SEPUTAR CHINA


Kehidupan Beragama Di Tibet Terancam

Posted in Agama oleh Seputar China pada Juli 13, 2007

Dalai Lama

Dalam empat dekade terakhir, Tibet telah banyak berubah. Setelah pemerintah Cina membuka wilayah itu, banyak jalan raya yang dibangun. Modal asing dan turis mancanegara pun banyak berdatangan. Tetapi rakyat Tibet harus membayar mahal. Selain harus bersaing dengan pendatang etnis Han, kehidupan beragama mereka juga dikendalikan oleh rezim komunis.  

Berikut adalah laporan Siska Silitonga darI Lhasa, Tibet yang disiarkan oleh Asia calling pada 9 April 2007 lalu.Ini adalah Istana Potala, bekas tempat tinggal Dalai Lama, pemimpin spritual Buddha di Tibet. Bangunan ini dibuat pada abad ke-7 Maserhi. Dahulu, istana Potala adalah pusat agama dan masyarakat Tibet. Tetapi sekarang, sudah banyak yang berubah. Istana ini sedang direnovasi. Dan meskipun banyak turis yang datang, orang paling penting di Istana tidak ada, yaitu DALAI LAMA-nya sendiri.

 Dalai Lama ke-14 melarikan diri ke India. Ia pergi menyusul pertempuran melawan pemerintah Cina di tahun 1959. Sejak saat itu, hubungan Beijing dengan Dala Lama tidak berjalan lancar. Dan meskipun Dalai Lama menerima konsep pemerintahan otonomi Tibet dibawah Beijing, pemerintah Cina masih meragukan dirinya. Bulan lalu, perwakilan Cina bertemu dengan utusan Dalai Lama di Swiss. Para pendukung Dalai Lama saat ini tinggal di DHARMASALA, India. Wakil Pemimpin Daerah Otonomi Tibet, WU YINGJIE menjelaskan posisi Beijing.

“Kami tidak pernah mengakui pemerintahan ilegal Tibet diluar Cina. Jadi, tidak ada istilah dialog” antara Beijing dengan pemerintahan Dalai lama. Jika Dalai Lama menghentikan upayanya untuk merdeka, mengakui Tibet dan Taiwan sebagai wilayah Cina dan menerima pemerintah pusat Cina, maka kami memperbolehkan ia kembali kapan saja.” Peziarah yang datang ke Istana Potala membaca tulisan Budha secara perlahan, sambil memutar kendi doa.

Di satu ruangan, warga Tibet menyembah di depan sebuah mahkota kosong. Tetapi, foto Dalai Lama tidak dapat ditemui di seluruh ruang Istana. Saya berkunjung ke rumah ZAMI LO TSANG TACHIN, petani berusia 30 tahun di Lhasa. Ia bilang, Dalai Lama hidup di setiap hati warga Tibet. ZAMI menyimpan sebuah foto Dalai Lama.

“Ini adalah Dalai Lama”. Saya tidak berani MEMAJANG foto ini. Pemerintah akan menarik uang denda jika ada yang berani melakukannya. Dulu, Anda dapat melihat fotonya di seluruh tempat yang ada, di kuil-kuil. Tetapi sekarang, Anda tidak akan menemukannya dimana pun.” Zami berharap dapat melihat pemimpinnya lagi di Tibet. Bahkan, setiap kali nama DALAI LAMA” disebutkan, orang akan tersenyum dan menekuk tangan mereka, sebagai tanda kecintaan yang mendalam. Pengekangan terhadap kebebasan beragama di Tibet telah melahirkan kritik pedas dari komunitas dunia.

Dalam laporan Departemen Luar Negeri tahun lalu, warga Tibet masih sering ditangkap karena mengungkapkan aspirasi politik dan agama mereka dengan damai. Kuil-kuil Budha di Tibet kesulitan memperoleh dana operasi dan izin pemerintah. Para pemimpin Budha harus mencari dukungan untuk mempengaruhi kebijakan Beijing terhadap Dalai Lama. Ini adalah Kuil TASHILUNPO, tempat tinggal pemimpin spiritual sekunder, PANCHEN LAMA.

Seleksi para pemimpin spritual Tibet dilakukan oleh Dalai Lama Tetapi ia dan pemimpin Beijing bertengkar mengenai inkarnasi Panchen Lama yang ke-sebelas. Dalai Lama memilih GEDHUN CHOEKY NYIMA. Tetapi Beijing menolak keputusan itu, karena dianggap dapat melemahkan posisinya. Gedhun dan keluarganya dibawa pemerintah Cina sejak tahun 1995. Meskipun begitu, WU YINGJIE mengatakan, anak kecil itu tidak ditahan. “Ia tidak ingin diganggu oleh dunia luar. Hal itu dapat mempengaruhi kesehatannya. Saya ingin meyakinkan Anda bahwa ia masih hidup bahagia di kota tempat tinggalnya.” 

Pemerintah Cina malah menunjuk anak lain yang sedang belajar di Beijing sebagai Panchen Lama. Banyak yang berpendapat kalau pemerintah pusat mendidik anak itu di luar Tibet agar setia kepada rezim komunis. Konon, Pendeta Kuil Tashilunpo setia kepada Dalai Lama. Tetapi saat saya kesana, salah satu pemimpin kuil, PINGLA mengatakan, mereka tidak mengakui Gedhun Choeky sebagai Panchen Lama. “Tidak boleh ada dua Panchen Lama,” kata dia..

“Kami tidak pernah menerima Panchen Lama yang ditunjuk oleh Dalai Lama. Panchen Lama yang ke-sebelas ditunjuk oleh Pemerintah Pusat. Ia dihormati oleh seluruh pendeta dan masyarakat Tibet.” Dibalik keheningannya, Tibet masih menyimpan rasa takut dan ketidakpastian.

Sekarang, politik telah menjadi bagian dari kuil Tibet. Para pengikutnya mempertanyakan masa depan budaya dan agama mereka 

http://asiacalling.kbr68h.com/index.php/archives/294

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: