SEPUTAR CHINA


Cina didesak bebaskan aktivis

Posted in Uncategorized oleh Seputar China pada Desember 24, 2008

Aktivis Liu Xiabo ditahan awal bulan Desember

Lebih dari 150 penulis dan aktivis hak asasi manusia dari seluruh dunia menulis sepucuk surat terbuka kepada Presiden China, Hu Jintao, untuk meminta pembebasan seorang pegiat demokrasi Cina.

Liu Xiabo, mantan gurubesar yang pernah meringkuk dalam di penjara setelah aksi unjukrasa di Lapangan Tienanmen tahun 1989, ditangkap awal bulan ini.

Belum lama ini dia ikut menanda-tangani piagam yang meminta perluasan demokrasi dan hak asasi di Cina.

Wartawan BBC Richard Hamilton melaporkan, surat itu ditanda-tangani oleh para ahli Cina yang terkemuka, pegiat hak asasi, dan penulis dari seluruh dunia, termasuk Salman Rushdie, Nadine Gordimer, Wole Soyinka, dan Seamus Heaney.

Surat itu mendesak Perdana Menteri Cina untuk menghormati komitmen dalam menjamin hak-hak warga negara yang mengungkapkan pendapat mereka secara damai.

Nama, Liu Xioabo tidak pernah terdengar lagi sejak dia diambil dari rumahnya pada tanggal 8 Desember.

Dia merupakan pengkritik pemerintah dan berkampanye untuk reformasi melalui artikel-artikelnya di internet.

Awal bulan ini dia ikut bersama 300 penasehat hukum, seniman, dan akademisi yang menanda-tangani piagam yang menyerukan demokrasi serta hak asasi yang lebih besar.

Uni Eropa dan Amerika Serikat juga meminta agar dia dibebaskan.

Seorang jurubicara Kementrian Luar Negeri Beijing mengatakan, masalah itu akan diselesaikan dalam kerangka hukum dan menolak campur tangan asing atas masalah dalam negerinya.

Kondisi Liu Xiabo tidak diketahui setelah mantan dosen itu ditahan oleh polisi pada 8 Desember.

http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2008/12/081223_chinarelease.shtml

Sumber Transplantasi Organ di China Dipersoalkan PBB

Posted in HAM oleh Seputar China pada Mei 23, 2008

Dua Penyelidik Khusus PBB kembali mengumumkan penemuan mereka sebelumnya terhadap kasus pengambilan organ di China. Sekali lagi mereka meminta penjelasan pemerintah China secara menyeluruh mengenai dugaan pengambilan organ praktisi Falun Gong dan sumber organ yang tiba-tiba meningkat untuk transplantasi yang sedang berlangsung di China sejak tahun 2000.

Demikian dikemukakan oleh Pelapor Khusus PBB Bidang Penyiksaan , Manfred Nowak pada sebuah pertemuan yang diselenggarakan di sekretariat PBB pada bulan Maret 2008. Pada akhir 2005 lalu, dia melakukan perjalanan ke China untuk mencari bukti atas masalah tersebut. Dia adalah pejabat PBB pertama yang datang ke China untuk menyelidiki kasus penyiksaan di negara Tirai Bambu itu. Dalam laporan PBB, dia menunjukkan bahwa kasus penyiksaan terhadap praktisi Falun Gong di China mencapai 66 persen.

Pelapor Khusus PBB bidang Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, Asma Jahangir dan Manfred Nowak, masing-masing membuat permintaan dan mendokumentasikannya dalam laporan tahunan 2008 kepada Dewan HAM PBB sebagai tindak lanjut dari pembicaraan mereka sebelumnya dengan pemerintah China. Dua Penyelidik Khusus, bersama dengan Sigma Huda, Pelapor Khusus PBB bidang Perdagangan Manusia, mengajukannya kepada penguasa China pada 11 Agustus 2006.

Tertarik dengan informasi yang disampaikan oleh kelompok sukarelawan dan perseorangan, termasuk Kelompok Kerja HAM Falun Gong, Pelapor Khusus PBB menyoroti dan mengangkat pertanyaan mengenai identifikasi sumber organ, waktu tunggu yang singkat untuk menemukan organ tubuh yang cocok, dan hubungan antara transplantasi organ yang meningkat di China dan dimulainya penganiayaan terhadap praktisi Falun Gong.

Meskipun pemerintah China menanggapi pada 28 November 2006 lalu, dengan kategori penolakan, mereka gagal menjawab masalah-masalah kritis yang ditanyakan oleh Pelapor Khusus PBB. Menindaklanjuti pembicaraan Jahangir dan Nowak yang dikirimkan pada 25 Januari 2007, mereka mendesak kepada pemerintah China untuk menjawab masalah serius ini.

Pembicaraan asli Pelapor Khusus didokumentasikan di dalam laporan tahunan 2007, dan kelanjutan pembicaraan mereka di dalam laporan tahunan 2008 mereka. Laporan tahunan Pelapor Khusus PBB secara khusus mendokumentasikan aktivitas mereka di tahun lalu, dan laporan-laporan ini biasanya dipresentasikan kepada Komisi HAM PBB selama sesi musim semi.

Meneruskan permohonan bagi Cao Dong, seorang saksi mata pengambilan organ di China, dianggap penting untuk dicatat dalam laporan tahunan 2008 mereka. Asma Jahangir dan Manfred Nowak juga melaporkan tindakan mereka yang sangat mendesak, bersama dengan Kelompok Kerja PBB dibindang Penahanan Sewenang-wenang, atas nama Cao Dong.

Pada 21 Mei 2006 di Beijing, Cao berjumpa dengan Edward McMillan-Scott, Wakil Presiden Parlemen Eropa, dan memberikan kesaksian tentang pengambilan organ di China. Setelah pertemuan ini, pihak keamanan China menangkap Cao. Laporan-laporan mengindikasikan bahwa Cao dijatuhi hukuman lima tahun penjara karena dianggap menerima wawancara tidak sah.

Kelompok Kerja HAM Falun Gong (FGHRWG) menyerukan kepada media dan pemerintah di dunia untuk menaruh perhatian atas temuan Pelapor Khusus PBB mengenai pengambilan organ di China, dan tidak memalingkan muka dari kejahatan serius terhadap kemanusiaan ini.

Sejak tahun 2001, FGHRWG secara ketat mengawasi pelanggaran HAM di China dan secara aktif mengumpulkan kasus-kasus pelanggaran yang dialami para praktisi Falun Gong di China. Selama bertahun-tahun telah dilaporkan sebanyak lebih dari sepuluh ribu kasus seperti ini kepada PBB, kepada pemerintahan di dunia, dan kepada organisasi-organisasi HAM internasional. Kumpulan Laporan yang dikirimkan itu bisa dilihat di http://www.falunhr.org

Informasi yang disajikan oleh FGHRWG telah digabungkan dengan banyak dokumen pejabat PBB dan membantu ahli HAM PBB dalam penelusuran mencari bukti-bukti ke China. Informasi itu juga merupakan sumber-sumber yang berharga bagi kementrian asing dari pemerintah di dunia dan para wartawan investigasi.

Selama ini FGHRWG juga telah berpartisipasi dalam banyak perkumpulan dan konferensi HAM, maupun wawancara media untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai penganiayaan terhadap praktisi Falun Gong di China.

Chinese: http://minghui. ca/mh/articles/ 2008/5/7/ 177990.html
English: http://www.clearwis dom.net/emh/ articles/ 2008/5/9/ 97150.html

Sudah 43 Anak Tewas Akibat Virus EV71 di China

Posted in Bencana oleh Seputar China pada Mei 16, 2008

Beijing – Korban jiwa akibat virus enterovirus 71 alias EV71 di China terus melonjak. Sejauh ini total korban tewas telah mencapai 43 anak.

Korban terakhir adalah seorang bayi berempuan berusia 22 bulan dari Provinsi Jiangxi. Bayi malang itu meninggal pada Kamis, 15 Mei waktu setempat di rumah sakit.

Demikian disampaikan pejabat-pejabat kesehatan kepada kantor berita resmi China, Xinhua, Jumat (16/5/2008).

Virus EV71 bisa menyebabkan penyakit mulut, kaki dan tangan. Sejauh ini penyakit itu telah menjangkiti lebih dari 24.934 anak di 7 provinsi China plus ibukota Beijing.

Angka tersebut diperkirakan akan terus bertambah setelah Kementerian Kesehatan China pekan lalu memerintahkan fasilitas-fasilitas kesehatan untuk melaporkan setiap kasus baru.

Virus EV71 menyebar melalui kontak dengan air liur atau kotoran pasien yang terinfeksi. Penyakit ini umumnya menyerang anak-anak karena sistem kekebalan tubuh mereka yang masih lemah.

Serangan virus ini diperkirakan akan mencapai puncaknya pada bulan Juni dan Juli mendatang. ( ita / nrl )
(detik.com)

Aksi Menolak Obor Olimpiade Dibubarkan

Posted in OLIMPIADE oleh Seputar China pada April 22, 2008

Oleh: Ananta Darma/ Era Baru

Demi pengamanan penyambutan Obor Olimpiade Beijing, aparat keamanan dari Polda Metro Jaya membubarkan aksi damai yang digelar oleh Masyarakat Indonesia Untuk Kebebasan Tibet di pintu gerbang stadion Senayan, Jl. Sudirman Jakarta pada Selasa, (22/4). Meski sebentar, aksi ini telah menunjukan kepada dunia internasional bahwa sebagian masyarakat Indonesia menolak kedatangan Obor Olimpiade karena masalah hak asasi manusia di China.

Aksi yang melibatkan sekitar 200 massa dari berbagai elemen dan LSM ini dimulai pukul 10.15 WIB. Berbagai spanduk dibentangkan. Koordinator aksi Tri Agus S. Siswowihardjo (Solidamor) sempat berorasi. Baru saja berlangsung 30 menit, aparat keamanan dari Polda Metro Jaya meminta massa untuk membubarkan diri dengan alasan surat pemberitahuan hanya dikirimkan via fax, tidak datang langsung ke Polda. Tim dari LBH Jakarta dan Kontras (6 orang) yang mencoba bernegoisasi malah ditangkap, dan digiring masuk ke dalam stadion yang dijaga ketat oleh aparat keamanan dan pengamanan sipil.

Suasana cukup mencekam, karena ada upaya provokasi dari orang yang tidak jelas untuk mengacaukan aksi tersebut, tapi untungnya massa tidak terpancing. Akhirnya massa dipaksa membubarkan diri, khususnya massa dari UPC dan klien LBH Jakarta dari Bekasi yang berjumlah mencapai sekitar 100 orang lebih, mereka langsung diarahkan masuk kembali ke bus yang dicarter dan dipulangkan. Tak lama kemudian, tim negoisator termasuk dari aktivis dari Anand Asram, dibebaskan. Dua orang asing dari Belanda yang ikut diamankan dalam aksi itu, sampai tulisan ini diturunkan, masih ditahan di Polda Metrojaya.

Dalam pernyataannya, Muhammad Gatot SH dari LBH Jakarta yang termasuk salah seorang yang diamankan dalam aksi itu, mengecam tindakan aparat yang membatasi warga negara untuk menyampaikan pendapat dan berekspresi. “Kami tidak melanggar hukum, mereka cari alasan saja untuk membubarkan aksi,” ujar gatot kepada para wartawan. Karena aksi berakhir lebih awal, beberapa acara yang sedianya akan ditampilkan dalam aksi damai itu dibatalkan, antara lain pentas teatrikal dan Reog Ponorogo.

Mengecam Penguasa China
Dalam pernyataan sikapnya, Masyarakat Indonesia Untuk Kebebasan Tibet mengatakan sangat menghargai upaya pemerintah menyambut obor Olimpiade, namun mereka bersikap berbeda terhadap simbol pesta olah raga dunia itu. ”Sebab sampai detik ini, penguasa China masih mengingkari janjinya untuk memperbaiki kondisi hak asasi manusianya menjelang Olimpiade. Rakyat Tibet masih menghadapi penindasan dari rejim komunis China,” jelas Tri Agus SS. dalam statemennya. Bahkan Obor Olimpiade dipaksakan akan melewati wilayah Tibet yang itu berarti tidak mengindahkan perasaan rakyat di sana.

Disebutkan, insiden kekerasan yang terjadi di Lhasa, Tibet pada bulan lalu yang menewaskan ratusan jiwa manusia tak berdosa adalah sebuah pelanggaran HAM yang berat. Karena itu, penguasa China harus segera membebaskan rakyat Tibet dari segala bentuk penindasan sebelum pelaksanaan Olimpiade Beijing 2008. Mereka juga mendesak komunitas internasional dan para pemimpin dunia untuk segera menekan rejim komunis China supaya memperbaiki catatan HAM-nya yang buruk di Tibet maupun di Daratan China.

Menurut mereka. apa yang terjadi di Tibet semakin memperburuk catatan HAM China yang sebentar lagi akan menggelar Olimpiade. Di luar itu, penguasa China juga terbukti melakukan pelanggaran HAM berat terhadap rakyatnya yang menuntut kebebasan berkeyakinan (pluralisme) dan demokrasi. Laporan Amnesty International pada tahun 2007 menunjukan adanya peningkatan pelanggaran HAM di negeri Tirai Bambu ini. Itu berarti penguasa China telah mengingkari janjinya pada tahun 2001 untuk memperbaiki kondisi HAM-nya jika terpilih menjadi tuan rumah Olimpiade. “Piagam Olimpiade yang memberi penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian telah dilanggarnya,”.

Berdasarkan kenyataan tersebut, Masyarakat Indonesia Untuk Kebebasan Tibet menolak Obor Olimpiade karena menjelang pesta olah raga dunia itu penindasan dan pelanggaran HAM semakin intensif dilakukan penguasa China terhadap rakyat Tibet dan rakyat China. Mereka juga mendesak mendesak kepada penguasa China untuk segera mengakhiri kekerasan di Tibet, serta bentuk pelanggaran HAM lain yang terjadi di China menjelang Olimpiade. Tak ketinggalan mereka juga menyerukan kepada para pemimpin dunia termasuk pemerintah Indonesia, dan Panitia Olimpiade internasional untuk menggunakan pengaruhnya agar menekan penguasa China supaya segera memperbaiki keadaan HAM-nya yang buruk.

Cina kini ‘pencemar no 1’ dunia

Posted in Lingkungan oleh Seputar China pada April 21, 2008

Cina telah mengambilalih posisi Amerika Serikat sebagai pencemar terbesar dunia, kata laporan ilmiah baru yang akan diterbitkan bulan depan.

Penelitian ilmiah tersebut mengindikasikan bahwa emisi gas rumah kaca negara itu telah ditaksir terlalu rendah, dan mungkin melampaui kadar emisi Amerika pada periode 2006-2007.

Tim University of California akan melaporkan hasil penelitian mereka dalam penerbitan Journal of Environment Economics and Management.

Mereka memperingatkan, pertumbuhan tak terkendali di masa datang akan mengecilkan tingkat pengurangan emisi sebesar apa pun yang dilakukan oleh negara-negara kaya berdasarkan Protokol Kyoto.

Tim mengakui ada ketidakpastian soal waktu Cina mungkin telah menjadi negara dengan emisi C02 terbesar, mengingat analisis mereka berdasarkan data tahun 2004.

Sampai saat ini, Amerika tetap umum diyakini sebagai sang “Pencemar Nomor Satu”.

Kebijakan

Laporan bulan depan University of California memperingatkan, kecuali Cina mengubah kebijakan energinya secara radikal, kenaikan emisi gas rumah kaca negara itu akan mencapai beberapa kali lebih besar dari tingkat pengurangan emisi yang dihasilkan oleh negara-negara kaya di bawah Protokol Kyoto.

Para peneliti mengatakan, angka mereka berdasarkan data dari tingkat provinsi yang dikeluarkan Badan Perlindungan Lingkungan Cina.
Pemerintah Cina dinilai perlu mengubah drastis kebijakannya

Mereka mengatakan, analisis terhadap 30 data point lebih informatif soal proyeksi emisi masa depan daripada statistik nasional dalam penggunaan yang lebih luas, sebab data itu memungkinan kekeliruan dilacak secara lebih seksama.

Mereka meyakinkan model komputer yang ada saat ini secara subtansial keliru menaksir proyeksi pertumbuhan emisi di Cina.

Pemerintah Cina belum mengeluarkan pernyataan untuk mengomentari isi laporan ini, tapi Dr Max Auffhammer, kepala peneliti, mengatakan, proyeksinya telah dipresentasikan di beberapa forum dan tidak satu pihak pun mengajukan keberatan serius.

Semua yang prihatin soal perubahan iklim sepakat emisi Cina adalah masalah, termasuk Cina sendiri.

Namun, Cina dan banyak negara sedang berkembang lain yang berjuang untuk mengatasi kemiskinan bersikeras menyatakan, pengurangan emisi melalui perundingan semestinya tidak bersifat absolut, tapi relatif terhadap skenario proyeksi pertumbuhan “biasa”.

Itulah sebabnya penelitian ini lebih bersifat kepentingan akademis.

Secara ringkas, kendati penelitian ini tampaknya mencoreng reputasi Cina, mungkin itu justru bagus bagi posisi tawar Cina di meja perundingan.

Cina dan PBB bersikukuh menyatakan, negara-negara kaya dengan tingkat pencemaran per kapita tinggi harus terlebih dahulu mengurangi emisi, dan membantu negara-negara miskin untuk berinvestasi di bidang teknologi bersih.

Emisi per kapita Amerika lima hingga enam kali lebih tinggi dari emisi per kepala Cina, sekalipun Cina telah menjadi negara ekonomi manufaktur utama.

Emisi Amerika juga masih terus tumbuh, meski jauh lebih lambat.

http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2008/04/080415_chinapolluter.shtml

Sepuluh Alasan Menolak Olimpiade

Posted in Uncategorized oleh Seputar China pada April 16, 2008

10 ALASAN MENOLAK OLIMPIADE BEIJING
Menindas Tibet
Sejak 1959, penguasa komunis China telah menindas rakyat Tibet. Sebanyak 150.000 rakyat dan biksu Tibet tewas dan ribuan kuil-kuil Buddha hancur akibat penindasan yang terjadi selama puluhan tahun. Pertumbuhan ekonomi Tibet yang mencapai 12 persen per tahun tidak bisa dinikmati rakyatnya, sebaliknya etnis lain (Han) lebih merasakan kue pembangunan itu. Menjelang Olimpiade Beijing, tekanan terhadap Tibet semakin intensif. Kekerasan yang tejadi belum lama ini di Lhasa yang menewaskan 140 orang adalah buktinya.

Menekan Kristen
Sejak akhir 1980-an, setidaknya 2,7 juta diantara 60 juta pengikut Kristen Family Church telah ditahan, dan 440 ribu dihukum kerja paksa dan pendidikan kembali. Bahkan lebih dari 10 ribu disiksa hingga mati, lebih dari 20 ribu menjadi cacat. Selain disiksa, para pemimpin gereja diseret ke pengadilan. Banyak juga gereja yang dihancurkan. Selama tahun 2000 telah dirusak sebanyak 450 tempat ibadah yang dianggap ilegal. Menjelang Olimpiade, tekanan terhadap mereka semakin kuat, sejumlah pimpinan Kristen ditangkap dan tahan.

Menumpas Muslim
Pada 2002, kaum muslim Uyghurs di Xinjiang barat dicap sebagai kelompok teroris. Sejak itu, penindasan semakin intensif dilakukan dengan cara memanggil imam dan menutup mesjid sampai menghukum mati ribuan orang setiap tahun. Kaum Muslim tidak diperbolehkan menghadiri sekolah agama atau datang ke mesjid sampai umur 18 tahun. Kegiatan dan ekspresi agama dilarang ketat di sekolah-sekolah. Mereka dilarang berdoa, memakai pakaian atau symbol agama, serta berpuasa. Menjelang Olimpiade terjadi beberapa kali penyerangan terhadap kaum muslim di Xinjiang yang menewaskan puluhan orang.

Menyiksa Falun Gong
Sejak ditindas pada 20 Juli 1999, sedikitnya 3.086 pengikut Falun Gong dipastikan tewas. Jumlah itu bisa lebih besar mengingat tertutupnya informasi di sana. Lebih mengerikan, mereka yang ditahan di kamp-kamp konsentrasi telah diambil organ tubuhnya untuk memenuhi industri transplantasi. Laporan David Matas & David Kilgour dari Kanada memperkuat dugaan itu. Kebiadaban itu masih berlangsung hingga kini meski secara resmi telah dilarang. Penangkapan besar-besaran terhadap pengikut Falun Gong juga terjadi menjelang Olimpiade, sejak awal 2008 ini sudah 1000 orang lebih ditahan dan puluhan tewas.

Menekan Aktivis
Aktivis HAM semakin menghadapi tekanan yang meningkat menjelang Olimpiade. Baru-baru ini aktivis HAM Hu Jia yang memperjuangkan kebebasan beragama dan kesehatan HIV dihukum penjara 3,5 tahun atas dakwaan subversi. Sejumlah pengacara juga menjadi sasaran represi. Pengacara terkenal, Gao Zhisheng yang membela Falun Gong sudah setahun lebih menjalani tahanan rumah. Tahun lalu, polisi menangkap pengacara HAM Guo Feixiong dan menjatuhkan hukuman 5 tahun penjara. Meskipun penguasa China telah membebaskan sejumlah tahanan Tiananmen, tapi jumlah aktivis HAM yang ditahan masih banyak.
Memasung Pers
Semua media harus tunduk di bawah kendali partai. Selain media cetak dan elektronik milik partai, pengendalian secara ketat dilakukan terhadap media swasta termasuk internet. Laporan tahunan indeks kebebasan pers 2007 versi Reporters Without Borders menunjukan kebebasan pers di China tetap menduduki 10 peringkat terburuk. Ia berada diurutan ke-163 dari 169 negara dunia. Menjelang Olimpiade, kontrol terhadap pers dan internet justru semakin ketat. Dalam setahun ini ratusan koran, radio dan website telah ditutup secara paksa.

Memperkeruh Darfur
Amnesty Internasional melaporkan pada 2005, Beijing mengapalkan 200 truk militer menuju Sudan. Bantuan militer ini memperkuat pasukan milisi bentukan pemerintah Sudan, serta memperparah perang saudara di Darfur sejak 2003, lebih dari 200.000 rakyat tewas akibat genosida ini, dan 2,5 juta orang harus meninggalkan tempat tinggalnya. Pemimpin Gerakan Keadilan dan Kesetaraan, Khalil Ibrahim menuduh Beijing memiliki andil besar dalam krisis di Darfur karena memberikan senjata dan mendukung pemerintah Sudan.

Mengakangi Burma
Pemerintah Beijing mendukung junta militer Myanmar yang represif terhadap rakyatnya sejak berkuasa pada 1988, dengan membantu lebih dari 2 juta dolar AS untuk militernya, beberapa juta dolar AS dukungan ekonomi, termasuk basis infrastruktur dan berbagai pelatihan. Pada Januari 2007 lalu, China bersama dengan Rusia dan Afrika Selatan telah memveto sangsi PBB kepada Myanmar, sehingga membuat junta militer semakin kuat membabi buta dalam menghadapi gerakan demokrasi. Dukungan Beijing terhadap rejim Myanmar sepenuhnya demi kepentingan investasinya atas sumber daya alam di negeri itu.

Merusak Lingkungan
Berbagai studi dan foto-foto satelit membuktikan bahwa tingkat nitrogen dioksida di Beijing sangat tinggi, yang sangat berbahaya bagi kesehatan para atlet. Saat ini, China bahkan mengambil alih posisi Amerika Serikat sebagai penghasil karbon dioksida terbesar sehingga mendorong pemanasan global. Tidak puas menghancurkan lingkungan di dalam negeri, kini China melahap hutan alam Indonesia. Sedikitnya 300.000 meter kubik kayu merbau asal Papua diseludupkan ke China setiap bulannya. Permintaan kayu ilegal ini semakin meningkat seiiring dengan tingginya aktivitas pembangunan sarana dan prasana Olimpiade.

Menggusur Rakyat
Survei Centre on Housing Rights and Evictions di Jenewa menyebutkan lebih dari satu juta penduduk Beijing telah digusur secara paksa dengan alasan untuk pembangunan sarana dan prasarana Olimpiade, dan jumlah ini akan bertambah sampai 1,5 juta pada 2008 ini. Di luar itu, para pejabat partai telah menyita lahan warga untuk membangun pabrik-pabrik tetapi tidak memberi ganti-rugi yang semestinya kepada para petani. Warga yang menolak, atau menuntut ganti rugi yang layak harus berhadapan dengan represi aparat.

Aktivis HAM Cina dipenjarakan

Posted in HAM oleh Seputar China pada April 4, 2008

Hu Jia aktivis HAMHu Jia dituduh menghasut subversi terhadap kekuasaan negara

Cina memenjarakan aktivis HAM Hu Jia atas dakwaan subversi di tengah kekhawatiran yang muncul soal pemberangusan menjelang Olimpiade.

Hu dihukum penjara 3,5 tahun setelah pria berusia 34 tahun ini dinyatakan bersalah atas dakwaan “melakukan penghasutan subversi terhadap kekuasaan negara dan sistem sosialis”, kata pengacara.

Dia lama berkampanye untuk lingkungan, kebebasan beragama dan hak-hak warga dengan HIV dan Aids.

Vonisnya dikeluarkan satu hari setelah sebuah kelompok hak asasi menuduh Cina melancarkan kampanye untuk membungkam pembangkangan Olimpiade.

Amerika “kecewa” atas vonis tersebut, kata jurubicara Kedutaan AS di Beijing, sedangkan Uni Eropa menyerukan Hu segera dibebaskan.

“Kami tegas-tegas mengatakan sebelum pengadilan bahwa dia seyogyanya tidak ditahan sejak awal dan bahwa dia seyogyanya dibebaskan dan itu tetap merupakan sikap kami,” kata jurubicara William Fingleton kepada kantor berita AFP.

Artikel internet

Perkara Hu Jia ini menarik perhatian besar internasional, baik dari kelompok HAM dan diplomat Barat.

Sebelum ditahan tahun lalu, dia merupakan pengecam keras catatan Cina soal beberapa isu HAM.
Menyangkut pandangan para pengkritik bahwa Cina mencoba meningkatkan upayanya untuk menahan pembangkang menjelang Olimpiade, saya rasa tuduhan itu tidak terbukti
PM Wen Jiabao
18 March 2008

Para wartawan mengatakan, Hu telah menjadi semacam pusat pemilahan informasi untuk disampaikan kepada wartawan, organisasi dan kedutaan asing.

Bukti yang diajukan dalam kasus Hu di pengadilan termasuk wawancaranya dengan sejumlah media asing dan artikel politik yang dia tulis untuk internet, kata pengacara Li Fangping.

“Selaku pengacara, kami usulkan bahwa Hu Jia mengajukan banding atas vonis ini, tapi itu terserah dia dan kami akan menunggu keputusannya,” kata Li.

“Kami belum berkesempatan untuk bertukar fikiran dengan dia sejauh ini,” tambah Li.

Kantor berita resmi Cina, Xinhua mengatakan, pengadilan bersikap lunak kepada Hu, sebab dia mengakui kejahatannya.

“Hu menyebarkan desas-desus, fitnah dan menghasut upaya untuk merongrong sistem politik dan sosial negara,” kata Xinhua, mengutip putusan pengadilan.

Tuduhan Olimpiade

Vonis Hu dikeluarkan hanya dua pekan setelah seorang aktivis lain, Yang Chunlin, dipenjarakan atas dakwaan serupa.

Pada hari Rabu, kelompok HAM yang berpusat di Inggris Amnesty International menuduh Beijing menggulirkan “gelombang repsesi” menjelang Pekan Olimpiade.

Pihak berwenang mengincar mereka yang mengecam pemerintah dalam upaya untuk menghadirkan citra yang stabil dan selaras saat Olimpiade digelar bulan Agustus, kata lembaga tersebut.

Sebagai tanggapan, Masyarakat Kajian HAM Cina menuduh Amnesty bersikap bias dan menyisihkan perkembangan-perkembangan positif dalam catatan HAM negara itu.

Bulan lalu, Perdana Menteri Cina Wen Jiabao ditanya soal perkara Hu Jia. Dia mengatakan, kasus itu akan ditangani sesuai hukum.

“Menyangkut pandangan para pengkritik bahwa Cina mencoba meningkatkan upayanya untuk menahan pembangkang menjelang Olimpiade, saya rasa tuduhan itu tidak terbukti,” kata Wen.
http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2008/04/080403_chinaactivist.shtml

Olimpiade Perburuk HAM China

Posted in OLIMPIADE oleh Seputar China pada April 4, 2008

Obor OlimpiadeCina bertekad untuk menyelenggarakan Olimpiade dengan sukses

Catatan hak azazi manusia Cina memburuk, bukan membaik, karena Olimpiade Beijing, kata organisasi HAM Amnesty International.

Menurut Amnesty, Cina menekan pihak-pihak yang menentang pemerintah untuk memperlihatkan citra Cina yang stabil dan harmonis menjelang Olimpiade bulan Agustus.

Kelompok itu mendesak Komite Olimpiade Internasional (IOC) dan para pemimpin dunia agar menentang pelanggaran-pelanggaran tersebut, termasuk cara Cina mengatasi unjuk rasa di Tibet.

Presiden AS George W Bush didesak agar memboikot upacara pembukaan Olimpiade.

“Jelas akan tidak pantas jika presiden menghadiri Olimpiade di Cina, menilai tindakan semakin represif oleh pemerintah negara itu,” kata sekelompok 15 politisi Amerika dalam surat yang mereka layangkan kepada Presiden Bush pada hari Selasa.

Bush mengatakan dia berniat untuk menghadiri upacara tersebut tetapi Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan dia tidak akan hadir. Presiden Perancis Nicolas Sarkozy belum menegaskan apakah dia akan hadir.

Satu tim IOC saat ini berada di Beijing untuk menilai kesiapan kota itu untuk menggelar Olimpiade.

‘Di luar jangkauan’

Dalam sebuah laporan berjudul China: The Olympics Countdown, organisasi yang berkantor di London, Inggris, itu mengatakan Olimpiade telah gagal bertindak sebagai pemicu reformasi di Cina.
Semakin jelas bahwa banyak dari gelombang represi belakangan ini terjadi karena Olimpiade
Amnesty International

“Jika aparat Cina tidak mengambil langkah-langkah untuk mengatasi situasi ini secepatnya, warisan hak azazi manusia yang positif dari Olimpiade Beijing tampaknya semakin jauh dari jangkauan,” katan laporan itu.

“Semakin jelas bahwa banyak dari gelombang represi belakangan ini terjadi karena Olimpiade.”

Para pegiat dan pembangkang menjadi target sebagai bagian dari operasi pembersihan pasca Olimpade dengan banyak orang terkena tahanan, kata Amnesty.

Wartawan, baik dari dalam mau pun luar Cina, masih dilarang untuk melaporkan dengan bebas.

Organisasi hak azazi itu juga mendesak para pemimpin dunia untuk berbicara tentang keadaan di Tibet.

Mereka menuduh tentara Cina menggunakan kekerasan terhadap pengunjuk rasa Tibet dan mendesak Cina untuk mengeluarkan informasi tentang orang-orang yang ditahan, dengan mengatakan Amnesty mengkhawatirkan keselamatan mereka.

‘Berat sebelah’

Pada hari Selasa, sebelum laporan Amnesty International dikeluarkan, Cina mengeritik Amnesty dan mengatakan segala upaya untuk menekan Beijing terkait dengan penyelenggaraan Olimpiade akan gagal.

“Organisasi itu berpandangan berat sebelah terhadap Cina, jadi bisa dibayangkan apa isi laporan yang akan dikeluarkan mereka,” kata juru bicara kementerian luar negeri Cina, Jiang Yu.

Juru bicara Kementerian Keamanan Publik, Wu Heping juga mengatakan bahwa “pasukan kebebasan” Tibet berniat untuk melancarkan serangan bunuh diri sebagai bagian dari perlawanan lebih luas – langkah yang dia katakan direncanakan oleh Dalai Lama.

Cina mengatakan 18 penduduk sipil dan dua petugas polisi tewas dalam kerusuhan di Tibet dan sejumlah provinsi lainnya yang dihuni warga Tibet yang pertama kali terjadi tanggal 10 Maret.

Kelompok-kelompok Tibet di luar Cina menyebut jumlah korban jiwa mencapai 140 orang, korban yang menurut orang-orang Tibet tewas di tangan aparat keamanan Cina.

Klaim tentang korban kerusuhan itu sulit diverifikasi karena pemerintah Cina melarang sebagian besar wartawan asing datang ke daerah-daerah yang dinyatakan sensitif.
http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2008/04/080402_chinahumanrights.shtml

Surat Terbuka kepada Presiden China Hu Jintao

Posted in OLIMPIADE oleh Seputar China pada April 1, 2008

Yang mulia, Tuan Hu Jintao

Sebentar lagi negeri Tuan akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Olimpiade 2008. Sebagai sesama bangsa Asia, kami memiliki kebanggaan yang sama jika pesta olah raga dunia itu bisa berlangsung sukses. Tidak hanya sukses dalam arti teknis pelaksanaan, akan tapi juga sukses mewujudkan moto ”One World, One Dream”. Semua orang di dunia tentu bermimpi perhelatan olah raga akbar ini akan menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan, kemanusiaan, perdamaian dan sportifitas sebagaimana tercantum dalam Piagam Olimpiade.

Kekerasan yang terjadi di Lhasa, Tibet belum lama ini, telah membuyarkan semua impian tersebut. Dengan alasan untuk mengamankan Olimpiade, Tuan telah menggunakan kekuatan militer untuk memprovokasi kerusuhan, dan membunuh kaum Tibetan yang tak berdosa. Meski Tuan mengatakan jumlah yang tewas hanya 22 orang, tapi versi yang sudah diverifikasi menunjukan lebih banyak yakni mencapai 140 orang. Sudah pasti komunitas internasional lebih mempercayai versi di luar pemerintah China mengingat selama ini kekuasaan Partai Komunis China yang Tuan pimpin dibangun atas dasar kebohongan dan kejahatan. Sejak 1959, tentara Tuan telah menindas warga Tibet dan membunuh ratusan ribu rakyat dan biksu, serta menghancurkan ribuan kuil Buddha.

Sikap represif militer China dalam menghadapi aksi damai kaum Tibetan, telah memperburuk catatan hak asasi manusia negeri Tuan menjelang pelaksanaan Olimpiade. Kenyataan itu sudah pasti bertentangan dengan janji Tuan ketika mengajukan diri menjadi tuan rumah Olimpiade pada tahun 2001. Saat itu rejim komunis China berjanji akan memperbaiki kondisi HAM-nya. Kenyataannya justru sebaliknya, beberapa bulan sebelum pesta olah raga itu, Tuan semakin represif dalam menghadapi kelompok-kelompok yang berbeda pendapat dengan partai. Tidak hanya kaum Tibetan, kelompok lain juga Tuan tindas. Penangkapan besar-besaran terhadap para pengikut Falun Gong, penyerangan terhadap kaum muslim Uighur di Xinjiang Barat, peningkatan tekanan terhadap penganut Kristen Katolik, serta pengekangan terhadap jurnalis dan blogger, adalah buktinya.

Kalau Tuan berharap penyelenggaraan Olimpiade merupakan ajang untuk menunjukan kemajuan ekonomi dan sosial China serta memperbaiki citra negara, Tuan mesti mengubah kebijakan dengan lebih mengedepankan pada pluralise dan demokrasi. Waktu tinggal menghitung mundur bagi Tuan untuk memberikan kebebasan kepada rakyat Tibet, serta memperbaiki kondisi HAM di negeri Tuan secara menyeluruh. Selama Tuan masih menggunakan kekerasan dalam mensikapi perbedaan pendapat dan mengekang kebebasan berkeyakinan, kami meragukan kapasitas dan integritas pemerintah China dalam mengelar pesta olah raga dunia. Sekali lagi kami mengingatkan bahwa tanpa kebebasan Tibet, tanpa penghormatan terhadap HAM, negara Tuan tidak layak menjadi tuan rumah Olimpiade.

Free Tibet, No Human Right, No Olympics
Jakarta, 31 Maret 2008
Masyarakat Indonesia Untuk Kebebasan Tibet

Indonesian Society of A Free Tibet

Boikot Olimpiade Bergema dalam Aksi Tibet

Posted in Uncategorized oleh Seputar China pada April 1, 2008

Oleh: Ananta Dharma/ Era Baru

Masyarakat Indonesia kembali mendesak pemerintah China untuk segera menghentikan kekerasan terhadap Warga Tibet; serta meminta kepada Dewan Keamanan PBB untuk segera mengel;uarkan resolusi menyikapi masalah Tibet. Mereka juga mendesak Komite Olimpiade Internasional untuk mencabut mandat kepada pemerintah China sebagai tuan rumah penyelenggara olimpiade tahun 2008, serta meminta kepada pemerintah Indonesia untuk segera mengajukan nota protes atas kekerasan yanng terjadi di Tibet dan mempertimbangkan kembali pengiriman para atlit ke Olimpiade di Beijing Agustus mendatang.

Demikian pernyataan sikap yang dikeluarkan oleh Masyarakat Indonesia Untuk Kebebasan Tibet dalam aksinya di depan Kedubes China Jakarta pada Senin (31/3). Aksi yang diikuti sekitar 150 orang ini melibatkan sejumlah elemen masyarakat, seperti dari LBH Jakarta, Kontras, Yayasan Atap Dunia, Global Human Right Efforts (Ghure), Solidamor, Hikmah Budhi, Urban Poor Consorcium (UPC), Anand Ashram, penganut/ biksu Tantra Tibet dari Bandung, organisasi mahasiswa dan lain-lain. Mereka menilai kekerasan yang terjadi di Lhasa Tibet akibat provokasi dari militer China, yang menewaskan 140 orang itu adalah kejahatan terhadap kemanusiaan yang harus ditentang dan segera diakhiri menjelang Olimpiade.

“Free Tibet, No Human Right, No Olympics” demikian moto mereka, yang juga tertera dalam kaos hitam yang dikenakan para peserta aksi. Selain itu mereka menggelar sejumlah spanduk dan poster yang berisi kecaman terhadap rejim komunis China. “Free Tibet, Free Falun Gong, Free Uygur Moslem, Free Christian”, adalah salah satu banner yang terpasang dalam kegiatan itu. Dalam orasinya sejumlah tokoh, seperti Koordinator Kontras Usman Hamid, dan Anand Krishna mendukung perjuangan rakyat Tibet serta mengutuk pelanggaran HAM dan penindasan yang masih terjadi di China menjelang Olimpiade. Aksi ini juga dimeriahkan dengan kehadiran seorang artis, Opie Anderesta yang melakukan gerakan tarian halus dengan musik khas ala Tibet. Ada juga teatrikal yang menggambarkan kekejaman tentara China di Tibet.

Dalam pernyataan sikapnya, mereka juga mengacu pada Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia yang telah menyatakan dengan tegas bahwa semua orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak-hak yang sama. Kesemuanya dikaruniai akal dan hati nurani dan menginginkan pergaulan satu sama lain dalam persaudaraan. “Oleh karena itu, tidak diperkenankan adanya perlakuaan kejam dan penyiksaan terhadap dan penghinaan terhadap setiap orang. (Pasal 1 dan Pasal 5) Namun demikian kekerasan yang dilakukan Pemerintah Republik Rakyat China (RRC) di Tibet saat sekarang jelas menyimpangi prinsip-prinsip kemanusiaan yang diatur dalam DUHAM.”

Sebagai tuan rumah pemerintah RRC juga diminta memenuhi standar penyelenggaraan pesta olah raga dunia sesuai dengan piagam olimpiade Internasional. Pada piagam ini tuan rumah diharuskan menjunjung tinggi, bukan saja sportifitas di pertandingan, tetapi menghargai perbedaan dan hak-hak dasar manusia. Hal pertama adalah negara penyelenggara berusaha menciptakan kehidupan yang bahagia, pendidikan yang baik dan peduli terhadap etika dasar. Kedua, negara penyelenggara mempertimbangkan promosi perdamaian di masyarakat dengan pemelihataan harga diri manusia. Ketiga menegaskan bahwa olahraga adalah sebuah HAM dan praktik untuk saling memahami persahabatan, solidaritas dan keadilan. Keempat mengharuskan penghapusan diskriminasi yang tidak cocok dengan mekanisme olympiade.

Menurut mereka, prinsip-prinsip diatas adalah ukuran kelayakan menjadi tuan rumah (penyelenggara) olimpiade. Dengan demikian pemerintah RRC dapat dikategorikan telah menyimpangi standar tersebut. “Bentuk kekerasan berupa pembatasan ekspresi dan berkumpul masyarakat Tibet dibatasi, begitupun dengan kasus-kasus lainnya seperti penyiksaan terhadap praktisi Falun Gong, kelompok Kristiani, Muslim Uyshgur dan kasus Pembantaian manusia di lapangan Tiananmen tahun 1989. Belum lagi keterlibatan pemerintah RRC dalam kerusuhan di Darfur Sudan yang telah mengundang simpati dunia,” tegasnya.

Berdasarkan kenyataan tersebut diatas, mereka menganggap sudah selayaknya negara yang tidak melindungi, memenuhi dan menghormati hak asasi manusia (HAM) seperti pemerintah China tidak layak menjadi tuan rumah sebuah kegiatan Internasional seperti Olympiade. “Sudah seharusnya seluruh masyarakat dunia, terutama para atlit untuk menentang pelanggaran HAM dan memboikot penyelenggaraan Olimpiade di RRC demi tegaknya nilai-nilai kemanusiaan di Negeri Bambu,” demikian mereka mengakhiri pernyataan sikapnya.

Laman Berikutnya »