SEPUTAR CHINA


Apakah kebijakan satu anak Cina berhasil?

Posted in Uncategorized oleh Seputar China pada September 27, 2007

Kebijakan satu anak di Cina, yang berhasil mengendalikan kelahiran sekitar 400 juta anak, sepertinya masih akan tetap dipertahankan.

Wartawan BBC, Michael Bristow, melaporkan sejak kebijakan itu diterapkan pada tahun 1979, Cina berhasil mengendalikan laju pertumbuhan penduduknya. Kebijakan satu anak Cina diberlakukan dengan pendekatan persuasi, namun banyak kasus-kasus pemaksaan aborsi yang dilaporkan dalam menerapkan kebijakan itu.

Dan setelah hampir 30 tahun, pemerintah Cina tampaknya masih belum akan melonggarkan kebijakan itu secara resmi, walau belakangan muncul laporan-laporan di sejumlah kawasan pedesaan, kebijakan itu tidak lagi diterapkan dengan ketat.

Banyak warga Cina yang mulai berpendapat kebijakan itu merupakan kekeliruan dan akan menyebabkan masalah kependudukan yang serius di masa depan. Namun tak kalah banyaknya juga orang tua yang merasa senang karena hanya memiliki satu anak saja.

Dipertanyakan
Pemerintah Cina, dalam sebuah konperensi pers awal tahun 2007, menganggap kebijaksanaan itu sebagai sebuah keberhasilan.

“Karena Cina telah bekerja keras selama 30 tahun, kami kini memilik jumlah penduduk lebih sedikit 400 juta jiwa,” kata Zhang Weiqing, Menteri Kependudukan Nasional dan Ketua Komisi Keluarga Berencana.

“Dibandingkan dengan negara berkembang lain, yang memiliki jumlah penduduk besar, kami menyadari kebijakan ini mentransformasikan kami setengah abad ke depan,” tambahnya.

Sebuah tim ilmuwan Cina yang independen bersama ilmuwan internasional, yang menyelesaikan studinya tahun ini, sepakat bahwa kebijakan itu membuat Cina berhasil mengendalikan pertumbuhan penduduknya.

Namun ketua tim, Prof. Wang Feng dari Universitas California, mengatakan terkendalinya laju pertumbuhan penduduk lebih disebabkan menurunnya tingkat kelahiran tahun 1970-an dan bukan karena kebijakan satu anak.

Pada masa tahun 1970-an, Cina mulai mendorong orang untuk menunda usia perkawinan, memperbesar jarak antar kelahiran, dan juga memiliki anak lebih sedikit.

“Tingkat kelahiran total, yaitu jumlah anak yang dilahirkan seorang ibu sepanjang hidupnya, berkurang dari 5 menjadi 2,” kata Prof. Wang.

Dan pengurangan itu terjadi sebelum diterapkannya kebijakan keluarga berencana dengan satu anak pada tahun 1979.

Satu Anak di Perkotaan
Turunnya tingkat kelahiran itu juga antara lain disebabkan oleh meningkatnya kondisi sosial dan ekonomi.

Di negara Asia lain, seperti Thailand dan Korea Selatan, modernisasi telah menyebabkan kaum ibu memiliki lebih sedikit anak, walau tidak melaksanakan kebijakan keluarga berencana yang ketat.

Bagaimanapun Profesor Wang mengakui kebijakan satu anak sejak tahun 1979 itu membantu penurunan tingkat kelahiran lebih lanjut, dan juga berperan dalam perubahan sikap. “Banyak orang yang tidak suka lagi punya banyak anak. Orang menerima kebijakan itu,” katanya.

Hal itu umumnya terlihat di kawasan perkotaan. Banyak ibu yang diwawancarai BBC mengatakan senang dengan hanya memiliki 1 anak saja. Zhao Hui, ibu dari seorang anak perempuan Zhang Jin’ao yang berusia 4 tahun, mengatakan dia tidak pernah pingin punya anak lagi.

“Satu anak sudah cukup. Saya amat sibuk bekerja,” kata ibu yang berusia 38 tahun dan sehari-harinya bekerja di sektor perumahan. “Bukan karena masalah keuangan dan juga bukan karena peraturan pemerintah, tapi saya tetap ingin punya 1 anak,” tambahnya. Dia mengatakan banyak temannya yang juga berpikiran sama.

Aborsi paksa
Namun banyak juga kasus yang dilaporkan tentang kebijakan yang dipaksakan kepada perempuan, yang tidak sepenuhnya ingin punya satu anak.

Seorang pegiat HAM, Chen Guangcheng, dipenjara tahun lalu karena mengungkapkan tentang hal yang disebutnya sebagai pekerja kesehatan yang terlalu bersemangat di Linyi, Propinsi Shandong.

Dia mengatakan para perempuan di sana dipaksa untuk menempuh aborsi pada masa kehamilan yang sudah lama dan kemudian disterilkan.

Cina juga menghadapi masalah kependudukan yang meluas karena kebijakan keluarga berencana. Pejabat Cina mengatakan tingkat kelahiran saat ini antara 1,7 hingga 1,8 untuk setiap perempuan, di bawah tingkat 2,1 yang diperlukan untuk mempertahankan jumlah penduduk yang stabil.

Namun para pengamat kependudukan di luar negeri mengatakan tingkat kelahiran yang sebenarnya lebih rendah lagi, yaitu 1,5. Hal ini akan mendorong meningkatnya jumlah penduduk yang lebih tua sementara angkatan kerja makin sedikit untuk menopang penduduk tua, dan juga tidak seimbangnya proporsi anak laki-laki dan perempuan.

Prof. Wang Feng mengusulkan agar Cina mulai melonggarkan kebijakan itu untuk mengatasi masalah tersebut.

Dalam sidang Kongres Rakyat Cina pada Bulan Maret, sebanyak 29 anggotanya dewan penasehat menyarankan orang tua di Cina boleh memiliki lebih banyak anak. Namun saran itu tidak mendapat perhatian, dan paling tidak sampai tahun rencana pembangunan lima tahun pada 2010 nanti, tidak akan ada perubahan kebijakan.

http://www.bbc.co.uk/indonesian/indepth/story/2007/09/070920_satuanak.shtml

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: