SEPUTAR CHINA


Olimpiade Beijing Merusak Hutan Papua

Posted in Lingkungan oleh Seputar China pada Juli 13, 2007

Hasil investigasi sejumlah LSM lingkungan menunjukan adanya perdagangan kayu merbau secara ilegal dalam jumlah besar dari Papua menuju China. Pernyataan Komite  Olimpiade Beijing 2008 bahwa kayu yang digunakan adalah legal dan bersertifikat, diragukan oleh mereka.

Oleh: Fadjar Pratikto 

Tidak puas dengan menghancurkan hutan di dalam negeri, kini China komunis juga melahap hutan alam atau biasa disebut hutan surgawi Indonesia. Sedikitnya 300.000 meter kubik kayu merbau asal Papua diseludupkan ke China setiap bulannya. Menjelang Olimpiade 2008, permintaan akan kayu ilegal ini semakin meningkat seiiring dengan tingginya aktivitas pembangunan sarana dan prasana untuk kepentingan pesta olah raga dunia di Beijing itu. 

Pernyataan bahwa pesta olah raga kali ini adalah “Olimpiade hijau” karena menggunakan kayu-kayu yang legal dan telah tersertikasi, diragukan oleh Environmental Investigation Agency (EIA) Indonesia. Apalagi pengiriman kayu ilegal dari Papua- Indonesia ke China masih berlangsung hingga sekarang. Penjarahan kayu ini secara serius telah merusak konservasi hutan Papua. Dengan masih berlangsungnya praktek penjarahan hutan ini, dikhawatirkan akan semakin banyak terjadi bencana yang diakibatkan oleh kerusakan alam di Tanah Air. 

“Ketika mereka (komite olimipade) mengatakan bahwa semua kayu yang dipakai untuk konstruksi adalah kayu yang legal, kita tunjukkan bukti-buktinya, bahwa kayu illegal sampai saat ini, sampai detik ini masih terus masuk ke China,” tandas M. Yayat Afianto, Regional Trade Center Telapak yang beberapa kali pernah berkunjung ke China untuk melakukan investigasi. 

Sejauh ini, menurut M. Yayat Afianto, penguasa komunis China masih belum memiliki kemauan politik yang kuat untuk menghentikan praktek ilegal ini. “Sampai sekarang, pemerintah  China sama sekali tidak mengeluarkan peraturan masalah penyeludupan kayu dari Indonesia ini. Bahkan sampai detik ini pun, tidak ada satu-pun pihak yang diberi mandat oleh pemerintah China untuk menindak-lanjuti masalah ini.“ tandasnya kepada Era Baru. 

Salah satu rekomendasi EIA/ Telapak dalam laporannya pada Maret 2007 yang berjudul “Raksasa Dasamuka”, menyebutkan, China sebagai negara konsumen kayu utama, seharusnya memberlakukan undang-undang pelarangan impor dan penjualan kayu, serta produk kayu yang diperoleh secara ilegal Lebih jauh, mereka juga telah berusaha menekan pihak-pihak yang berwenang di Indonesia untuk memperhatikan masalah ini dengan lebih serius. 

Secara khusus, EIA/ Telapak akan bekerja sama dengan LSM-LSM internasional untuk mengadakan berbagai kampanye dan menekan Komite Olimpiade untuk membuktikan legalitas kayu yang digunakannya. Mereka berharap semua pihak dapat mendukung gerakan untuk menekan penguasa komunis China. Dengan begitu, mereka yakin praktek penyeludupan ini dapat segera dihentikan dan hutan Papua di Indonesia dapat terhindar dari kerusakan. 

Penadah Terbesar

Semenjak tahun 2004, China menjadi importir sekaligus eksportir kayu nomor 1 di dunia. Kenyataan itu telah mendorong, EIA/ Telapak melakukan investigasi terhadap isu ini. Hasil temuan EIA mengungkapkan terjadinya penjarahan kayu merbau secara besar-besaran di Papua. Hasil investigasi pertamanya terhadap penebangan liar di Papua dan pencurian kayu yang masif oleh China dipublikasikan dalam laporan berjudul The Last Frontier (2005). 

