SEPUTAR CHINA


Kayu Merbau Papua ikut Olimpiade Beijing 2008

Posted in OLIMPIADE oleh Seputar China pada Juni 28, 2007

Dominggus A. Mampioper – 14 Sep 2006 08:29 

Kayu Merbau (Intsia sp) asal Papua akan digunakan dalam Pesta Olahraga Dunia tahun 2008 di Beijing Cina. Hal itu diduga akan membuat hutan alam Indonesia khususnya kayu Merbau Papua akan semakin habis dan terancam punah.

Demikian ungkap Chalid Muhammad, Direktur Wahana Lingkungan Hidup Nasional (Walhi Nasional) dalam seminar 25 tahun Gerakan Masyarakat Sipil di Papua, Juli 2006, di Jayapura. Sumber dari Friends of the Earth menyatakan sebuah badan usaha milik negara Cina sudah berencana menginvestasikan satu milyar dollar bagi pengolahan kayu dan membeli kayu Merbau dari provinsi Papua, Indonesia untuk proyek tersebut.

Adapun kayu Merbau yang akan digunakan dalam proyek tersebut diperkiarakan sebanyak 800 ribu meter kubik. Chalid Muhammad dari Walhi yang juga merupakan Friends of the Earth Indonesia menyebut keinginan Cina untuk membangun fasilitas Olimpiade dari kayu yang berasal dari hutan-hujan adalah sebuah tindakan yang memalukan. Chalid meminta Komite Olimpiade Internasional untuk segera menghentikan rencana tersebut. Jenis-jenis kayu Merbau di provinsi Papua maupun provinsi Irian Jaya Barat terutama menyebar di daerah Kepala Burung yang meliputi daerah Sorong, Ayamaru, Teminabuan, pulau-pulau besar di Kepulauan Raja Ampat, Manokwari, Oransbari, Bintuni, Prafi, Sidei, dan Wasior.

Selain itu di bagian Utara Papua, meliputi Jayapura, Demta, Sarmi, Borowai, Sentani, Kemtuk, Nimboran, Unurum Guay, Bonggo, Lereh, Keroom, Nabire, dan Waropen. Di bagian selatan Papua terdapat di Fak-fak, Kaimana, Mimika, dan Asmat. Penyebaran jenis ini juga terdapat di Pulau Yapen dan pulau Biak Numfor. 

Beberapa nama perdagangan yang sering dikenal yaitu Merbau (Indonesia, Malaysia), Kwila (Papua New Guinea). Di Papua sendiri nama perdagangannya adalah Merbau atau Kayu Besi. Beberapa nama daerah di Tanah Papua yang dikenal antara lain Rang, Tangibe, Kayu Besi (Skouw-Jayapura), Pakvem (Njou-Jayapura), Babili (Sentani-Jayapura), Bat (Kemtuk-Jayapura), Jem (Hattam-Manokwari), Piam (Amberbaken-Manokwari), Sekka (Manikiong-Manokwari), Paseh (Asmat), Kayu Besi, Merbau (Maleis-Fakfak), Osa (Waropen), Kaboei (Numfor) dan masih banyak lagi sebutan atau nama lain yang belum terdokumentasi semuanya. 

Menurut Ir Lyndon Pangkali dari WWF Sahul Papua Agustus lalu, jika melihat karakteristik dari biji Merbau dengan kulit biji yang keras dan masa dormansi yang panjang, maka proses perkecambahan di alam sangat memerlukan curah hujan yang tinggi dan cahaya yang cukup. “Kedua kondisi ini dapat terpenuhi di hutan tropika humida seperti di Papua. Oleh karena itu permudaan alam merbau sampai pada tingkat semai masih cukup melimpah,” ujar Pangkali. Menurutnya, lebih banyaknya permudaan tingkat pancang yang dijumpai pada areal yang terbuka (bekas tebangan /perladangan) dibandingkan pada areal yang tertutup (hutan utuh), menunjukkan bahwa Merbau termasuk jenis yang membutuhkan cahaya dalam pertumbuhannya. 

Namun menurut Pangkali, berkurangnya permudaan tingkat pancang di hutan alam produksi bukan karena faktor pencahayaan semata. Terdapat faktor lain yang berpengaruh terhadap proses perkembangan semai menjadi pancang, yaitu : (1) Gangguan dari satwa liar seperti babi dan rusa yang suka akan daun muda Merbau (semai), (2) Kondisi lahan akibat penyaradan pada solum yang tipis dan mengeras akan menghambat pertumbuhan, (3) Kegiatan penebangan dan penyaradan yang merusak permudaan tingkat pancang (patah, cacat, tercabut). Ketiga faktor tersebut sangat berpengaruh terhadap kelangsungan permudaan alam, karena dalam praktik pengelolaan hutan produksi, selain tingkat pohon, kondisi tingkat permudaan juga sering diperhitungkan dalam potensi tegakan karena menyangkut proyeksi kelestarian hutan di masa yang akan datang. 

Sementara itu dalam hubungan dengan produksi kayunya, maka sudah menjadi rahasia umum bahwa kayu yang diproduksi oleh Kopermas hanyalah kayu Merbau. Kayu Merbau diproduksi secara besar-besaran di setiap wilayah yang ada kayu Merbaunya. Kayu yang diproduksi mulai dari ukuran 10cmx10cmx400cm sampai dengan 10cmx10cmx100cm. Demikian juga papan dengan berbagai ukuran. 

Koperasi Peran Serta Masyarakat Adat (Kopermas) ini juga berhubungan langsung dengan para cukung atau pembeli kayu dengan cara-cara yang merugikan masyarakat. Para cukong hanya mengambil kayunya tetapi tidak memperhatikan kelestarian dari hutan itu sendiri. Para cukong hanya membeli kayu perkubik yang dihargai dengan murah tetapi tidak memperhatikan dampak sosial, budaya dan lingkungan yang akan terjadi dan akan diderita oleh masyarakat adat di Papua. 

Daerah pasaran utama Merbau antar pulau di Indonesia adalah hampir ke seluruh daerah di pulau Jawa, Sulawesi (terutama sulawesi selatan – Makasar), dan juga ke Kalimantan dan Sumatera. Dalam kaitannya dengan kegiatan illegal logging, kayu-kayu merbau dijual juga secara gelap ke Cina melalui Malaysia.

http://www.beritabumi.or.id/berita3.php?idberita=558

Iklan

Satu Tanggapan to 'Kayu Merbau Papua ikut Olimpiade Beijing 2008'

Subscribe to comments with RSS atau TrackBack to 'Kayu Merbau Papua ikut Olimpiade Beijing 2008'.

  1. Tien Wahyuni said,

    China adalah raksasa yang baru bangun. Namanya juga baru bangun, jadi sebagai makhluk dia sangat lapar dan rakus makan. Makanannya adalah semua sumber daya alam, yang umumnya berada di negara-negara berkembang. Ketika negara ini mengalami bencana banjir hebat Sungai kuning di tahun 1992, pemerintahnya melarang penebangan pohon. Tetapi melakukan import besar terhadap berbagai jenia kayu tropis, karena China harus menghidupi dan membutuhkan banyak bahan mentah kayu untuk supply industri-industri kayu dan tentu saja untuk menggerakkan tenaga kerja murah yang dimiliki karena penduduknya yang membludak. Tidak hanya kayu Merbau, ini juga dilakukan karena kayu murah ada di pulau-pulau besar di Indonesia terutama Papua dan Kalimantan. Seharusnya pemerintah Indonesia jangan lengah, bahwa China secara perlahan2 sedang memindahkan bencana banjirnya ke Indonesia. Coba lihat, banjir yang akhir-akhir ini melanda daerah-daerah di pelosok Pulau seperti Sulawesi (Palu), pulau Laut Kalsel, Samarinda, Kabupaten Kutai Barat dan Nunukan. Apakah itu bukan pertanda bahwa banjir besar akan dan sedang mengintai? Wallahuallam…….

    Belum lagi sumber daya mineral yang lain. Saat ini eksploitasi batu bara sebagian besar untuk tujuan komersil ekspor ke China, karena untuk menggerakkan industri2nya, mereka butuh energi murah seperti bata bara. Hal ini sedang terjadi di propinsi kaya Kalimantan Timur. Hampir setiap hari kapal pengangkut batu bara melintas di sungai Mahakam. Ironisnya, masyarakat lokal pengguna listrik di Kaltim, terutama Samarinda harus mengalami krisis listrik yang berkepanjangan. Semua orang mengeluh, tapi tidak ada tindakan dari pengelola listrik negara. Bukannya batu bara bisa menjadi sumber energi yang handal daripada harus menggunakan tenaga diesel yang katanya mesin penggeraknya berumur tua.

    Boleh2 saja orientasi ekonomi dengan strategi ekspor, semua diekspor karena negara butuh uang untuk membangun. Seharusnya penuhi dulu kebutuhan dalam negeri, buat rakyat sejahtera dan tidak kesulitan mendapatkan basic need, misalnya kebutuhan perumahan, energi listrik, baru sisanya diekspor. Yang terjadi adalah kebalikannya rakyat kecil menjerit2 karena harga kayu ulin untuk kebutuhan rumah melonjak karena ternyata bahan bakunya disupply ke industri pengolahan untuk tujuan ekspor, listrik byar pet alias mati-hidup mati lagi, dan minyak kelapa sawit hanya menguntungkan pengusahanya, sementara alokasi lahan kelapa sawit berasal dari hutan bagus yang dibabat.

    Sebagai bagian dari dunia, sumber daya alam di Indonesia sudah dikepung oleh nafsu dunia. Sadar atau tidak, kita harus lebih arif bertindak. Wassalam…..


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: