untuk melawan keganasannya, dengan demikian kekuasaanya stabil. Saat ini, PKC memperluas kebobrokan moralnya ke seluruh dunia. Kalau Olimpiade diadakan oleh PKC, itu berarti keberhasilan kebobrokan moral global PKC.”

Faktanya Olimpiade akan diadakan oleh PKC yang menyakitkan hati dan sanubarinya. Gao menunjukkan, “Rezim Komunis China memperlakukan pendaftaran dan penyelenggaraan Pesta Olimpiade sama persis seperti pentingnya urusan politik. Apapun yang berhubungan dengan Pesta Olimpiade dianggap sebagai isu politik. Liu Qi, orang terpenting China yang bertanggung jawab terhadap Olimpiade ini, dia sendiri mengatakan, ‘tugas politik tertinggi’ memastikan setiap hal sesuai dengan Olimpiade. Ini adalah hal sederhana dan fakta yang umum diketahui di China.”

“Jelas bagi semua rakyat China bahwa dengan sukses menyelenggarakan Pesta Olimpiade, rezim komunis berusaha untuk memperoleh dua tujuan. Pertama, berusaha untuk meyakinkan rakyat China bahwa dunia masih mengakui Partai Komunis sebagai pemerintah yang sah walaupun telah melakukan segala kekejaman dan kejahatan besar terhadap kemanusiaan yang mana telah membunuh 80 juta jiwa rakyat China dalam beberapa dekade ini. Kedua, ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Partai Komunis masih memiliki kekuasaan atas China dan masih menikmati dukungan penuh dari rakyat.”

Dia menekankan, “Sebagai seorang China, saya sangat menghargai dan mencintai tanah air saya dan rakyat kami yang menderita. Saya juga sudah lama ingin melihat hari dimana Olimpiade akan diadakan di China. Tetapi ketika saya mengingat lingkungan sosial di China, dan bagaimana Pesta Olimpiade dimanfaatkan di sini, sanubari dan rasa keadilan saya membuat hati saya sangat perih. Seperti yang anda ketahui, saat ini di China, orang yang menghubungkan Olimpiade dengan Hak Asasi Manusia akan diburu oleh rezim komunis dan dikategorikan sebagai “musuh negara”, “pendosa rakyat” dan “penghancur keharmonisan masyarakat.”

Dia menekankan, “Kami tidak mendukung atau berpura-pura mendukung penggunaan Pesta Olimpiade sebagai alat politik. Juga kami tidak mendukung atau berpura-pura mendukung Pesta Olimpiade yang tidak mempertimbangkan hati nurani manusia, keadilan dan nilai moral.”

Para Politisi Mendukung Gao Zhisheng
Perwakilan Ileana Ros-Lehtinen, anggota dari Komite Hubungan Luar Negeri, David Kilgour, mantan Sekretaris Negara Kanada Urursan Asia Pasifik dan mantan Wakil Jurubicara Majelis Perwakilan Rendah Kanada, dan Edward McMillan-Scott, Wakil Presiden dari Parlemen Eropa, mendukung Gao pada konferensi pers sebulan lalu.

Perwakilan Ileana Ros-Lehtinen mengatakan, “Sangat sedikit orang di dunia yang secara akurat menyadari parahnya kondisi Beijing terhadap hak asasi manusia dari pada pengacara HAM terkenal dan nominasi Hadiah Nobel Perdamaian, Gao Zhisheng.”

“Rezim di Beijing, bukanya melihat dekatnya penyelenggaraan Olimpiade sebagai saatnya untuk lebih terbuka, tetapi melihatnya sebagai mandat untuk mengontrol dan menindasan lebih lanjut terhadap rakyat China.”

Dia berkata, “Saya telah bergabung dengan kolega saya, Rohrabacher, dan yang lain di Majelis dalam menyampaikan keprihatinan kami atas keikutsertaan dalam ‘Olimpiade Genosida’ dengan kerjasama dengan House Resolution 610 yang menyatakan ‘keinginan dari Anggota Majelis Rendah bahwa Pemerintah Amerika Serikat harus mengambil langkah secepatnya untuk memboikot Pesta Olimpiade Musim Panas di Beijing pada bulan Agustus 2008 kecuali Rezim China berhenti melakukan pelanggaran serius HAM warganya.'”

Menyerukan Kepada Presiden Bush
Gao menyerukan dalam suratnya, “Ketika saya menyelesaikan surat ini, saya dengar bahwa Presiden Bush memutuskan untuk bergabung dalam Olimpiade tahun depan. Maafkan atas kelancangan saya, saya ingin menghimbau Pak Presiden, apa yang sedang Anda lakukan? Apakah Anda tahu bagaimana Presiden Reagan menangani Olimpiade Seoul 1988? Saya ingin mengingatkan teman-teman saya di sini. Saya berharap teman-teman saya di Kongres, baik di Senat dan di Dewan, bisakah membuat kebaikan bagi peradaban manusia seperti dalam Olimpiade Seoul tahun 1988.”

Dia melanjutkan, “Bagi mereka yang sedang berjuang di penjara-penjara PKC, bagi mereka yang merintih karena penyiksaan, bagi mereka yang mengembara untuk menghindari penganiayaan memerlukan bantuan anda. Ketika anda menyalakan lilin, ketika anda bersolek, mengangkat minuman, saya berharap anda akan memikirkan mereka yang sedang mengalami penderitaan. Semoga Tuhan memberkati Amerika, semoga Tuhan memberi keadilan, tanggung jawab dan keyakinan teguh bagi setiap orang. Semoga sinar kebebasan menerangi China, membuat kejahatan tidak ada tempat untuk sembunyi, dan semoga mereka yang dianiaya tidak menderita lagi.”

Chinese: http://minghui. ca/mh/articles/ 2007/9/21/ 163076.html
English: http://www.clearwis dom.net/emh/ articles/ 2007/9/22/ 89801.html

Laman Berikutnya »