 

Investigasi EIA/ Telapak telah mengungkap bahwa tumpukan gelondongan kayu merbau di pelabuhan Zhangjiagang merupakan barang curian dari hutan-hutan Papua di Indonesia. Dilihat dari volumenya dan kapal container yang datang setiap harinya, skala perdagangan kayu merbau ini sungguh mencengangkan dan merusak. “Semenjak tahun 2001, Indonesia telah melarang ekspor kayu dalam bentuk gelondongan, sehingga kayu-kayu merbau gelondongan yang kita temukan itu pastilah seludupan.” ucap Yayat Afianto.

Larangan ekspor kayu bulat yang dikeluarkan oleh Pemerintah Indonesia pada Oktober 2001 maupun nota kesepahaman (memorandum of understanding/MOU) antara RI dan penguasa China yang berisi komitmen untuk mengurangi perdagangan kayu liar tidak menghalangi keluarnya kayu-kayu gelondongan ilegal dari Indonesia ke China. Kayu itu untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri kayu di China, yang saat ini sedang booming.

Para penyelidik lingkungan memastikan adanya penyelundupan kayu besar-besaran dari Papua ke China. Jumlah kayu yang diselundupkan begitu besar sehingga mereka menyebutnya sebagai yang terbesar yang melibatkan satu jenis kayu.“Ini barangkali kasus penyelundupan terbesar yang pernah kami temukan selama melakukan riset mengenai illegal logging di Indonesia,” kata Julian Newman, pimpinan kampanye kehutanan EIA. Hal itu, menurutnya, mengancam kelestarian hutan-hutan di seluruh Asia Pasifik. 

Pada Maret tahun lalu, Greenpeace China menerbitkan laporan berjudul Sharing the Blame (Berbagi Kesalahan), yang mengungkap peran China dalam perusakan hutan alam. Separuh dari seluruh pohon kayu tropis yang ditebang dari berbagai penjuru dunia berakhir di China. Sebagian besar berasal dari Indonesia, dan sekitar 76-90 persen ditebang secara tak legal. Menurut laporan itu, China menjadi clearing house bagi kayu dunia, di mana setiap pohon tropis kedua yang dijual di pasar dunia dikirim ke China. 

Dipastikan juga China merupakan negara konsumen kayu curian terbesar di dunia.  Hanya dalam beberapa tahun, sebuah pelabuhan kecil di timur China telah disulap menjadi pusat perdagangan kayu tropis terbesar di dunia. Sedangkan sebuah kota di dekatnya telah menjadi pusat produksi lantai kayu dimana 500 pabrik secara bersama-sama mengubah satu pohon merbau  menjadi papan-papan lantai kayu setiap menitnya untuk diekspor. 

Di bawah ancaman hancurnya hutan tropis di Papua, setahun lalu pemerintah Indonesia memberi angin surga kepada perusahaan China untuk menanamkan modal senilai satu miliar dolar AS di Papua. Mereka berencana mengolah kayu merbau dengan mendirikan industri pengolahan dengan kewajiban membangun hutan tanaman industri di sana. Menurut Menteri Kehutanan, MS Kaban, investasi itu terkait dengan kebutuhan kayu merbau olahan untuk membangun fasilitas olahraga menjelang olimpiade di Beijing, Cina.  ”BUMN Cina yang dikenal dengan nama China Light itu membutuhkan sekitar 800 ribu meter kubik kayu bulat atau setara dengan 400 ribu meter kubik kayu olahan sampai tahun 2008,” ujar Menhut.

Meski diolah terlebih dahalu, penggunaan kayu Merbau asal Papua dalam Olimpiade Beijing diprotes sejumlah LSM lingkungan. Alasannya, akan membuat hutan alam Indonesia khususnya kayu merbau Papua akan semakin habis dan terancam punah. Menurut, Chalid Muhammad, Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Nasional, keinginan China membangun fasilitas Olimpiade dari kayu merbau adalah tindakan yang memalukan. Ia mendesak Komite Olimpiade Internasional untuk segera menghentikan rencana itu.

(Sumber: Erabaru)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: