SEPUTAR CHINA


Negara Penghasil Emisi CO2 Terbesar

Posted in Lingkungan oleh Seputar China pada Juli 13, 2007

China telah mengambil alih posisi Amerika Serikat sebagai negara penghasil karbon dioksida terbesar di dunia, sebuah perkembangan yang meningkatkan kegelisahan mengenai perannya dalam mendorong pemanasan global akibat tindakan manusia dan akan semakin menambah tekanan kepada para politisi dunia untuk mencapai kesepakatan mengenai perubahan lingkungan yang menyertakan perekonomian China.

Emisi China sebelumnya tidak diperkirakan melebihi emisi Amerika Serikat yang sebelumnya merupakan pembuat polusi terbesar, selama beberapa tahun, walau beberapa laporan memprediksikan hal ini bisa saja terjadi tahun depan.Namun menurut statistik yang diluncurkan kemarin oleh Badan Penilaian Lingkungan Belanda, yang memberi masukan kepada pemerintah Belanda, jumlah permintaan batu bara untuk membangkitkan tenaga listrik dan peningkatan tajam produksi semen telah semakin mendorong emisi China selama tahun 2006 melebihi yang dihasilkan oleh Amerika Serikat.

Menurut Badan tersebut, China memproduksi 6.200 juta ton CO2 tahun lalu, bandingkan dengan 5.800 juga ton yang diproduksi Amerika Serikat. Inggris sendiri menghasilkan sekitar 600 juta ton. Namun untuk populasi per kepala, polusi di China masih relatif rendah sekitar seperempat dari yang terjadi di Amerika Serikat dan setengah dari yang terjadi di Inggris Raya.Peningkatan tajam China ini sekitar 8% lebih banyak dari Amerika Serikat yang terbantu dengan turunnya emisi CO2nya sekitar 1,4% sepanjang tahun 2006 yang menurut para analis, memperlambat perekonomian Amerika Serikat.

Jos Olivier, seorang peneliti senior di badan tersebut yang menggabungkan semua angka berkata: “Akan ada sejumlah ketidakpastian mengenai angka pastinya, namun ini adalah estimasi yang terbaik dan paling terbaru yang tersedia. Cina sangat bergantung pada batu bara dan semua kecenderungan yang terbaru menunjukkan emisi mereka meningkat dengan cepat.

Emisi China sekitar 2% di bawah tingkat emisi Amerika Serikat di tahun 2005. Angkat terbaru ini juga hanya melibatkan emisi CO2 dari pembakaran bahan bakar fosil dan produksi semen. Namun tidak menyertakan sumber-sumber gas rumah hijau lain seperti metana dari pertanian dan nitro oksida dari proses industri. Angka-angka ini juga tidak menyertakan sumber-sumber CO2 seperti penerbangan dan pengapalan atau penggundulan hutan, pembakaran gas serta pembakaran batu bara di bawah tanah.

Menurut Dr Olivier sangat sulit untuk menemukan estimasi yang sangat tepat untuk emisi seperti ini, terutama dari negara-negara berkembang. Namun dia menjelaskan jika menyertakan semuanya sepertinya akan menurunkan China dari posisi puncak. “Karena China melampaui Amerika Serikat 8% [tahun lalu] akan sangat sulit untuk mengkompensasikan hal tersebut dengan sumber-sumber emisi lain,” katanya.

Untuk mengerjakan angka-angka emisi ini, dia menggunakan data yang dikeluarkan oleh perusahaan minyak BP di awal bulan ini yakni data konsumsi minyak, gas dan batu bara di seluruh dunia sepanjang tahun 2006, demikian juga penggunaan informasi produksi semen yang dikeluarkan oleh Survey Geologis Amerika Serikat. Produksi semen, yang membutuhkan energi dalam jumlah besar, menghasilkan sekitar 4% produksi CO2 global hanya dari penggunaan bahan bakar. Industri semen China, yang memproduksi sekitar 44% persediaan dunia memberikan kontribusi hampir sekitar 9% dari emisi CO2 Cina.  

Pengumuman ini muncul sebagai negosiasi untuk mencapai kesepakatan iklim yang akan meneruskan protokol Kyoto yang akan berakhir di tahun 2012. Amerika Serikat menolak untuk meratifikasi protokol Kyoto sebagian karena tidak ada tuntutan atas China, dan sebuah poin yang menusuk dari negosiasi yang baru telah mendapatkan jalan untuk melibatkan kedua negara sama halnya dengan negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat lainnya seperti India dan Brazil. Tony Blair mempercayai bahwa pendekatan terbaik adalah membangun pasar nasional untuk memberi cap dan memperdagangkan karbon, yang kemudian dihubungkan.

Di awal bulan ini, China mengungkapkan rencana nasional pertamanya atas perubahan cuaca setelah dua tahun persiapan yang dilaksanakan oleh 17 kementerian dalam pemerintahan.  Rencana ini tidak menset target langsung pengurangan atau penghindaran emisi gas rumah hijau, namun bertujuan untuk mengurangi konsumsi energi per unit produk domestik kotor hingga 20% di tahun 2010 dan meningkatkan energi yang dapat diperbaharui hingga 10% dan sekaligus menghijaukan kembali sekitar 20% lahan negara tersebut dengan hutan. Namun rencana tersebut menekankan bahwa teknologi dan biaya adalah penghalang besar dalam mencapai efisiensi energi ini.

Apa yang dibutuhkan China, menurut seorang juru bicara pemerintah, adalah kerja sama internasional untuk membantunya bergerak menuju perekonomian dengan karbon yang rendah. Industri-industri China selama ini enggan untuk mengembangkan teknologi batu bara bersih yang tidak terbukti yang masih masih dalam tahap pengembangan di sejumlah negara-negara berkembang.

Sumber:  http://www.guardian.co.uk/

http://www.broadcast-edu.or.id/index.php?ar_id=1526 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: